UNTUK INDONESIA
Masyarakat Indonesia Melompat ke Filming Society
Pemprov Jabar jalankan program terkait minat baca sebagai upaya tingkatkan literasi masyarakat yang terpuruk karena sudah lompat ke filming society
Ilustrasi. (Foto: smartertravel.com).

Jakarta - Bunda Literasi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, mengatakan bahwa kebiasaan membaca pada anak muncul karena kebiasaan membaca sejak dini dalam keluarga. Jika terbiasa membaca sejak dini, anak-anak ini dinilai mampu membuat learning society atau masyarakat pembelajar hingga dewasa (Atalia Sebut Kebiasaan Membaca Dimulai Sejak Dini, Tagar, 6 Juli 2020).

Persoalan besar di negeri ini adalah masyarakat belum sampai pada reading society (masyarakat gemar membaca) sudah melompat ke filming society (penggemar film), terutama menonton telenovela, sinetron dan acara-acara hiburan. Sekarang keranjingan menonton Drakor (drama Korea).

Ini jadi ironis karena di negara-negara maju masyarakat lebih dahulu gemar membaca yang selanjutnya menulis (writing society). Kegemaran menulis di Indonesia ada di titik nadir. Ini terbukti dari keengganan berkirim surat dan kartu pos. Alasan disebut karena ada e-mail dan media sosial. Tapi, mengapa di negara lain, sebut saja Singapura denga densitas telepon rumah (fixed telephone) dan telepon pintar hampir 100% tapi berkirim surat via pos tetap banyak.

Itu artinya bukan karena telepon pintar atau media sosial, tapi karena masyarakat Indonesia tidak melewati tahapan yang runut. Belum sampai pada reading society masyarakat sudah melompat ke filming society. Padahal, alur yang runut adalah reading society, writing society baru kemudian filming society.

Agaknya, PT Pos Indonesia dan Kemendikbud dan instansi serta institusi terkait perlu meningkatkan kegemaran membaca dan menulis (surat). Filatelis (penggemar benda-benda pos, terutama prangko) di Indonesia juga sangat tidak diminati.

Penulis pernah ikut antre di salah satu kantor pos di Singapura di awal tahun 1990-an untuk membeli sampul hari pertama (SHP/first day cover) salah satu serial prangko Singapura. Loket baru buka pukul 08.00 waktu setempat, tapi belum pukul 07.00 antrian sudah mengular di depan kantor pos. Di belakang saya seorang pria dengan potongan rambut crew cut. Ternyata dia seorang tentara Singapura. Dia bersama ibunya. Beberapa tahun kami saling berkirim surat dan tukar prangko, belakangan dia sekolah ke luar neger jadi korespondensi terputus.

Tanpa gemar membaca pengetahuan akan terbatas sehingga imajinasi untuk menulis surat pun sangat terbatas. Kondisinya kian runyam karena penguasaan kosa kata yang sangat rendah serta kemampuan memilih diksi juga yang sangat rendah. Di KBBI diksi disebut sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Langkah Atalia bersama Pemprov Jabar untuk mendorong minat baca agar literasi masyarakat juga naik sangat tepat karena tingkat membaca yang rendah memiskinkan nalar. Kita bisa lihat orang menelepon bertele-tele yang terkadang berputar-putar tidak sampai ke tujuaan.

Pemerintah juga didorong untuk membuat regulasi tentang sinetron dan acara-acara hiburan (infotainment) tidak mengumbar selera rendah dengan balutan hedonisme (KBBI: pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup).

Disebutkan oleh Atalia, pemerintah daerah baik provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota di Jabar sudah menggulirkan berbagai program untuk mendekatkan buku kepada masyarakat, antara lain memberdayakan perpustakaan desa, perpustakaan sekolah-sekolah, hingga program Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar yakni Kolecer (Kotak Literasi Cerdas) dan Candil (Maca Dina Digital Library).

Lagi-lagi langkah yang benar untuk meningkatkan literasi masyarakat. Soalnya, literasi (KBBI: kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup) yang rendah sangat mudah dipengaruhi hoaks yaitu informasi yang salah atau menyesatkan. Bunda Atalia sendiri mengajak masyarakat bijak bermedia agar tidak jadi korban hoaks.

Ada pertanyaan yang menggelitik: Apa perbedaan orang bule wisata ke pantai dengan orang Indonesia?

Kita bisa lihat banyak bule yang berjemur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia memutar musik keras-keras sambil berjingkrak-jingkrak. Maka, pantai yang ramai akan dihindari wisatawan mancanegara (Wisman). []

Berita terkait
Atalia Sebut Kebiasaan Membaca Dimulai Sejak Dini
Atalia sebut kebiasaan membaca pada anak muncul karena membaca sejak dini dalam keluarga sehingga anak-anak bisa jadi masyarakat pembelajar
Atalia Sebut Cerdas Bermedia Tidak Termakan Hoaks
Di tengah pandemi Covid-19 yang mendera tetap saja ada yang menyebarkan hoaks, Atalia ajak masyarakat cerdas bermedia agar tidak termakan hoaks
0
Masyarakat Indonesia Melompat ke Filming Society
Pemprov Jabar jalankan program terkait minat baca sebagai upaya tingkatkan literasi masyarakat yang terpuruk karena sudah lompat ke filming society