UNTUK INDONESIA
Makan Kerupuk, Cara Pendidik di Bantaeng Usir Jenuh
Puluhan kepala sekolah di Kabupaten Bantaeng mengikuti beragam lomba, termasuk lomba makan kerupuk, untuk mengusir jenuh selama pandemi.
Dua kepala sekolah di Kabupaten sedang mengikuti lomba makan kerupuk dalam rangka peringatan HUT ke-75 RI, Rabu, 19 Agustus 2020. Kegiatan ini sekaligus untuk menghilangkan jenuh akibat pandemi. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka).

Bantaeng – Puluhan orang pria dan wanita terlihat gembira siang itu, Rabu, 19 Agustus 2020. Sebagian besar mengenakan setelan pakaian hitam-merah. Tak jarang terdengar tawa riuh dari mereka.

Suasana siang cukup gerah meski mendung kelabu menggantung di langit. Namun gerah itu seolah bukan halangan untuk mereka tetap berbahagia menyambut HUT ke-75 Republik Indonesia.

Mereka adalah para kepala sekolah yang bertugas di Kabupaten Bantaeng, yang berkumpul dalam rangka memeringati HUT RI di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng dengan beragam perlombaan.

Beberapa perempuan paruh baya berusaha meraih kerupuk yang digantung menggunakan tali raffia. Tak jarang mulut mereka terbuka lebar. Jika berhasil meraih kerupuk, suara renyahnya saat tergigit terdengar oleh penonton yang berada tidak jauh dari para peserta lomba makan kerupuk itu.

Tapi, bukan hal yang mudah untuk meraih kerupuk yang terus bergoyang, terkadang terlontar naik turun atau membuat para peserta terpaksa berputar-putar.

Kegiatan Internal

Muhammad Haris, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, menyebut bahwa kegiatan yang diikuti oleh para kepala sekolah pada jenjang SD dan SMP itu merupakan kegiatan internal.

Kegiatan hari itu adalah sebuah perhelatan sederhana untuk membangun chemistry atau kekompakan dan kebersamaan antarsesama pengajar, khususnya para kepala sekolah (kepsek).

"Kegiatan tersebut pada dasarnya memang diinisiasi oleh para kepsek, selain karena ini masih momen semarak kemerdekaan juga mengobati kejenuhan beberapa bulan terakhir selama pandemi," kata Haris saat ditemui di ruangannya.

Selain lomba makan kerupuk, beberapa lomba lain yang dilaksanakan adalah memasukkan paku ke botol, pecahkan balon dan lain-lain.

Lomba Makan Kerupuk Disdik BantaengSuasana lomba makan kerupuk yang dilaksanakan di halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, Rabu, 19 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka).

Lomba tersebut diusulkan oleh para kepsek. Segala bentuk kegiatannya disusun secara sederhana sekaligus menyiapkan masing-masing hadiah yang sangat sederhana pula.

Tidak ada yang istimewa, bahkan hadiah disiapkan sendiri. Jadi yang sebenarnya kita hadirkan pada momentum itu adalah membangun chemistry, semangat, saling dukung agar tercipta energi baru, kita butuh itu, kita tak pernah tahu kapan pandemi berakhir.

Sebuah chemistry, kata Haris sangat diperlukan saat ini. Sebab mereka adalah orang-orang yang terlibat dan terjun langsung bergelut dengan rutinitas di masa pandemi.

Menurutnya, dengan menyelipkan sebuah momen untuk menebar semangat dan menghasilkan energi positif melalui pertemuan dan lomba-lomba, akan sangat baik bagi mereka. Apalagi sampai saat ini belum ada gambaran kapan masa-masa ini akan berakhir.

Siap Pembelajaran Tatap Muka

Meski saat ini hamper seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Bantaeng masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), namun kata Haris, Disdikbud Bantaeng telah mempersiapkan strategi jika sewaktu-waktu tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bantaeng menerbitkan rekomendasi untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka..

Ia menyebutkan sekolah di beberapa daerah tertentu cukup layak untuk memulai aktivitas itu. Salah satunya adalah sekolah di Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng.

Haris menjadikan sekolah di Kecamatan Gantarangkeke sebagai contoh lantaran sejauh ini di sana tidak ditemukan kasus positif Covid-19.

"Kita bisa pertama kali, misalnya, di kecamatan Gantarangkeke, karena di sana tidak ada pasien yang diawasi, belum ada yang terkonfirmasi dan sebagainya," ucapnya.

Dia melanjutkan, rekomendasi pembelajaran tatap muka baru bisa diterbitkan seusai tim gugus tugas melakukan pemetaan wilayah.

Eks anggota tim Pengembangan Kurikulum Direktorat PSMA Kemendikbud ini menyebut beberapa skenario yang harus diterapkan.

Pertama, kata dia, adalah pemetaan lanjutan hasil analisis tim gugus tugas C19 Bantaeng.

Kadisdik Kabupaten Bantaeng HarisMuhammad Haris, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka).

