UNTUK INDONESIA

Lima Puisi Penuh Makna Karya Taufiq Ismail

Berikut Tagar rangkumkan kumpulan puisi penuh makna karya Taufiq Ismail.
Sastrawan Indonesia, Taufiq Ismail. (Foto: Instagram/taufiqismail.id)

Jakarta - Taufiq Ismail merupakan seorang sastrawan senior asal Indonesia yang bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah. Ia lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat dan dibesarkan di Pekalongan dalam keluarga guru dan wartawan.

Sejak kecil, Taufiq memang sudah suka membaca dan bercita-cita menjadi sastrawan ketika duduk di bangku SMA. Sajak pertamanya berhasil dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah.

Taufiq Ismail sudah banyak mendapat penghargaan dari karya sastranya, salah satu karya Taufiq yang paling terkenal ialah puisi berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Hingga kini, pria kelahiran 1935 ini telah menghasilkan puluhan puisi, sajak, dan beberapa karya terjemahan. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Arab, Inggris, Jerman, Perancis, dan Jepang.

Setiap peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia, Taufiq selalu tampil membacakan puisinya. Tak hanya mahir dibidang sastra, ia pun pandai menciptakan lagu. Pada tahun 1974 dirinya menjalin kerjasama dibidang musik bersama Bimbo, Chrisye, Ucok Harahap, dan Ian Antono.

Berikut Tagar rangkumkan kumpulan puisi penuh makna karya Taufiq Ismail:

Taufiq IsmailSastrawan Indonesia, Taufiq Ismail. (Foto: Wikipedia)

Malam Sabtu


Berjagalah terus

Segala kemungkinan bisa terjadi

Malam ini


Maukah kita dikutuk anak-cucu

Menjelang akhir abad ini

Karena kita kini berserah diri?

Tidak. Tidak bisa


Tujuh korban telah jatuh. Dibunuh

Ada pula mayat adik-adik kita yang dicuri

Dipaksa untuk tidak dimakamkan semestinya

Apakah kita hanya akan bernafas panjang dan seperti biasa sabar mengurut dada?

Tidak. Tidak bisa


Dengarkan. Dengarkanlah di luar itu

Suara doa berjuta-juta

Rakyat yang resah dan menanti

Mereka telah menanti lama sekali

Menderita dalam nyeri

Mereka sedang berdoa mala mini

Dengar. Dengarlah hati-hati


Dengan Puisi, Aku


Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercerita

Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian yang akan datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya


Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini


Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukan kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalmiat yang berakhiran

“Duli Tuanku?”


Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus


Benteng


Sesudah siang panas yang meletihkan

Sehabis tembak-tembakan yang tak bisa kita balas

Dan kita kembali ke kampus ini berlindung

Bersandar dan berbaring, ada yang merenung


Di lantai bungkus nasi bertebaran

Dari para dermawan tidak dikenal

Kulit duku dan pecahan kulit rambutan

Lewatlah di samping Kontingen Bandung

Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana

Semuanya kumal, semuanya tak bicara

Tapi kita tidak akan terpatahkan

Oleh seribu senjata dan seribu tiran


Tak sempat lagi kita pikirkan

Keperluan-keperluan kecil seharian

Studi, kamar-tumpangan dan percintaan

Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam

Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam


Dari Catatan Seorang Demonstran


Inilah peperangan

Tanpa jenderal, tanpa senapan

Pada hari-hari yang mendung

Bahkan tanpa harapan


Di sinilah keberanian diuji

Kebenaran dicoba dihancurkan

Pada hari-hari berkabung

Di depan menghadang ribuan lawan


Takut 66, Takut 98


Mahasiswa takut pada dosen

Dosen takut pada dekan

Dekan takut pada rektor

Rektor takut pada menteri

Menteri takut pada presiden

Presiden takut pada mahasiswa

Takut "66, takut "98. []

Berita terkait
Lima Judul Buku dan Karya Sastra Favorit Muhammad Farhan
Berikut Tagar rangkumkan lima judul buku dan karya sastra favorit Muhammad Farhan.
Tips Pengenalan Sastra dan Bahasa Indonesia Bagi Anak-Anak
Berikut Tagar rangkumkan tips dari Natalia Lie untuk meningkatkan kecintaan anak usia dini terhadap Bahasa Indonesia.
Lima Puisi Tentang Cinta Karya Kahlil Gibran
Berikut Tagar rangkumkan 5 kumpulan puisi cinta yang romantis dan menyentuh hati, karya Kahlil Gibran.
0
Lima Puisi Penuh Makna Karya Taufiq Ismail
Berikut Tagar rangkumkan kumpulan puisi penuh makna karya Taufiq Ismail.