UNTUK INDONESIA
Mengenang Juanito Carlos Djamal, Alumni ITB Penggerak Nawacita
Juanito Carlos Djamal tumbuh dan berkembang di ITB. Ia dikenal sebagai salah seorang pendiri Komite Penggerak Nawacita.
Juanito Carlos Djamal (foto: Istimewa)

Jakarta - Juanito Carlos Djamal tumbuh dan berkembang di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pria kelahiran 14 Mei 1967 merasakan tahun-tahun penuh gejolak di masa Orde Baru.

Toa, sapaannya, bersama kelompok Islam dan kampus melegitimasi kekuasaan Rezim Soeharto. Kekecewaannya sudah dimulai saat organisasi kemahasiswaan di ITB menyatakan diri kembali ke kampus pada awal 1970-an. Pemicunya, peristiwa penembakan Rene L. Conrad pada 6 Oktober 1970, dan rangkaian gelombang protes dari kampus di penjuru Nusantara.

Orde Baru menggunakan politik garis keras, represi aparat berlebihan, tidak hanya pada organisasi politik yang tidak sepaham. Saat itu, pers, ormas Islam, dan organisasi kemahasiswaan telah menjadi korban.

Rezim Soeharto mengebiri demokrasi di Indonesia. Fungsi militer dimonopoli, mulai dari pembentukan dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sekarang dikenal dengan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Pembentukan lembaga teritorial dikuasai oleh ABRI, sampai tingkat desa seperti Bintara Pembina Desa (Babinsa). Kemudian pembentukan lembaga ekstrayudisial Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Laksus Kopkamtib) dengan kekuasaan menangkap dan menahan orang tanpa batas waktu. Selain itu, penggunaan UU subversif dan pasal karet 154 KUHP yang disalahgunakan pada rezim saat itu.

Laksus Kopkamtib kemudian diubah menjadi Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional atau Bakorstanas pada 1980-an. Pada rezim Orde Baru badan ini menjadi tangan untuk mengendalikan masyarakat dengan pendekatan represif atas nama ‘stabilitas nasional’. 

Teror dan pencabutan hak-hak sipil mewarnai era ini, penculikan, pembunuhan dan pemenjaraan menjadi hal yang biasa bagi aktivis yang dianggap mengancam kestabilan pemerintahan Rezim Soeharto.

Beberapa kejadian penting telah menelan korban pada saat itu,sebut saja Peristiwa Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari 1974 dan demonstrasi terhadap kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka sebagai bentuk protes atas dominasi modal asing di Indonesia.

Gerakan Anti-Kebodohan dan beberapa gerakan perlawanan muncul di era ini pula. Puncaknya, Soeharto memerintahkan menyerbu kampus ITB pada 1978, saat mahasiswa menyatakan “Tidak Mempercayai dan Tidak Menginginkan Soeharto Kembali sebagai Presiden Republik Indonesia!”.

Gerakan itu melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK. Pemerintah secara mutlak mengendalikan kegiatan dalam kampus dengan melarang mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan berpolitik. Hasilnya, Dewan Mahasiswa (DM) yang merupakan lembaga otonom beserta perangkatnya dibubarkan.

Masuk ITB

Toa masuk ITB jurusan Arsitek pada 1985, secara tidak langsung mewarisi situasi carut marut peninggalan generasi 70-an. Tersisa organisasi bentukan yang melakukan perlawanan tapi sifatnya sporadis.

Saat itu, organisasi yang dibolehkan melakukan aktivitas tidak diperbolehkan membawa agenda politik, jika melawan berarti drop out dari kuliah. Mahasiswa tidak saja dijauhkan dari politik, tetapi diasingkan dari problema yang berkembang di masyarakat.

Juanito Carlos DjamalJuanito Carlos Djamal (foto: Istimewa)

Toa merupakan sedikit mahasiswa yang biasa keluar dari pakem yang ditanam Rezim Orde Baru. Melawan pakem dan menjadi aktivis pembela masyarakat merupakan kemewahan pada masa itu. 

Menjadi aktivis pada masa itu memiliki resiko sangat berat. Harus punya keberanian, ketabahan lahir batin, dan harus cerdik dalam bergerak.

Toa tidak hanya aktif di lembaga peninggalan Dewan Mahasiswa (Dema). Ia juga aktif di Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM), dan Himpunan dan Unit Aktivitas Kemahasiswaan. 

Pria yang juga akrab dipanggil Nito itu pernah menjadi Ketua Unit Basket, aktif di Program Pengenalan Lingkungan Kampus (PPLK), yakni program orientasi mahasiswa baru selama setahun penuh.

Pada situasi krisis pada tahun 1989, sejumlah aktivis kampus ditangkap dan dipenjara. Akibat buntut dari protes kasus Talangsari Lampung pada saat penerimaan mahasiswa baru ITB tahun 1989, kemudian dikenal sebagai “Peristiwa 5 Agustus”. 

