UNTUK INDONESIA
Mau Investasi Saham, Kenali Cara Mengetahui Kapitalisasi Emiten
Naiknya kapitalisasi pasar tidak bisa dijadikan indikator kepercayaan investor
naiknya kapitalisasi pasar tidak bisa dijadikan indikator kepercayaan investor. (Foto: Tagar/MarketWatch/Ilustrasi Kapitalisasi Pasar).

Jakarta - Beberapa hari lalu ada sebuah pemberitaan yang menulis kapitalisasi saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil menyalip dua emiten BUMN, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). UNVR menjadi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI)di tengah pandemi Covid-19.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2020, kapitalisasi pasar emiten barang konsumsi tercatat mencapai Rp 299,48 triliun. Sementara kapitalisasi pasar Bank Mandiri tercatat lebih kecil yakni senilai Rp 251,79 triliun. Hal yang sama juga terjadi pada Telkom dengan market cap mencapai Rp 267,47 triliun.

Pada penutupan Jumat, 23 Oktsober 2020, kapitalisasi pasar Unilever meningkat menjadi Rp 302,34 triliun. Sementara kapitalisasi pasar Telkom tercatat Rp 260,53 triliun, turun dari hari sebelumnya Rp 267,47 triliun. Sedangkan Bank Mandiri Rp 256,41 triliun, naik dari Rp 251,79 triliun.

Apakah kapitalisasi pasar bisa menjadi banchmark kuat atau tidaknya fundamental emiten. Pengamat ekonomi dan pasar modal, Siswa Rizali menilai, naiknya kapitalisasi pasar tidak bisa dijadikan indikator kepercayaan investor. Menurut dia, kondisi tersebut lebih sebagai indikator harapan investor.

"Ketika harapan itu sesuai kenyataan kinerja, maka harga atau kapitalisasi naik lagi, tapi bila harapan jauh di bawah kinerja, maka harga koreksi dan kapitalisasi menurun," ujar Siswa kepada Tagar.

Untuk itu, menurut Siswa, naiknya kapitalisasi Unilever Indonesia wajar. Sebab meski valuasi mahal, kinerjanya sangat luar biasa dan menguasai pasar fast moving consumer goods (FMCG) Indonesia. Kemudian, Unilever juga memiliki produk yang disukai masyarakat, efisiensi perusahaan yang sangat tinggi, laba konsisten, konsisten bagi dividen, dan kinerja bertahan di era pandemi Covid-19.

Terlepas dari itu, memahami kapitalisasi pasar penting bagi mereka yang ingin menggeluti investasi di bursa saham. Memahami nilai kapitalisasi pasar dalam membantu memilih saham emiten yang aman dan bisa menghasilkan cuan.

Bila memutuskan untuk berinvestasi di saham, langkah berikutnya adalah mencari penasihat investasi untuk membantu menentukan emiten yang layak dipilih. Kemudian penasihat investasi akan memberikan saran pialang saham yang harus dipilih. Pialang saham inilah yang akan menjelaskan dan memberi nasihat untuk membeli atau menjual saham suatu emiten.

Mengutip dari ajaib.co, sebelum investor menanamkan modalnya ke instrumen saham, ia memiliki perhitungan terhadap emiten yang diincar. Perhitungan tersebut hasil dari analisis teknikal, analisis fundamental, plus nilai kapitalisasi pasar. Hal ini cukup penting. Karena nilai kapitalisasi pasar saham berhubungan terhadap nilai total perusahaan di pasar yang tercermin melalui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Apa Itu Kapitalisasi Pasar

Kapitalisasi pasar, sering kali disingkat kap pasar (market cap), adalah sebuah istilah bisnis yang menunjuk ke harga keseluruhan dari sebuah saham perusahaan yaitu sebuah harga yang harus dibayar seseorang untuk membeli seluruh perusahaan. Besar dan pertumbuhan dari suatu kapitalisasi pasar perusahaan sering kali adalah pengukuran penting dari keberhasilan atau kegagalan perusahaan terbuka.

Semakin besar kapitalisasi pasar mengindikasikan perusahaan dalam kondisi baik, risiko bisnis rendah, memberikan imbal hasil, serta banyak investor yang mengincar saham tersebut. Tetapi saham dengan kapitalisasi pasar besar biasanya memiliki harga tinggi.