"Jika ada rekomendasi aktivitas tatap muka dari gugus tugas. Pertama kita petakan wilayah yang dideteksi dengan benar bagaiamana C19 di sana. Misalnya di kecamatan itu, wilayah mana sebarannya dan sebagainya," jelasnya.

Selanjutnya, Haris menyebut bahwa skema kedua yang perlu dilakukan yaitu pemeriksaan kepada seluruh tenaga pendidik di wilayah tersebut.

"Jika aktivitas di sekolah dimulai, maka yang perlu dilakukan tahap kedua adalah pemeriksaan seluruh guru. Misal tadi di Gantarangkeke, maka semua guru ramai-ramai ke puskesmas," ujarnya.

Termasuk dalam hal penyedian sarana penunjang pelaksanaan tatap muka di sekolah, seperti tempat cuci tangan, sabun bahkan hand sanitizer.

Namun lagi-lagi, Haris menyebut bahwa hal tersebut baru bisa diterapkan sekiranya sudah ada rekomendasi dari tim gugus tugas.

"Karena jujur saja, saya tidak mau tempat pendidikan itu menjadi klaster Covid-19. Sehingga perlu kehati-hatian. Kita tidak boleh coba-coba," kata Haris.

Fokus PJJ Luring

Haris menyebut bahwa saat ini satuan penyelenggara pendidikan di Bantaeng tengah fokus pada pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode luring atau luar jaringan alias offline. Sebab jika dipaksakan untuk keseluruhan PJJ secara online alias daring, maka dipastikan tak semua peserta didik bisa mengikuti proses pembelajaran.

"Kita lebih fokus PJJ model luring. Sebab pembelajaran daring ternyata ada siswa yang terkendala di fasilitas, akses jaringan. Makanya siswa yang mengalami hal itu diantarkan (bahan ajar) ke rumah masing-masing," jelas Haris.

Di rumah peserta didik, guru yang bertugas mengantar bahan ajar akan memberi penjelasan untuk menyelesaikan tugas pada modul yang dibagikan. Sesuai anjuran protokol kesehatan, guru berkewajiban memberi penjelasan selama tak lebih dari satu jam.

Haris pun menyebut, total keseluruhan peserta didik mulai dari TK sampai SMP, ada sebanyak lebih kurang 35 ribu.

Dari jumlah tersebut, oleh Haris memperkirakan yang punya fasilitas untuk mengikuti PJJ secara daring hanya berkisar 15 sampai 20 persen saja.

"Lebihnya itu hanya bisa luring," jelas mantan Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bantaeng ini.

Penjelasan Haris tersebut dibenarkan oleh Fadlia, 28 tahun, salah satu tenaga pengajar di Kabupaten Bantaeng. Dia mengatakan bahwa saat ini ia hanya fokus bagaimana agar bahan ajar senantiasa tersalurkan.

Pada momentum kemerdekaan yang baru saja berlalu, tenaga honorer pada salah satu sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Bantaeng ini mengatakan cukup bereuforia secara virtual.

"Saya lihat pengibaran bendera secara daring saja, memang beberapa teman guru lain mengajak untuk bersua tapi saya pribadi pilih cari hiburan lewat virtual. Banyak konten lucu kok untuk menghibur diri," kata perempuan yang baru saja melahirkan putri keduanya itu.

Para guru memberikan materi pelajaran kepada muridnya dengan sistem door to door atau dari pintu ke pintu. Kegiatan itu pun dibatasi hanya maksimal satu jam untuk setiap siswa yang dikunjungi.

Hal-hal seperti ini telah menjadi rutinitas sejak bulan Maret lalu. Tepatnya pada masa-masa awal pandemi. Dan masih terus berlangsung sampai memasuki tahun ajaran baru yakni pada awal bulan Juli, dan saat ini.

Mereka juga membuat modul pembelajaran khusus masa pandemi. Membuat lembar kerja siswa atau lembar latihan untuk tetap mengasah kemampuan pelajar meski berada di rumah masing-masing.

Pada sistem luring, para guru bertanggung jawab penuh atas murid-murid yang diajarnya. []

Berita terkait
Kisah Dosen Cantik Multitalenta dari Bantaeng
Arini Nur Annisa, yang akrab disapa Rini atau Arini adalah seorang dosen cantik yang juga berprofesi sebagai pembawa acara atau MC.
Energi Terbarukan Ramah Lingkungan di Malang
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendirikan beberapa pembangkit listrik ramah lingkungan, mulai dari PLTMH hingga PLTS.
Mobil Internet Gratis untuk Anak di Yogyakarta
Seorang jurnalis di Yogyakarta berkolaborasi dengan komunitas Untuk Teman menyediakan internet gratis dan perpustakaan untuk anak.
0
Makan Kerupuk, Cara Pendidik di Bantaeng Usir Jenuh
Puluhan kepala sekolah di Kabupaten Bantaeng mengikuti beragam lomba, termasuk lomba makan kerupuk, untuk mengusir jenuh selama pandemi.