UNTUK INDONESIA
Energi Terbarukan Ramah Lingkungan di Malang
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendirikan beberapa pembangkit listrik ramah lingkungan, mulai dari PLTMH hingga PLTS.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Eco Wisata Boon Pring. (Foto: Tagar/Moh Badar Risqullah).

Malang – Aliran air di sungai Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang yang bersumber dari enam mata air terdengar menderu, menemani aktivitas masyarakat yang memanfaatkannya untuk mengairi sawah, kebun dan kebutuhan rumah tangga.

Di hulu sungai itu tulisan selamat datang di “Eco Wisata Boon Pring” menyambut kedatangan siapa saja, di tempat seluas 3,6 hektar ini. Pohon-pohon bambu di sekelilingnya pun turut menyapa dengan kibasan dedaunannya.

Beberapa orang tampak asyik berkeliling di tempat itu, menikmat segarnya alam. Sebagian lainnya duduk santai di pinggir embung untuk berswafoto sambil menikmat minuman dan jajanan yang dibelinya dari pedagang masyarakat Desa Sanankerto.

Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Samsul Arifin mengatakan di Eco Wisata Boon Pring ini terdapat enam sumber mata air dengan bermuara menjadi satu di embung sedalam 2 sampai 3 meter ini. Aliran air dari embung inilah yang kemudian dimanfaakan untuk pengairan.

Enam mata air itu adalah Sumber Adem, Sumber Krecek, Sumber Towo, Sumber Maron, Sumber Gatel dan Sumber Seger.

Dari keenamnya, Sumber Maron merupakan yang terunik, sebab air dari Sumber Maron mengalir hanya ketika musim kemarau, dan tidak mengalir ketika musim hujan.

Air-air dari keenam mata air itu nantinya dialirkan ke beberapa titik.”Setelah limpahan sumbernya berkumpul ke embung (penampungan) itu. Nantinya akan mengalir ke beberapa titik yang dimanfaatkan sama warga untuk mengairi persawahannya itu,” ujarnya, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Pembangkit Listrik

Aliran air sungai itu bukan hanya digunakan untuk pengairan semata, tapi saat ini sudah digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Pihak desa melakukan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Malang Raya. Salah satunya dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Bank Negara Indonesia (BNI) untuk pembangunan stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Eco Wisata Boon Pring.

Pembangunan PLTMH itu terinspirasi dari kesuksesan UMM dalam pegembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) ramah lingkungan. Sejak tahun 2007. Dua unit stasiun PLTMH yaitu Sengkaling 1 dan 2 dibangun serta beroperasi memenuhi kebutuhan kampus tersebut.

Pembangunan PLTMH Boon Pring itu dimulai pada 2019 dan rampung pada 2020. Selanjutnya, Stasiun PLTMH Eco Wisata Boon Pring ini mulai beroperasi dan diresmikan oleh Bupati Malang Sanusi pada 2 Maret 2020 lalu.

Dibangunnya PLTMH ini diharapkan untuk memenuhi penerangan di Boon Pring. Selain untuk sebagian kawasan wisata, penerangan di beberapa lapak pedagang bersumber dari PLTMH tersebut.

Untuk saat ini, listrik dari PLTMH Eco Wisata Boon Pring hanya digunakan untuk kebutuhan penerangan kawasan tempat wisata saja. Itu pun hanya sebagian. Tetapi pihak desa tetap berharap ke depannya juga bisa dimanfaatkan oleh warga setempat, agar bisa menyejahreakan. Itu sesuai dengan konsep awal dibangunnya Eco Wisata Boon Pring.

Denah Eco Wisata Voon Pring MalangTempat wisata Eco Wisata Boon Pring. Tempat mengalirnya enam sumber sebagai bahan penggerak generator untuk menghasilkan listrik. (Foto: Tagar/Moh Badar Risqullah)

Tahapan produksi listrik PLTMH Eco Wisata Boon Pring itu dimulai dari bak penampungan berukuran 2,00 x 2,50 meter. Dari situ air akan disalurkan ke dalam pipa berukuran 400 mm untuk mengggerakkan generator listrik. Tapi sbelum melewati pipa, air itu melewati penyaring.

Dalam waktu sepersekian detik, tanpa bising suara mesin penghasil listrik, air seperti berkejaran keluar melalui pipa di bawah bangunan stasiun PLTMH Eco Wisata Boon Pring dan ke sungai.

Ramah Lingkungan

Kepala Pusat Pengkajian Energi Baru Universitas Muhammadiyah Malang Ir Sudarman mengatakan stasiun PLTMH Eco Wisata Boon Pring dirancang ramah lingkungan.