Sementara  saham dengan kapitalisasi pasar kecil menggambarkan perusahaan berpotensi untuk berkembang menjadi besar, harganya terjangkau, dan memberikan imbal hasil atau cuan besar. Terkadang nilainya lebih tinggi dari saham kapitalisasi besar. Namun saham kapitalisasi kecil berisiko “digoreng” atau harganya bisa sangat fluktuatif.

Kapitalisasi pasar tidak menunjukkan total aset perusahaan. Nilai kapitalisasi pasar bisa lebih besar maupun kecil dari aset perusahaan. Nilai kapitalisasi pasar juga bisa naik turun. Hal ini tergantung pada jumlah saham yang diperdagangkan serta harga saham (berdasarkan aksi korporasi, kebijakan pemerintah, kondisi politik dan ekonomi dunia, dan lainnya).

Cara Menghitung Kapitalisasi Pasar

Pada dasarnya, tidak ada suatu ketentuan atau kerangka khusus yang menentukan ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan berdasarkan kapitalisasi pasarnya. Namun di berbagai bursa efek di dunia, ada suatu standar tertentu yang digunakan secara luas untuk pengelompokan ukuran besar kecilnya perusahaan berdasarkan kapitalisasi pasarnya. Mengutip dari ilmumanajemenindustri.com, ada  tiga kelompok utama pengelompokan ukuran perusahaan berdasarkan kapitalisasi perusahaan yang umum digunakan oleh berbagai bursa efek di dunia ini yakni:

1. Perusahaan Kapitalisasi Pasar Besar (Big Caps/Blue Chip)

Perusahaan kapitalisasi pasar besar  atau sering disebut dengan perusahaan big caps atau bluechip adalah perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar lebih dari US$ 10 miliar. Contohnya, Bank Central Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM, PT Bank Rakyat  Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI, dan PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR.

2.  Perusahaan Kapitalisasi Pasar Sedang (Middle Caps/Second Liner)

Perusahaan kapitalisasi pasar sedang atau sering disebut juga dengan perusahaan middle caps atau perusahan second liner adalah perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar antara US$2 miliar hingga U$10 miliar. Contoh emiten yang masuk kategori ini, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SMGR,  PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGAS, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP).

3. Perusahaan Kapitalisasi Pasar Sedang (Middle Caps/Second Liner)

Perusahaan kapitalisasi pasar kecil atau perusahan small caps adalah perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar di antara US$ 300 juta hingga US$2 miliar. Contoh emiten yang masuk ke kategori ini adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).

Selain kelompok-kelompok kapatalisasi pasar diatas, ada juga yang kelompok micro caps yang memiliki kapitalisasi pasar US$ 50 juta hingga US$ 300 juta dan kelompok nano caps yang nilai kapitalisasi pasarnya dibawah US$ 50 juta.

Pada dasarnya, cara menghitung kapitalisasi pasar cukup sederhana. Yakni, dengan mengalikan jumlah saham yang beredar dengan harga saham per lembar yang diperdagangkan. 

Contohnya. Sebuah perusahaan terbuka memiliki saham yang beredar sebanyak 1.000.000.000 lembar. Harga saham yang diperdagangkan adalah Rp 500,- per lembar. Berapakah lapitalisasi Pasar atau market cap emiten tersebut?

Jawaban.  Kapitalisasi pasar = jumlah saham yang beredar x harga saham yang diperdagangkan.
Kapitalisasi pasar = 1.000.000.000 lembar x Rp 5.000,-
Kapitalisasi Pasar = Rp 5.000.000.000.000,- (Rp 5 triliun)

Jadi kapitalisasi pasar emiten tersebut adalah sebesar Rp 5 triliun. []

 

Berita terkait
BEI: IHSG dan Kapitalisasi Pasar Sepekan Ditutup Positif
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, pasar modal Indonesia memperlihatkan pergerakan yang variatif, namun masih menunjukkan data positif.
Kapitalisasi Pasar Unilever Salip Emiten BUMN, Hanya Sesaat?
Sulit mengukur jangka waktu naiknya kapitalisasi pasar emiten yang menyalip emiten lain seperti Unilever yang mengungguli Bank Mandiri dan Telkom.
Pengamat: Wajar Kapitalisasi Pasar Mandiri Disalip Unilever
Pengamat ekonomi dan pasar modal, Siswa Rizali menilai tersalipnya kapitalisasi pasar Mandiri oleh Unilever merupakan hal wajar.
0
Mau Investasi Saham, Kenali Cara Mengetahui Kapitalisasi Emiten
Naiknya kapitalisasi pasar tidak bisa dijadikan indikator kepercayaan investor