Viral Cara Warga Jepang Merespons Virus Corona

Sebuah pesan inspiratif mengenai cara warga Jepang merespons virus corona (Covid-19) viral di media sosial.
Kawasan bisnis dan destinasi belanja Shibuya, Tokyo. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Sebuah pesan inspiratif dari seorang warga negara India yang sedang belajar di Jepang, viral di media sosial. Pesan itu menggambarkan betapa Negeri Sakura tetap bisa berjalan normal, meski wabah corona (Covid-19) tengah menyebar.

Pesan anonim itu semula hanya beredar melalui pesan berantai di aplikasi Whatsapp. Namun baru-baru ini, banyak warganet yang mengunggahnya ke berbagai media sosial konvensional. Berikut ini terjemahan dari pesan tersebut:

"Mengapa Jepang tetap Normal Saat Seluruh Dunia Lumpuh??

Mulanya, saya risau saat Jepang menjadi negara pertama yang terkena dampak Corona karena kapal mewah Princess Diamond dari Cina datang ke Jepang pada bulan Januari. Saat ini Jepang masuk ke tahap 4 seperti negara-negara Eropa. Ketika Jepang terdampak virus, orang tua saya meminta saya untuk kembali ke India sampai virus itu reda.

Namun di Jepang semuanya normal hingga hari ini. Kita pergi ke kantor dan semua layanan penting setiap hari. Tidak ada restoran dan mall yang tutup. Tidak ada lockdown. Kereta metro dan kereta peluru berjalan secara normal. Semua perbatasan internasional terbuka.

[Sebenarnya] Jepang juga memiliki persentase orang tua yang tinggi seperti Italia. Tokyo memiliki jumlah orang asing terbanyak dan menjadi salah satu daya tarik wisata yang dikunjungi banyak orang asing. Orang asing masih diizinkan masuk. Layanan yang dihentikan hanya sekolah dan kegiatan publik.

Tentang Teori memutus rantai

Kebijakan Lockdown akan membunuh mata rantai untuk negara padat seperti India. Tokyo adalah kota paling padat dan paling terkontrol di dunia. Kami menjalani kehidupan normal di Jepang. Saya hanya khawatir saat membaca berita perkembangan (wabah corona) di India.

Menurut analisa saya, aturan untuk mencegah virus Corona telah dipraktikkan dan menjadi budaya orang Jepang sejak kecil, yaitu:

1. orang jepang memakai masker saat mereka bepergian atau keluar rumah. Saat normal, biasanya 60 persen dari orang Jepang memakai masker setiap hari. Meskipun sakit flu di Jepang sangat sedikit, namun mereka tetap memakai masker. Itu sudah menjadi budaya mereka yang membantu menghentikan penyebaran virus corona dan memotong rantai.

Biasanya setiap orang yang bekerja di pelayanan publik seperti resepsionis, petugas pemerintah, dokter, perawat, kepala stasiun, staf kereta api, polisi, petugas kebersihan, dll mengenakan masker di tempat kerja.

Selama musim dingin anak-anak Jepang mengenakan masker setiap hari sehingga tidak mengganggu orang lain ketika flu. Di setiap rumah terdapat kotak masker kodomo dan kotak masker normal. Masker Kodomo cocok untuk anak-anak.

2. Orang Jepang menjalani kehidupan yang tidak mengganggu orang lain. Mereka tidak membuang sampah sembarangan dan menggunakan tempat sampah hanya untuk membuang sampah atau meludah. Kebersihan adalah bagian dari budaya mereka. Di sekolah mereka lebih dulu diajarkan kebersihan dan berperilaku di masyarakat sebelum belajar huruf.

3. Mereka tidak berjabat tangan, melainkan menunduk saat menyambut.

4. Di Jepang mencuci tangan adalah bagian dari budaya. Kami memiliki sabun dan pembersih di setiap toilet umum, pintu masuk kantor, dan ruang publik. Di sini mencuci tangan sangat umum untuk mencegah penyebaran virus. Saya tidak pernah mencuci tangan tetapi sejak 2 bulan terakhir saya mempraktekannya sebelum masuk kantor dan lift. Setiap melihat sabun, saya menggunakannya.

