UNTUK INDONESIA
Makna Kebaikan Baru di Mata Pekerja Wanita Bantaeng
Bantaeng menggunakan istilah kebaikan baru menyikapi pandemi Covid-19. Pekerja wanita setempat bergegas menyesuaikan diri di rutinitasnya.
Kebaikan baru menjadi semangat baru bagi masyarakat Bantaeng, Sulawesi Selatan, untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Tak terkecuali dengan para wanita pekerja setempat, langsung menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru di kebaikan baru. (Foto: Dok Pribadi Kasmi).

Bantaeng - Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, lebih suka menggunakan istilah kebaikan baru ketimbang new normal menyikapi pandemi Covid-19. Beda istilah, namun tujuannya sama, yakni mengarahkan perilaku masyarakat untuk mempedomani protokol kesehatan. 

Dengan kebaikan baru, rutinitas harian masyarakat dibentuk menjadi sebuah upaya pencegahan bersama penyebaran Covid-19. Menyasar seluruh sektor kegiatan dan lapisan masyarakat. Tak terkecuali kalangan pegawai kantoran dan pekerja lapangan. 

Per tanggal 8 Juni 2020, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin menyampaikan kepada Tagar perihal kebaikan baru yang akan diterapkan di wilayahnya. Bukan new normal melainkan kebaikan baru. Sebuah istilah yang disematkan untuk mengawali hari-hari berdamai dengan Covid-19 di Kabupaten Bantaeng. 

Malam itu, tepatnya di posko induk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, pemimpin kabupaten bertajuk Butta Toa ini membeberkan perihal kebaikan baru yang akan diterapkan di masa pemulihan ragam sektor, mulai pariwisata, sosial budaya, ekonomi, hingga keagamaan.

New normal itu adalah kebaikan baru dari Bantaeng.

Kebaikan Baru Bantaeng2Bupati Bantaeng Ilham Azikin membeber kebaikan baru menghadapi pandemi Covid-19. Bantaeng lebih suka menggunakan istitah kebaikan baru ketimbang new normal. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng mencoba menerjemahkan new normal sebagai kebaikan baru. Istilah tersebut diyakini lebih mudah untuk dipahami ketimbang new normal. Bahwa segala bentuk aktivitas harus dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan guna terhindar dari ancaman virus corona. Kurang lebih itulah yang disebut dengan sebuah kebaikan.

"New normal membutuhkan narasi penjelasan yang cukup panjang, khususnya bagi masyarakat awam. Akhirnya kami putuskan buat istilah sendiri yakni kebaikan baru. New normal itu adalah kebaikan baru dari Bantaeng," kata Ilham

Bagi Ilham, new normal masih debatable. New normal membutuhkan pemenuhan-pemenuhan indikator. Dengan istilah kebaikan baru, prosesi penerjemahan new normal diyakini lebih mudah untuk diterima masyarakat.

"Kami di mana-mana berbicara dengan masyarakat awam, apa sih new normal itu? Dan memang secara aturan, new normal membutuhkan indikator yang harus di zona ini, harus terpenuhi ini, harus melakukan ini. Sehingga kami putuskan bersama-sama new normal bagi kami di Bantaeng adalah kebaikan baru," bebernya. 

Bupati bergelar doktor pemerintahan itu menyebut, saat ini konsentrasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng adalah melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai istilah dan proses penerapan kebaikan baru.

Jika new normal masih sulit ditelaah masyarakat, maka dipastikan pemerintah akan kehabisan energi hanya untuk memberi penjelasan. Sementara penyebaran corona terus mengintai di segala aktivitas masyarakat.

"Yang paling penting dalam pemberlakuan kebaikan baru itu adalah proses edukasi, sama new normal itu harus diawali proses edukasi. Nah kalau proses edukasi itu terlalu lama kami menjelaskan kontekstual secara istilah, kami coba buat istilah yang membumi dan lebih Indonesia, sehingga tidak terlalu lama menghabiskan energi di situ (menjelaskan). Tetapi lebih kepada edukasi aplikatif, seperti jaga jarak, cuci tangan, pakai masker. Dan itu kan konsep new normal," urai Ilham.

Dia berharap masyarakat bisa menerima istilah ini. Sehingga tak ada lagi yang memahami konsep new normal dengan kembali normal. Tentunya segala aktivitas seperti nongkrong atau berkumpul ramai-ramai, jarak antarorang tidak diatur, mengumpulkan orang banyak, tidak lagi dilakukan ke depannya.

Pun demikian dengan rutinitas kalangan pegawai kantoran maupun pekerja kantor. Yang semula, di awal pendemi, harus dilakukan di rumah atau work form home (WFH), kini dengan bingkai kebaikan baru balik work from office (WFO)

WFH Vs WFO

Kebaikan Baru Bantaeng3Andi Waliana Syaggaf, dosen yang sehari-hari berangkat ke tempat kerja dengan menggunakan fasilitas umum. Wanita pekerja ini punya kebiasaan baru di masa kebaikan baru menghadapi pandemi Covid-19. (Foto: Dok Pribadi Wali)

Kasmiati Saleh, perempuan 35 tahun yang bekerja sebagai staf di lingkungan Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng. Menjalani masa WFH dari rumah mulai bulan Maret hingga April 2020 lalu. 

Menurut Kasmi, begitu ia disapa, pada dasarnya baik WFH maupun WFO sama-sama memiliki sisi baik dan kekurangan masing-masing. Dengan WFH, bekerja bisa lebih santai dengan menikmati cemilan dan kopi buatan sendiri.