Toa pada saat itu mengambil alih kepemimpinan KPM dan melakukan gerakan perlawanan bawah tanah bersama dengan Suluh Tripambudi, mahasiswa Elektro angkatan 86, pimpinan KOMPPAK (Komite Mahasiswa Penanggulangan dan Pemulihan Aktivitas Kampus) dan organisasi kemahasiswaan bentukan FKHJ (Forum Komunikasi Himpunan Jurusan).

Represi Rezim Orde Baru di era 1980-an tidak hanya ke dalam kampus, melainkan meluas ke masyarakat. Penggusuran masyarakat atas nama pembangunan begitu masif. Kasus keji pembantaian umat Islam di Tanjung Priok. Provokasi yang berujung penyerbuan Masjid As Saadah. Diperkirakan 400 orang terbunuh atau hilang. Bahkan, hingga saat ini tidak ada kejelasan dan siapa yang bertanggung jawab.

Rezim dan kroni Orde Baru tidak segan menggunakan kekerasan dan aparat negara untuk menguasai lahan. Kasus Kedung Ombo, Kaca Piring, Cimacan, Talangsari, Badega, dan kasus lainnya yang berujung penggunaan kekuatan militer dan pemenjaraan atas nama pembangunan serta tuduhan PKI. Cara murahan menguasai aset strategis untuk kepentingan kelompok.

Rumah tempat tinggal Toa di Bukit Dago Utara merupakan salah satu basis perlawanan dan menjadi tempat berkumpul para aktivis. Tidak saja aktivis Bandung, tapi dari Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Surabaya Malang, Makasar, Salatiga, dan daerah lainnya.

Ketika terjadi penyerbuan tentara ke IAIN Sunan Gunung Djati di Jatinangor Bandung, Toa ikut serta dalam mengkonsolidasikan kasus ini menjadi Solidaritas Mahasiswa se-Bandung. Kemudian lahir organisasi tingkat kota, yakni Badan Koordinasi Mahasiwa Bandung yang lebih sering disebut “BAKOR”. Toa menjadi figur yang menonjol saat itu. sampai ada istilah, di mana ada ketidakadilan, di sanalah ia hadir.

Usai tamat dari ITB, Toa mulai merintis karier profesional. Namun, ketika terjadi puncak perlawanan terhadap Rezim Orde Baru pada 1998, memaksa Toa turun ke jalan. 

Ia salah seorang yang aktif mendukung gerakan perlawanan mahasiswa 98. Setelah Reformasi 98, Toa kembali pada kehidupan profesionalnya.

Panggilan nurani Toa kembali tergerak, ketika ancaman Orde Baru kembali muncul kepermukaan. Saat itu, pada 2014, menantu Soeharto, Prabowo Subianto, menjadi calon presiden. 

Kemudian, Toa bersama rekan sesama aktivis mendeklarasikan Komunitas Alumni ITB untuk Jokowi. Mereka memiliki keyakinan anasir Orde Baru akan membawa Indonesia setback, kembali ke masa pemerintahan otoriter.

Deklarasi dukungan Jokowi (Joko Widodo) untuk memimpin Indonesia diikuti deklarasi dari kampus lain, seperti UGM, UI, ITS, IPB, Trisakti, UKI, Moestopo, STIEB, UNWIM, Universitas Sam Ratulangi, dan kampus lain di Indonesia. Kemudian sepakat membentuk Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT). Toa yang menjadi salah satu organisator berkeyakinan ini saatnya Orang Baik Memimpin Indonesia.

Membentuk Komite Pembela Nawacita

Setelah Jokowi menang di Pemilu 2014, Toa dan beberapa teman dari organ relawan pendukung Jokowi membentuk Komite Pembela Nawacita (KPN). 

KPN dibentuk oleh beberapa unsur relawan, di antaranya Toa, Viktor Sirait, Roy Maningkas, Hilmar Farid, Dedy Mawardi, Oesmar Tanjung, Hendrik Sirait, Pitono Adhi Aloysius, Ammarsjah, Panel Barus, Ochip, Joko, Jones, Irwan Firdaus, Misno, Adrian, Robik, Juneidi, Wignyo, Nazar, dan beberapa kawan lainnya.

namun, banyak penumpang gelap yang mencoba membelokan agenda Nawacita Presiden Jokowi. Kemudian komite ini berubah nama menjadi Komite Pengggerak Nawacita (KPN) yang mencoba menerjemahkan gagasan Presiden Jokowi pada dua tema, yakni keadilan ekonomi dan membangun dari pinggiran.

ToaAlm. Toa (Jongkok bawah kelima dari kiri) (Foto: Istimewa)

KPN kemudian menyosialisasikan program pemerintah melalui “Kabar Nawacita” yang dipimpin Panel Barus dan membangun jembatan infrastruktur desa yang akrab disebut “Jembatan Nawacita”. Toa, Viktor, Misno, dan Nandang menjadi tulang punggung pembangunan jembatan ini.

