UNTUK INDONESIA
Makna Kehilangan dalam Lukisan Arya di Bali
Setiap kita memiliki pengalaman berbeda dalam menghadapi persoalan yang datang. Demikian pula dengan Arya yang terpantul dalam lukisannya di Bali.
Arya (tengah) bersama GM Michael Koth (kanan). Arya, pelukis pemecah rekor Muri 1000 lukisan 30 Hari di Art Exhibition di Intercontinental Bali Resort, Senin, 2 Desember 2019. (Foto: Tagar/Nila Sofianty)

Bali - Setiap kita memiliki pengalaman berbeda-beda dalam menghadapi setiap persoalan yang datang silih berganti. Pun faktanya hidup selalu bergandengan dengan masalahnya, dan kita berusaha sekuat tenaga menyelesaikannya.

Cara menghadapi persoalan juga pada masing-masing orang berbeda. Ada saat banyaknya persoalan berat yang dimiliki seseorang menyebabkan gangguan mental seperti stres dan depresi.

Tidak jarang mereka mengabaikan hal tersebut dan merasa dirinya tidak memerlukan bantuan orang lain. Kenyataannya, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Apabila terganggu, tentu dapat berdampak buruk terhadap keseharian dan sangat disarankan untuk mulai berpikir untuk kapan harus pergi ke psikolog. Dengan menemui seorang psikolog, kita bisa memahami diri sendiri dan setidaknya mengetahui apa akar masalahnya dan mendapatkan solusi. Itulah satu dari sekian banyak tugas seorang psikolog.

Selain itu, pergi mencari bantuan psikolog juga mencegah kita mendiagnosis diri sendiri yang mungkin saja dapat berdampak negatif karena salah persepsi.

Tapi bagaimana jika yang memiliki persoalan batin adalah psikolog? Ia yang di mata masyarakat lebih pintar mengolah mental menghadapi persoalan hidup. Ia yang dianggap sudah paham benar bagaimana mencari solusi persoalan mentalnya sesuai teori yang didapat selama studinya.

Toh, terjangan masalah hidup pada seorang psikolog pun benar benar membuatnya tak berdaya dan sukses menjungkirbalikkan tujuan hidupnya yang sudah mapan terbina. Tapi selalu ada hikmah di balik tiap peristiwa dalam diri seseorang yang boleh jadi bisa dijadikan pelajaran hidup berharga tak hanya buat dirinya sendiri tetapi bagi orang lain.

Lewat lukisan saya berhasil melalui masa-masa kritis saya merasa kehilangan.

Lukisan AryaArya (kanan) bersama GM Michael Koth. Arya, pelukis pemecah rekor Muri 1000 lukisan 30 Hari di Art Exhibition di Intercontinental Bali Resort, Senin, 2 Desember 2019.

Seperti yang dialami oleh Arya Trimni Putra, seorang psikolog asal Surabaya yang saat diterjang badai masalah tengah berada di puncak kariernya sebagai seorang psikolog sukses di tahun 2001.

Arya memilih karya seni sebagai ungkapan hasrat yang dituangkan seiring perjalanan waktu yang memberi ruang kepadanya untuk meluapkan kekecewaan pada persoalan hidup hingga bisa mengeksplorasi dan menantang bidang kreativitasnya.

Hingga saat ini, ia terdorong terus mengeksplorasi seninya dan memilih menjadi seniman penuh waktu dan meninggalkan profesinya sebagai seorang psikolog. Bahkan totalitasnya tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) berhasil melukis 1000 karya lukisan abstrak selama 30 hari pada Maret 2019.

Totalitasnya sebagai seniman lukis diniatkan Arya sebagai ungkapan rasa syukur ia berhasil melewati badai hidupnya dan memberikan hasil karyanya untuk berbagi kepada sesama dan memberikan kembali karya seninya kepada masyarakat.

"Lewat lukisan saya berhasil melalui masa-masa kritis saya merasa kehilangan sebagai seorang anak, seorang suami dan seorang ayah," tutur Arya saat membuka Art Exhibition di Intercontinental Bali Resort, Senin, 2 Desember 2019. 

Oleh karenanya ia selalu mempersembahkan sebagian karya seninya untuk berbagi kepada sesama. Untuk karyanya yang terjual selama pameran sebulan penuh itu, sebagian hasil penjualan disumbangkan untuk Panti Asuhan Salam Bali.