Sehingga keberadaannya diupayakan tidak menghasilkan dampak negatif atau buruk kepada lingkungan sekitarnya, termasuk pencemaran. Selain itu, proses produksi listrik juga dirancang sebaik mungkin, agar tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu aktivitas masyarakatnya.

Dalam proses produksi listrik, PLTMH Eco Wisata Boon Pring menggunakan power house atau rumah pembangkit yang didesain khusus, agar tidak bising.

”Konsep PLTMH ini kan memang kita buat agar ramah lingkungan. Karena, bukan hanya polusi saja yang mengganggu. Melainkan kebisingan itu juga pousi. Makanya, kita minimalisir,” kata dia, Selasa, 18 Agustus 2020.

Dia menambahkan, air sungai penggerak generator yang kembali mengalir ke sungai, tidak mengalami perubahan kualitas, sebab tidak tercampur bahan apapun.

”Beda kalau kita pakai minyak pelumas dalam prosesnya. Karena, tentunya air akan tercemar ketika ada kebocoran. Tapi kan tidak. Makanya, air yang dimanfaatkan dan dibuang lagi dalam proses PLTMH ini keluarnya juga air. Tidak ada perbedaan,” jelasnya.

Ramah lingkungan, lanjutnya, juga diartikan bahwa masyarakat tidak terganggu oleh adanya PLTMH tersebut, misalnya suara bising dari mesin, yang merupakan polusi suara.

Sudarman juga menuturkan bahwa PLTMH di tempat wisata ini merupakan bagian dari beberapa PLTMH lain yang rencananya akan segera dibangun di wlayah Malang Raya.

Berdasarkan data dokumen Data Spesifikasi Teknik PLTMH Eco Wisata Boon Pring, diketahui bahwa pembangkit listrik ini bisa menghasilkan energi harian sebesar 312 KWh dan produksi energi tahunan diprediksi bisa mencapai kurang lebih sebesar 90.600 kWH (300 hari operasional) dari 0,50 m3/dt.

Sedangkan untuk turbinnya menggunakan tipe propeller – D300 dengan tinggi jatuh total 3,80 m dan tinggi jatuh efektif 3,46 m. Kemudian untuk generatornya bertipe Generator Industri Shaft Vertikal – Stamfort dengan kapasitas 20 kVA, kecepatan putar 1500 RPM, tegangan 380 volt dan frekuensi 50 Hz.

PLTMH Sengkalin 1 MalangMesin pembangkit listrik yang terdapat di PLTMH Sengkaling 1. (Foto: Tagar/Dok. UMM/Tagar/Moh Badar Risqullah)

”Sebenarnya, kalau yang diinisiasi kita banyak. Tapi, yang terealisasi Cuma sedikit. Dan yang sudah terealisasi di Boon Pring ini yang hanya memanfaatkan keberadaan saluran sungai dan talang dengan airnya bersumber dari sumber mata air Andeman itu,” ujarnya.

Spesifikasi itu, kata Sudarman, berbeda dengan PLTMH Sengkaling I, yang dibangun pada 2007. PLTMH Sengkaling 1 yang memanfatakan saluran irigasi di Dam Sengkaling Kecamatan Dau Kabupaten Malang ini menggunakan dua jenis turbin yaitu turbin crossflow dan propeller.

Produksi energi rata-rata daya yang dibangkitkan PLTMH Sengkaling 1 ini sebesar 80 kWatt, dengan produksi energi harian sebesar 1.920 kWH dan produksi energi tahunan sebesar 576.000 kWH (300 hari operasional).

”Sebenarnya, kalau normalnya besar. Tapi, untuk saat ini pemakaiannya rendah dengan hanya sekitar 60 ribu KWH (per tahunnya). Karena pada dua tahun ini, kita lakukan maintenance (pemeliharaan) dan lain sebagainya pada PLTMH Sengkaling 1 ini,” ungkapnya.

Lebih Unggul Daripada PLTS

Selain PLTMH, UMM juga telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yang bisa memproduksi energi kurang lebih sebesar 3000 Watt di daerah itu.

”Kalau tenaga surya ini gampang dan tinggal pakai saja. Energinya pun stabil. Sistem pengoperasiannya juga sudah on grid (terkoneksi langsung) dengan PLTMH Sengkaling 1,” ujarnya.

