UNTUK INDONESIA
Liputan Aksi di Sorong, Wartawan Diintimidasi Pedemo
Diduga kasus intimidasi kepada wartawan terjadi lagi di Sorong, Papua Barat. Kali ini intimidasi dilakukan oknum aktivis GMNI.
Ketua IJTI Pengurus Daerah Papua Barat, Chanry Andrew Suripaty dan Ketua PWI Sorong Raya, Lexy Sitanala. (Foto: Tagar/Dzul Ahmad).

Sorong - Diduga kasus intimidasi kepada wartawan terjadi lagi di Sorong, Papua Barat. Kali ini intimidasi diduga kuat dilakukan oknum aktivis GMNI, saat pencari berita tengah meliput aksi demo menuntut perbaikan jalan Malaumkarta-Della di Kantor Balai Jalan Nasional, yang terletak di Jalan Sapta Taruna kilometer 10 Sorong, pada Senin, 16 September 2019.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sorong Raya, Lexy Sitanala dan Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Papua Barat Chanry Andrew Suripaty menyayangkan pecahnya kejadian ini, karena perkataan yang dilontarkan aktivis dianggap melecehkan profesi jurnalis.

“Pengurus GMNI Sorong agar melakukan klarifikasi dan meminta maaf atas pernyataan oknum kader yang telah melecehkan profesi jurnalis,” ujar Lexy saat mengelar konferensi pers di Kantor LBH PBHKP Jalan Sriti II HBM, Sorong.

Seharusnya, kata Lexy, mahasiswa berpikir positif dan tidak merendahkan profesi jurnalis. Sebab wartawan di Sorong, menurutnya sudah melakukan tugas secara profesional dan sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Sementara itu, Chanry Andrew Suripaty berpendapat, jurnalis Sorong Raya telah melakukan tugas sesuai dengan kode etik profesi sebagai ketentuan dalam Undang-undang (UU) nomor 40 Tahun 1999. 

Dia tidak memungkiri masih ada wartawan yang bandel di lapangan, tetapi itu dia nilai adalah pribadi seseorang, karena profesi "wartawan bodrex" bukan profesi yang patut dipuji.

Chanry meminta GMNI Sorong agar melakukan klarifikasi dan meminta maaf atas pernyataan mahasiswa dan aktivis karena telah melecehkan profesi jurnalis.

Akhir-akhir ini, menurut Chanry, banyak kekerasan dan intimidasi yang dialami wartawan di Sorong Raya. Seakan-akan ada upaya untuk menjatuhkan profesi pemburu berita di sana.

“Untuk teman-teman seluruh wartawan Sorong Raya, terlebih khusus PWI dan IJTI bersatu dan melakukan tugas dengan baik, profesional, dan menjujung kode etik jurnalis,” ujarnya.

Olha Mulalinda, wartawati korban intimidasi menceritan kronologis kejadian yang dialaminya saat melakukan peliputan. 

Menurut dia, sekitar pukul 11.30 WIT saat meliput aksi unjuk rasa GMNI di kantor Balai PUPR, usai pembacaan tuntutannya, kemudian beberapa pendemo berteriak kepada sejumlah wartawan yang berada di lokasi aksi.

“Wartawan mana? wartawan tidak wawancara kah? Karena di situ tidak ada wartawan yang wawancara,” kata Olha menirukan teriakan pendemo.

Menurut Olha, Karena sudah mendengar secara langsung tuntutan dan telah mendapatkan data yang sesuai kebutuhan, mereka tidak mewawancarai pendemo. Setelah itu sejumlah pendemo menyahuti kata-kata tidak terpuji.

“Wartawan sudah dibayar jadi tidak mau wawancara. Saya spontan mengatakan kepada mereka agar hati-hati kalau bicara, kalau tidak ada fakta,” ucap wartawan Antara  itu

Namun, bukannya meminta maaf atas perbuatannya, para pendemo malahan mengejek-ejek dia, sementara pendemo lainya turut merekam kejadian itu.

“Saya katakan, jangan perintah kami wartawan buat wawancara siapa. Kami rasa sudah cukup jelas maksud dan tujuan kalian saat tuntutan dibacakan sudah direkam oleh teman-teman wartawan,” tuturnya []

Berita terkait
Nama Wartawan Dicatut Tipu Pejabat di Kulon Progo
Upaya penipuan dengan memakai nama wartawan, kembali terjadi di Kulon Progo. Beberapa nama wartawan dicatut untuk meminta duit kepada pejabat.
PWI Sorong Raya Sayangkan Intimidasi Wartawan
PWI Sorong Raya menyayangkan tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap sejumlah wartawan saat meliput aksi demo rasisme beberapa waktu lalu.
Dewan Pers Usut Kekerasan Terhadap Wartawan di Papua
Dewan Pers menurunkan tim guna menginvestigasi dugaan kekerasan terhadap wartawan di Sorong.
0
Bocah 11 Tahun di Tegal ‎Tak Punya Lubang Anus
Bocah 11 tahun itu mengalami gizi buruk dan tak memiliki lubang anus.