“Dalam seni, saya percaya bahwa manusia unggul dan bahwa emosi tidak dapat diganti, ditiru atau diproduksi oleh mesin. Proses menciptakan secara terus-menerus dalam waktu singkat akan menjadi tantangan nyata," ujar Arya menjelaskan semangatnya saat itu dalam mencipta 1000 karya selama 30 hari.

Ia sempat berpesan kepada para seniman untuk jangan kalah dengan mesin karena sekarang mesin sudah sangat canggih. Menurutnya kalau kita tidak bisa berperang melawan mesin maka kita akan tergilas. Tapi, manusia punya kelebihan dalam berkarya, setidaknya kita punya perasaan dan mesin tidak.

Dalam seni, saya percaya bahwa manusia unggul dan bahwa emosi tidak dapat diganti.

Saat itu, selama pameran berlangsung, seniman kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu melukis secara live selama 12 jam, tepatnya dimulai dari pukul 10.00 hingga 22.00 Wita direkam kamera CCTV. Terciptanya 1000 lukisan abstrak dalam 30 hari itu juga merupakan tanggapan Arya terhadap keadaan masyarakat modern dewasa ini, yang mana kian diperbudak oleh mesin dan kecanggihan teknologi.

Arya mengaku per hari ia dapat memecahkan hingga 135 lukisan dengan menghabiskan sekitar 140 cat akrilik. Pria yang kini telah menetap di rumah sahabatnya di Denpasar ini mengaku sangat beruntung bisa menemukan dunia barunya atas dukungan sahabatnya, Mekel Kamajaya, seorang desainer grafis yang dikenalnya sejak beberapa tahun silam. Sahabatnya itu pulalah yang membuat rekor itu terjadi.

Penghargaan MURI saat itu diserahkan Osmar Susilo Semesta, Wakil Direktur MURI. Hingga saat ini rekor tersebut belum terpecahkan dan memang belum pernah ada pelukis yang mencatatkan namanya melukis sebanyak 1000 karya dalam 30 hari terus-menerus. Dan 1.000 karya lukisan abstrak tersebut masing-masing mempunyai ceritanya tersendiri.

Ia juga mempersembahkan karya seninya itu untuk orang tua, istri, dan anak pertamanya dalam kandungan yang meninggal dalam waktu berdekatan. Arya juga menjual lukisannya dan sebagian disumbangkan ke Yayasan Sayangi Bali untuk membantu bayi-bayi terlantar, anak disabilitas. dan kurang mampu.

Arya pun memahami sebagai seorang manusia dengan hasrat tidak terbatas, dengan komitmen memberikan yang terbaik dari dirinya dengan harapan dapat menginspirasi masyarakat dengan semangat dan energi yang ia miliki.

Saya pikir kisah hidup dan kegigihan Arya sebagai pelukis sangat menginspirasi tiap orang.

Pencapaian atas kegigihan Arya sebagai seniman lukis saat ini bermula saat ia depresi mendalam pada tahun 2001. Saat itu dalam waktu yang hampir bersamaan ia kehilangan ibu dan istri untuk selamanya dalam waktu yang berdekatan. Bahkan saat itu sang istri tengah hamil.

Saat itu rasa depresi Arya tak berujung ia serasa berada dalam lubang gelap, dalam dan kosong, hidupnya hampa tak berarah dan tak berbentuk.

Dalam keterpurukan itu, seorang teman memberinya sebuah kanvas kosong dan ia pun mulai menorehkan cat warnanya di atas kanvas. Tidak disangka, setelah melihat hasilnya, Arya merasa terobati dan ingin berkomitmen untuk menjadi seniman penuh waktu.

Melalui karya lukis Arya ingin mendedikasikan luapan cintanya dan rasa kehilangannya di masa lalu. Itulah Arya yang hingga kini terus berkomitmen akan terus memainkan kuasnya di atas kanvas sebagai ungkapan terima kasih karena lewat media itu ia berhasil mengalahkan depresinya. Ia juga akan terus berbagi indahnya seni lukis meski hasilnya sebagian besar bisa diartikan sebagai bentuk "pahit getirnya" makna kehilangan.

Tak hanya membagi bentuk keindahan sebuah lukisan, kepada para pecinta dan penikmat seni lukis, Arya juga ingin berbagi ilmu lukisnya kepada setiap orang bahkan orang yang belum pernah sama sekali melukis dan orang-orang yang merasa tidak bisa menggambar.

