UNTUK INDONESIA

Lonjakan Pandemi, Jepang Tidak Batasi Perjalanan dan Bisnis

Jumlah kasus baru harian di Jepang capai rekor tertinggi, tapi pemerintah Negeri Sakura itu tidak membatasi perjalanan dan bisnis
Warga memakai masker saat berjalan melintasi persimpangan lalu lintas di Tokyo, Kamis, 19 November 2020. (Foto: voaindonesia.com - AP Photo/Hiro Komae)

Tokyo – Jumlah kasus baru virus corona Jepang mencapai rekor tertinggi, Kamis, 19 November 2020. Perdana Menteri (PM) Jepang, Yoshihide Suga, mendesak agar masyarakat meningkatkan kehati-hatian namun tidak menyerukan pembatasan perjalanan atau bisnis.

Kementerian Kesehatan melaporkan 2.179 kasus baru selama 24 jam terakhir. Ini merupakan kali pertama Jepang mencatat lebih dari 2.000 kasus per hari sejak wabah merebak. Tertinggi sebelumnya untuk jumlah kasus baru adalah 1.723 pada 14 November 2020.

para penggunaPara pengguna angkutan umum mengenakan masker saat berjalan di Stasiun Shinagawa, Tokyo, 19 November 2020 (Foto: voaindonesia.com/AFP)

Dibandingkan dengan banyak negara lain, Jepang dinilai banyak pihak berhasil memerangi virus corona. Negara itu memiliki 122.966 kasus, dengan 1.922 kematian, sejak pandemi. Namun, jumlah kasus baru akhir-akhir ini melonjak secara signifikan, dan bahkan membukukan rekor baru secara nasional dan di Tokyo, kota terbesar di negara itu.

Pemerintah Metropolitan Tokyo, Kamis, 19 November 2020, melaporkan 534 kasus baru, rekor tertinggi, dan menaikkan tingkat kewaspadaannya menjadi “merah” atau tertinggi dalam skala empat.

pm jepangPerdana Menteri Jepang Yoshihide Suga menjawab pertanyaan wartawan tentang tindakan melawan virus Covid-19 di kantor perdana menteri di Tokyo, 19 November 2020 (Foto: voaindonesia.com/AFP)

Lonjakan jumlah kasus baru secara nasional terutama di wilayah ibu kota yang padat dan Hokkaido di utara, mengkhawatirkan pemerintah dan para pakar kesehatan. Pasalnya, Jepang akan menghadapi liburan panjang akhir pekan mendatang dan liburan musim dingin yang kerap diwarnai perjalanan wisata dan pesta-pesta.

Para ahli di Satgas Penanggulangan Covid-19 Tokyo, Kamis, 19 November 2020, meminta pemerintah untuk memastikan ketersediaan lebih banyak tempat tidur untuk pasien, dan kamar hotel bagi mereka dengan gejala yang tidak terlalu serius sebelum penularan berlangsung semakin cepat.

Perdana Menteri Yoshihide Suga mengatakan, Kamis, 19 November 2020, ia telah menginstruksikan para menteri kabinetnya untuk melakukan yang terbaik untuk mencegah peningkatan penularan. Ia juga mendesak pemberlakuan kebijakan mengenakan masker secara menyeluruh. Namun ia mengatakan bahwa insentif pariwisata dan restoran yang digelar pemerintahnya akan terus berlanjut.

warga memakaiWarga memakai masker sebagai tindakan pencegahan terhadap virus Covid-19 saat mengunjungi kawasan restoran Omoide Yokocho di distrik Shinjuku, Tokyo, 19 November 2020 (Foto: voaindonesia.com/AFP)

Kampanye makan “Go To Eat'' yang bertujuan untuk mendukung restoran dan industri pariwisata diperketat. Restoran membatasi jumlah tamu pada satu meja makan menjadi maksimum empat orang. Ia juga meminta orang-orang untuk memakai masker saat makan, melepasnya hanya saat memasukkan makanan ke mulut dan segera mengenakannya kembali saat berbicara.

Para ahli mengatakan penggunaan masker wajah Jepang secara luas dan tindakan-tindakan pencegahan umum lainnya, serta tradisi budaya yang tidak berjabat tangan dan berciuman, mungkin telah membantu menekan jumlah kasus di negara itu sehingga tetap rendah.

Jumlah kasus baru berangsur-angsur meningkat setelah pemerintah mencoba menyeimbangkan pencegahan penyakit dan ekonomi tanpa membatasi aktivitas bisnis (ab/uh)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Corona, Harta 50 Orang Tajir Jepang Hanya Turun 5%
Pandemi virus corona Covid-19 di Jepang tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap orang-orang tajir, harta 50 orang terkaya hanya turun 5 persen.
Viral Cara Warga Jepang Merespons Virus Corona
Sebuah pesan inspiratif mengenai cara warga Jepang merespons virus corona (Covid-19) viral di media sosial.
0
Lonjakan Pandemi, Jepang Tidak Batasi Perjalanan dan Bisnis
Jumlah kasus baru harian di Jepang capai rekor tertinggi, tapi pemerintah Negeri Sakura itu tidak membatasi perjalanan dan bisnis