5. Di toilet saya perhatikan orang-orang Jepang mencuci tangan dan juga membersihkan dan menyeka area wastafel sehingga bisa digunakan lagi untuk orang lain. Hal itu juga berlaku pada toilet publik di stasiun kereta.

6. Orang Jepang membawa kotak tisu basah untuk membersihkan tangan mereka sesering mungkin saat keluar rumah.

7. Mereka biasa menjaga jarak antar sesama.

Kebiasaan-kebiasaan di atas membantu Jepang mencegah lockdown. Ini membutuhkan sadhana. Aturan tersebut sudah menjadi bagian dari budaya Jepang yang dipraktikkan dengan sempurna. Kebiasaan orang Jepang itu patut kita jadikan contoh."

Beberapa akun Facebook yang mengunggah pesan itu adalah Bhavani Viswanathan‎, Prince Dawson, dan di dalam negeri, tulisan ini diunggah oleh akun bernama Acha Wahyudi. Hingga berita ini ditulis unggahan tersebut sudah disukai oleh 169 warganet, mendapat 28 komentar, dan di-share sebanyak 15 kali.

Belanda Membiarkan Warganya Terpapar Corona

Berbeda dengan Jepang, langkah yang diterapkan negeri Belanda cukup kontroversial. Saat hampir semua negara di dunia menerapkan pola social distancing, Negeri Kincir Angin itu justru punya caranya sendiri dalam melindungi kelompok rentan terinfeksi coronavirus.

Belanda justru membangun sebuah pola yang disebut "herd immunity" atau kekebalan kelompok. Penyebaran virus diperlambat dengan cara membiarkan banyak orang terinfeksi, lalu sembuh dengan sendirinya.

Pekan lalu Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyatakan, karena vaksin dan obat (corona) belum ada, yang bisa dilakukan yaitu memperlambat penyebaran virus sekaligus membangun herd immunity secara terkendali. Rutte mengakui cepat atau lambat sebagian besar penduduk akan terinfeksi virus.

Pemerintah Belanda tidak akan menerapkan kebijakan lockdown, sehingga orang masih bisa beraktivitas seperti biasanya. Warga negara Belanda mengurangi rasa panik dengan mengosumsi ganja yang banyak dijual di cafe. Kebijakan tersebut banyak didukung oleh warganya.

Mereka berani mengambil langkah itu karena sistem kesehatan di Belanda termasuk paling bagus di Eropa. Namun, Belanda bukan satu-satunya yang menerapkan kebijakan kontroversial tersebut.

Baca juga: Fans Nganggur karena Corona, Taylor Swift Kirim Uang

Awalnya, Inggris juga akan menerapkan herd immunity. Namun sejumlah warga panik mendengar kebijakan itu, sehingga pemerintah membatalkannya. []

Berita terkait
Presiden Brasil Bantah Kabar Positif Virus Corona
Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengeluarkan pernyataan bantahan mengenai kabar yang sempat menyebutnya positif terinfeksi virus corona.
Paus Fransiskus Sakit di Tengah Wabah Virus Corona
Paus Fransiskus dikabarkan jatuh sakit di saat merebaknya wabah virus corona (Covid-19) di sejumlah negara termasuk Italia.
Selebriti Dibayar Agar Mengaku Positif Virus Corona?
Rapper Cardi B mengeluarkan penyataan yang menuding sejumlah selebriti Hollywood dibayar agar mengaku positif terinfeksi virus corona (Covid-19).
0
Sandiaga Uno: Tak Hanya Work From Bali, Bisa Juga Ada Work From Lombok
Berikut jawaban lengkap Menparekraf atas pertanyaan, apakah kebijakan Work From Bali bisa diterapkan di daerah destinasi prioritas wisata lainnya.