Arya menjadi salah satu pelukis yang cukup unik. Dia sebelumnya pernah berkolaborasi melukis bersama penyanyi Cakra Khan di atas panggung. Ia butuh waktu 10 menit untuk menyelesaikan satu lukisan bersamaan berakhirnya lagu yang dibawakan Cakra Khan. Pun di Yogyakarta, ia juga melukis penyanyi dangdut ‘Jaran Goyang’ Nella Kharisma.

Bahkan ia pernah melukis wajah BJ Habibie dengan nuansa lukisan pop art dan melukis Presiden Joko Widodo dan ibu negara Iriana Jokowi Widodo di hadapan mereka langsung.

Lewat salah satu acara akhir tahun yang dihelat Hotel Intercontinental Bali bertajuk Art Vaganza Arya berbagi ilmu lukisnya. Menamai pameran lukisannya di hotel yang dipimpin oleh General Manager Michael Koth ini, dengan judul "Celebration of Life" Arya membuka kelas belajar melukis buat para tamu hotel dan pengunjung lainnya baik wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Ia juga menjamin murid kelas melukisnya akan langsung bisa melukis dalam waktu 2 jam belajar. "Pada dasarnya semua orang bisa melukis, 2 jam belajar pasti bisa. Mungkin awalnya bisa melukis pemandangan yang menurut saya yang paling memiliki tingkat kesulitan ringan, baru setelah itu bisa melukis objek manusia yang lebih susah."

Buat para tamu hotel dan pengunjung lain, kelas melukis khusus oleh seniman pemecah rekor dunia ini tentu bisa menjadi pengalaman liburan akhir tahun yang berkesan.

Di hotel ini juga ia mengaku bangga bisa memamerkan 30 hasil karya barunya yang kali ini banyak menampilkan sosok seorang wanita, dalam Art Exhibition "Celebration of Life" yang berlangsung dari tanggal 2 Desember 2019 hingga 7 Januari 2020.

Sebanyak tiga puluh karya seni karya Arya ini dipajang di sekitar area resor yang luas di Jimbaran ini. Pameran seni yang mengangkat tema perayaan akhir tahun "Artvaganza" ini terinspirasi hubungan antara seni dan semangat perayaan akhir tahun.

“Saya merasa sangat terhormat dan bangga bisa bekerja sama dengan InterContinental Bali Resort di musim perayaan istimewa ini. Tema ‘Celebration of Life’ ini terinspirasi oleh pencapaian InterContinental Bali Resort dalam perjalanannya yang ke-26 tahun melalui pencapaian dan pengakuannya yang luar biasa serta kekaguman akan kehidupan di Pulau Seribu Dewa ini,” tutur Arya.

Bagi Arya, Bali adalah rumah keduanya yang selalu menginspirasi dan memukau. "Layaknya InterContinental Bali Resort, yang menawarkan para tamu cara tercepat untuk mengenal Bali yang tercermin melalui desain, karya seni, aktivitas, dan keramahtamahannya."

Sebagai General Manager Intercontinental Bali Resort, Michael Koth yang turut hadir dalam acara pembukaan pameran mengaku bangga bisa bergandeng tangan dengan seniman seperti Arya untuk berbagi kebahagiaan kepada orang lain. "Saya pikir kisah hidup dan kegigihan Arya sebagai pelukis sangat menginspirasi tiap orang dan kami senang bisa turut bekerja sama untuk berbagi kebaikan dan kebahagiaan kepada sesama," tutur Michael Koth.

Untuk itulah, lanjut Michael dalam sejumlah acara perayaan akhir tahun di resort yang sudah menerima beberapa penghargaan dunia ini hasilnya akan disumbangkan untuk sejumlah panti asuhan. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Cerita Abdi Dalem di Makam Raja Mataram Kotagede
Kompleks makam Raja-raja Mataram di Kotagede Yogyakarta siang itu cukup tenang. Matahari bersinar cerah meski panasnya tak langsung menimpa tanah.
Ahok dan Tionghoa Kelas Glodok
Ahok dibilang Tionghoa kelas Glodok. Bagaimana rasanya menjadi orang Indonesia keturunan Tionghoa yang sekaligus menjadi pengusaha kelas Glodok?
Titik Balik Denny Siregar
Denny Siregar, influencer paling berpengaruh di media sosial Indonesia ini mengungkap sisi-sisi paling pribadi dalam hidupnya. Simak wawancaranya.
0
‎Ramainya Tempat Ngabuburit di Kota Tegal saat PSBB
Hingga hari kedelapan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Tegal tidak berjalan efektif.