Toa begitu menghayati dan menunjukkan passion-nya sedemikian rupa sehingga sering program ini diplesetkan menjadi “Jembatan Toacita”. Toa merencanakan pembangunan 10 jembatan. 

Jembatan pertama di Desa Cibatu Kec Cikembar, Sukabumi, sudah terwujud dengan pembiayaan dari kalangan sendiri. Beberapa komisaris yang berasal dari relawan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk mewujudkan jembatan ini. 

Jembatan kedua dan ketiga tertunda, Toa memfokuskan pada pembangunan Jembatan Nawacita #4, pembiayaannya mendapat bantuan dari program CSR Pertamina.

Totalitas Toa dalam menyelesaikan Jembatan Nawacita #4 terlihat jelas, ia nyaris tidak memedulikan kondisi kesehatannya. Di tengah kesibukannya yang lain, baik sebagai komisaris di PT Rolas Nusantara Medika, yang merupakan penghargaan Presiden Jokowi atas dedikasinya.

Sebagai ayah, Toa selalu hadir bagi kedua putrinya, yakni Nayla dan Rayna. Ia juga sangat aktif melakukan kegiatan konsolidasi dukungan Alumni Perguruan Tinggi dan SMA kepada Presiden Jokowi untuk sekali lagi memimpin Indonesia.

Setelah Deklarasi Alumni se-Jatim di Surabaya pada 2 Februari 2019, kesehatan Toa sempat menurun. Ia sempat dirawat di rumah sakit, namun memaksa balik ke Jakarta, karena sudah berjanji mendampingi putrinya dan janji menyelesaikan Jembatan Nawacita #4.

Selepas pulang dari Sukabumi, Toa kembali mengabaikan kesehatan. Ia lebih memilih mengikuti deklarasi Alumni SMA se-DKI Jakarta pada 10 Februari 2019 daripada memeriksa kesehatan, sembari tetap membimbing sang putri Nayla menghadapi Ujian Nasional Kelas 3 SMA.

Pada 11 Februari 2019, Toa bersama rekannya Astar Simorangkir dan Yudi berkumpul untuk membahas finishing jembatan di seputaran Rawamangun. 

Pada pukul 13.50 WIB, Toa masih sempat mengingatkan teman teman KPN untuk berkumpul sore harinya membahas persiapan peresmian Jembatan Nawacita #4 melalui pesan WhatsApp.

Toa: Broers…nanti sore/malem kita miting jam brapa ya? 

Didampingi teman setianya Astar, Toa diantar ke RS Siloam Asri di Duren Tiga. Walaupun dalam posisi mendapat serangan Jantung, ia masih sempat mengirim pesan pada pukul 18.23 WIB.

Toa: Gw otw erlangga. Mampir klinik bentar yaaw

Pesan yang menjadi yang terakhir untuk anggota KPN. Karena di perjalanan, Toa mendapat serangan jantung.

Pukul 20.03 WIB Astar menyampaikan berita duka. Kawan kita Toa telah pergi mendahului kita. Sampai detik terakhir, Toa masih sempat menitipkan penyelesaian jembatan dan menitipkan anak-anaknya kepada Astar.

Jembatan JuanitoJembatan Juanito (Foto: Istimewa)

Dedikasi dan tanggung jawab Toa yang begitu besar terhadap Jembatan Nawacita membuat kawan-kawan di KPN memberi nama “Jembatan Juanito”. 

Selain itu, beberapa teman berinisiatif menyusun obituari Juanito Carlos Djamal berupa kumpulan tulisan sahabat-sahabat Toa yang dibukukan. Buku yang didedikasikan bagi sosok Juanito Carlos Djamal yang selalu optimistis, selalu siap membantu, dan selalu membawa suasana riang gembira bagi sahabat, kawan, maupun kolega yang mengenalnya. []

Berita terkait
Refleksi Akhir Tahun Komite Penggerak Nawacita
Gabungan organisasi relawan Komite Penggerak Nawacita (KPN) mengadakan acara guna merefleksikan program pemerintahan Presiden Jokowi.
Relawan Sebut Menteri Jokowi Belum Cerminkan Nawacita
Bagi kelompok relawan nama-nama menteri yang sudah dipanggil belum memenuhi kriteria khususnya visi Nawacita.
Perempuan Kawal Nawacita Dukung Jokowi-Ma'ruf
Perempuan Kawal Nawacita dukung pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019 agar terpilih pada periode 2019-2024.
0
Wanita asal Simalungun Tewas di Sungai Asahan
Seorang wanita asal Kabupaten Simalungun, ditemukan tak bernyawa di aliran Sungai Silau, Kabupaten Asahan.