UNTUK INDONESIA
Limbah Berbahaya di Bantaran Sungai Semarang
Satpol Semarang temukan ratusan limbah padat di bantaran Sungai Banjir Kanal Barat (BKB).
Ratusan limbah padat berbentuk drum berserakan di bantaran Sungai Banjir Kanal (BKB) Semarang, Jawa Tengah. Air sungai BKB selama ini menjadi air baku PDAM Semarang. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, Jawa Tengah menemukan ratusan limbah padat yang sengaja dibuang di bantaran Sungai Banjir Kanal Barat (BKB). Belum jelas siapa pembuang limbah kimia berbentuk drum yang dikhawatirkan dapat mencemari air sungai tersebut.

"Ada laporan dari masyarakat, kami tindaklanjuti dan benar ada ratusan limbah padat berbentuk drum di sekitar sini," ujar Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto kepada Tagar di lokasi pembuangan limbah, Senin 8 Juli 2019.

Lokasi berada di sebuah tanah kosong, di samping Sungai BKB, masuk wilayah RT 9 RW 1 Kelurahan Mayaran, Kecamatan Semarang Barat. Area tersebut berbatasan dengan wilayah Kelurahan Ngemplak Simongan.

Saat Satpol PP datang ke lokasi, ratusan limbah padat berserakan tak karuan. Ada yang masih berbentuk utuh mirip drum, sejumlah limbah terlihat ada yang sudah melembek. Limbah berwarna putih di bagian luar dan cokelat di bagian dalam itu membuat tanah dan tanaman di sekitarnya tercemar.

Tanah berubah warna menjadi cokelat dan hitam, sedangkan rumput jadi mati seperti tanaman yang kekeringan. Lokasinya yang persis di samping BKB, hanya berjarak beberapa meter, dikhawatirkan juga dapat mempengaruhi kualitas air sungai.

Padahal air sungai tersebut menjadi air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Semarang yang kemudian diolah dan disalurkan ke warga Semarang.

"Ini mengandung bahan kimia jika dibiarkan ada kemungkinan air PDAM bisa tercemar," ujar dia.

Fajar mengaku belum bisa mengetahui siapa yang membuang limbah ke tempat tidak semestinya itu. Terlebih limbah tersebut diduga kuat mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

Tahu-tahu isinya sudah dikeluarkan dari drum. Ya warga tidak ada yang tahu karena bantaran sungai kan sepi

Pihaknya tengah menggali data dari warga sekitar, termasuk ke sejumlah pabrik mengingat lokasi pembuangan tak jauh dari kawasan industri Simongan.

"Anggota sedang kami kerahkan untuk menghimpun informasi untuk mengetahui titik terang siapa yang membuang," katanya.

Guna memastikan kandungan kimia di limbah, petugas Satpol PP mengambil sampel untuk dibawa ke laboratorium. Dalam waktu dekat ratusan limbah drum juga akan dipindah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

"Jika hasil uji laboratorium itu limbah kimia berbahaya, kami akan bawa ke jalur hukum agar dikenai sanksi berat karena ini bisa mencemari air baku yang dikonsumsi warga Semarang," kata Fajar.

Dalam kesempatan itu, dia menyayangkan sikap abai lingkungan dari pihak Kelurahan Ngemplak Simongan dan Manyaran. Apalagi tempat pembuangan tak jauh dari belakang kantor Kelurahan Ngemplak Simongan.

"Saya sayangkan baik Lurah Manyaran dan Ngemplak Simongan kok tidak keliling mengecek, masak harus nunggu laporan masyarakat dan Satpol PP malah turun tangan," tukas dia.

Ketua RT 9 RW 1 Manyaran, Poniman menceritakan keberadaan limbah sudah ada sejak sebulan lalu. Berawal dari kehadiran truk tak dikenal yang menurunkan sejumlah drum. Kepada warga, sopir dan pekerja mengaku keberadaan drum hanya sementara dan akan dibawa ke Solo.

"Pas bulan puasa kemarin itu, sekitar pukul 07.00 WIB pagi. Mengaku berisi pakan babi dan akan dibawa ke Solo. Jadi dipersilakan menggunakan tempat itu," kata dia.

Tak disangka dan tanpa sepengetahuan warga, isi dari drum telah dikeluarkan. Drum entah kemana dan hanya meninggalkan limbah padat berbentuk drum. Janji hendak mengambil kembali ternyata juga tak jelas waktunya.

"Tahu-tahu isinya sudah dikeluarkan dari drum. Ya warga tidak ada yang tahu karena bantaran sungai kan sepi," ujar dia.

Informasi dari warga, limbah berasal dari Kalimantan. "Mungkin itu limbah kelapa sawit," kata dia menduga.[]

Baca juga:

Berita terkait
0
AIDS di Indonesia Hampir Sentuh Angka Setengah Juta
Berita pandemi Covid-19 menenggelamkan berita tentang HIV/AIDS, padahal laporan terakhir menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS mencapai 498.665