"Pakaiannya juga cukup enjoyable, banyak yang bisa diselesaikan selama WFH karena kerja bisa sampai tengah malam, istirahatnya juga semau diri sendiri, namun butuh jaringan internet yang memadai," kata Kasmi kepada Tagar, Selasa, 23 Juni 2020

Menjalankan kewajiban sesuai tugas, pokok dan fungsi (tupoksi) sebagai aparatur sipil negara (ASN) di rumah tak ada masalah. Misalnya pekerjaan berkenaan dengan administrasi kantor, maka WFH bukan persoalan. 

"Namun, jika berkenaan dengan kegiatan lapangan, ini yang kadang sulit karena harus ke lokasi," ujar dia.

Saat ini, setelah kebaikan baru diterapkan di Kabupaten Bantaeng, maka beberapa tatanan gaya baru berkantor pun dijalankan Kasmi dan seluruh pekerja yang telah kembali bekerja di kantor masing-masing. 

Cukup selalu pakai masker dan jaga jarak, sekalipun dengan konsumen. Dan yang paling utama rajin mencuci tangan.

Meski kembali menjalani rutinitas sama seperti saat sebelum pandemi namun protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 tetap diterapkan. Demi diri mereka, keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

"Kembali ke kantor tapi sebisa mungkin tetap safety. Tipsnya mengatur pekerjaan yang perlu diselesaikan di kantor, seperti persuratan yang harus tandatangan dinas, dan melakukan pekerjaan lainnya yang masih bisa dikerja di rumah, seperti yang berkenaan dengan aplikasi data, koordinasi via telepon, rapat koordinasi lewat telekonferensi dan lain-lain," beber Kasmi.

Kebaikan Baru Bantaeng4Wali berpose dengan mahasiswa didikannya beberapa waktu sebelum pandemi. Kebiasaan baru membuatnya bersemangat menghadapi Covid-19. (Foto: Dok Pribadi Wali)

Perihal pekerjaan bidang lapangan yang disebut Kasmi lebih riskan dipaparkan oleh St. Jamiah Al Mujaadilah. Dirinya selaku pekerja lapangan, tidak biasa WFH sehingga sulit mengimplementasikannya.

"Dibanding WFH, WFO memang lebih efektif, apalagi buat saya yang seorang pekerja lapangan," kata perempuan yang berprofesi sebagai tenaga marketing itu.

Bunda Jamiah, sapaan akrab wanita karir berusia 46 tahun ini telah bekerja selamat kurang lebih enam tahun sebagai tenaga marketing. Setengah dekade yang dijalaninya di lapangan membuatnya kikuk bekerja dari rumah. Namun, seiring berlakunya kebaikan baru ia pun mengadaptasikan diri.

Dulu, sebelum pandemi, waktu produktif kerjanya dimulai pukul 08.00 hingga 20.00 Wita. Sekarang, ia hanya bekerja mulai pukul 08.00 sampai siang, sekitar pukul 14.00 Wita.

Ia juga mengurangi aktivitas keluar rumah, selain untuk urusan pekerjaan dan hal mendesak lainnya. "Cukup selalu pakai masker dan jaga jarak, sekalipun dengan konsumen. Dan yang paling utama rajin mencuci tangan," ucapnya

Bagi Bunda Jamiah, profesi marketing butuh untuk terus turun ke lapangan karena sasaran utama pekerjaannya adalah bertemu orang sebanyak mungkin.

"Ya karena kunci pekerjaan marketing adalah pertemuan dan presentase produk. Kami juga harus mengenali sasaran atau objek termasuk sekitar rumah konsumen. Itu cukup sulit jika kami harus menerapkan WFH saja," katanya.

Lain lagi dengan Andi Waliana Syaggaf, perempuan kelahiran Soppeng, 7 November 1988 yang bekerja lintas daerah. Ia adalah seorang dosen di Kabupaten Bulukumba. Tepatnya di Universitas Muhammadiyah Bulukumba yang berjarak sekira satu jam dari pusat kota Bantaeng.

Perempuan pecinta drama Korea ini menggunakan fasilitas umum yakni pete-pete, sebutan untuk mobil mikrolet yang mengantar penumpang antar daerah, untuk menuju tempatnya bekerja.

"Sudah menerapkan kebiasaan baru. Pakai masker di kantor, di tas ada hand sanitizer, mulai yang model cair sampai gel. Kemudian bawa tissu alkohol, jaga jarak saat bicara, makan makanan bergizi, terutama buah dan minum vitamin. Pokoknya kalau dari luar, semua barang semprot disinfektan, habis itu masuk rumah langsung ganti baju dan mandi," kata perempuan yang sehari-hari disapa Wali ini. []

 Baca juga: 

Berita terkait
Berkah Pandemi Bagi Pedagang Masker Kain di Bantaeng
Pedagang masker di Bantaeng justru meraup keuntungan di tengah wabah Covid-19.
Bupati Bantaeng: Masa Pandemik Bukan Untuk Liburan
Bupati Bantaeng Ilham Azikin meminta warganya untuk tidak salah mengartikan diliburkan selama masa krisis corona ini.
Sertijab di Polres Bantaeng Sesuai Protokol Covid-19
Sertijab di Polres Bantaeng mengikuti standar protokol kesehatan pencegahan covid-19 seperti gunakan masker dan cuci tangan.
0
Makna Kebaikan Baru di Mata Pekerja Wanita Bantaeng
Bantaeng menggunakan istilah kebaikan baru menyikapi pandemi Covid-19. Pekerja wanita setempat bergegas menyesuaikan diri di rutinitasnya.