Hanya saja, sistem kontrol PLTS perlu biaya pemeliharaan yang tinggi. Selain itu, pembangkit listrik jenis itu alat-alatnya tidak awet. Sehingga, harus diganti ketika ada satu atau beberapa alat-alat pendukungnya rusak.

”Perlu pemeliharaan tinggi. Umurnya juga tidak awet dan kalau rusak sudah harus diganti. Kalau PLTMH rusak, masih bisa diperbaiki. Untuk tenaga surya ini dikembangkannya sama dengan PLTMH Sengkaling,” ungkapnya.

Terkait rencana ke depan untuk pengembangan produksi energi baru terbarukan yang lebih besar dan dibuat untuk komersil. Sudarman mengaku memang sudah memiliki rencana, tetapi masih dalam tahap pertimbangan.

”Soalnya kan (kalau untuk komersil) harus berhubungan dengan PLN yang memiliki jaringan. Kita kan ngak mungkin bekerjasama dengan PLN. Karena tidak semua lokasi mau di beli PLN dan harus layak secara ekonomi,” terangnya.

Hal itu juga menjadi salah satu penyebab PLTMH yang dikembangkan UMM belum digunakan untuk komersil. Termasuk PLTMH Sengkaling 1 yang masih terbatas untuk kebutuhan asrama mahasiswa dan beberapa fasilitas pendidikan lain.

Suasana Eco Wisata Boon Pring MalangTempat wisata Eco Wisata Boon Pring. Tempat mengalirnya enam sumber sebagai bahan penggerak generator untuk menghasilkan listrik. (Foto: Tagar/Moh Badar Risqullah)

”Sekalipun memiliki PLTMH. Tidak semua (fasilitas pendidikan UMM) menggunakan listrik dari PLTMH. Hanya sebagian saja. Seperti saat ini digunakan untuk asrama mahasiswa di belakang gedung kampus,” ucapnya.

Walaupun begitu, Sudarman mengaku adanya PLTMH ini cukup berpengaruh terhadap menurunnya pengguan listrik dari PLN.

”Mengurangi (penggunaan listrik PLN) iya. Tapi cuma sedikit,” kata dia.

Terlepas dari itu, dia mengungkapkan sebenarnya untuk pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia ini sangat banyak. Bahkan dia menegaskan banyak sekali yang ramah lingkungan dan tidak akan habis. Akan tetapi, banyak yang tidak terealisasi dikarenakan kurangnya energi dari manusia itu sendiri untuk mengembangkannya.

Sebagaimana berdasarkan data Institute for Essential Services Reform (IESR) yang dihimpun dari Kementrian ESDM RI, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2019-2028 PT PLN (Persero) dan Dokumen RUED Provinsi pada Maret 2020. Disebutkan bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia terdapat 432 GW atau 7-8 kali dari total kapasitas pembangkit terpasang saat ini.

Diketahui, dari total tersebut baru 7 GW yang telah dimanfaatkan secara komersial. Sementara, rencana kedepannya masih akan ada penambahan sekitar 29 GW oleh PLN berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2019-2028.

Sedangkan potensi energi terbarukan di Jawa Timur terdapat 24.420 MW dan baru terpasang 275 MW. Dengan rinciannya yaitu PLTM/PLTMH sebesar 1.142 MW, PLTS sebesar 10.335 MW, PLTSa sebesar 78 MW, PLTBio sebesar 3.421 MW, PLTA sebesar 525 MW, PLTP sebesar 1.012 MW dan PLTB sebesar 7.907 MW.

”Sebenarnya, kalau energi (baru terbarukan) enggak akan habis. Cuma banyak yang tidak digunakan secara optimal. Karena, energi manusianya (untuk meneliti dan melakukan pengembangan) yang kurang dan bisa saja habis,” terangnya.[]

Berita terkait
Narapidana Pekerja Kafe dan Barbershop di Malang
Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Malang mendirikan kafe dan barbershop yang pekerjanya merupakan narapidana asimilasi, sebagai bekal saat bebas
Mobil Internet Gratis untuk Anak di Yogyakarta
Seorang jurnalis di Yogyakarta berkolaborasi dengan komunitas Untuk Teman menyediakan internet gratis dan perpustakaan untuk anak.
Perjuangan Siswa di Maros Cari Jaringan Internet
Warga Desa Cenrana Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan harus rela berjalan kaki sejauh empat kilometer untuk mendapat jaringan internet.
0
Terawan Lantik Prof. Abdul Kadir Sebagai Dirjen Yankes
Menteri kesehatan Terawan Agus Putranto lantik Prof. Abdul Kadir sebagai Dirjen Pelayanan Kesehatan.