UNTUK INDONESIA
Lima Kue Lebaran Ini Wajib Ada di Meja Warga Kudus
Menetralisir muram suasana pandemi Covid-19, warga Kudus tetap menyajikan kue Lebaran di ruang tamu, walau tidak ada tamu. Ini 5 kue wajib ada.
Keciput. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Kudus - Lebaran 2020 telah berlalu, saat ini memasuki hari keempat dan di tengah situasi pandemi Covid-19, tidak ada tamu yang datang ke rumah. Semua orang merayakan Idul Fitri di rumah masing-masing untuk mencegah penularan virus. Tapi bukan berarti tidak ada kue Lebaran. Orang-orang tetap menyediakan kue di meja di ruang tamu.

Pandemi atau tidak, berikut ini lima kue Lebaran wajib aja di meja warga Kudus.

1. Nastar

NastarNastar. (Foto: Shopee)

Kue kering berbentuk bulat berwarna kuning dengan tekstur mengkilap pada permukaannya, namun terasa lembut saat digigit. Sensasi lumer dari selai nanas dengan cita rasa manis, asam, dan legit, membuat lidah tak mau berhenti bergoyang. Tak ayal nastar selalu menjadi primadona, keberadaannya selalu dicari.

Nastar dibuat dari campuran terigu, gula, telur, dan margarin. Enak, tapi kurang bagus buat kesehatan kalau dikonsumsi berlebihan. Karena kandungan kalori dalam satu buah nastar cukup tinggi, yakni sebanyak 75 kalori. Selain itu, nastar juga mengandung 2,14 gram lemak, 12,66 gram karbohidrat dan 1,14 gram protein.

2. Kue Kacang

Kue KacangKue Kacang. (Foto: Shopee)

Kue kacang terbuat dari campuran tepung, kacang tanah, dan margarin. Ini merupakan camilan legendaris yang diwariskan secara turun-temurun. Tak salah, dari dulu kue ini menjadi camilan favorit masyarakat.

Teksturnya kering, namun terasa lembut dan meleleh saat menyentuh lidah. Ditambah cita rasanya yang gurih, manis, dan asin, membuat kue kering satu ini sangat direkomendasikan menjadi pelengkap kegiatan silaturahmi Lebaran. Tapi saat pandemi tidak ada kegiatan kunjungan langsung dari rumah ke rumah, tak mengapa kue ini dinikmati dengan keluarga saja.

Kue kering satu ini memiliki bentuk beragam, ada bulat pipih, sabit, bintang, hingga berbentuk hati. Untuk menambah kesan imut dan menggugah selera, parutan keju atau wijen kerap ditaburkan di atasnya.

3. Kue Sagon

SagonSagon. (Foto: Shopee)

Nama kue sagon mungkin terasa asing bagi sebagian orang. Sebagai sajian Lebaran, kue ini memang tidak sepopuler nastar, kastengel atau kue kacang.

Akan tetapi soal cita rasa, kue jadul yang mulai sulit ditemukan di pasar-pasar tradisional ini boleh diadu. Kue kering terbuat dari campuran tepung ketan, kelapa, dan gula pasir ini memiliki cita rasa yang tidak kalah lezat dibandingan sejumlah kue kenamaan lainnya.

Teksturnya yang garing dan kering, terasa begitu krispi saat digigit. Paling menarik dari kue kering satu ini adalah sensasi kasar parutan kelapa yang timbul saat dikunyah serta rasa gurih manis saat mendarat di lidah, membuat mulut rasanya tidak mau berhenti mengkonsumsi camilan khas kampung satu ini.

Bagi masyarakat yang ada di perantauan, tidak bisa mudik saat pandemi, kue sagon ini dapat menjadi alternatif camilan yang mengingatkan kita pada kampung halaman. Ditemani secangkir teh manis hangat, kue sagon dapat menjadi sajian pelipur rindu pada momen Lebaran 

4. Bolu Ndeso

Bolu NdesoBolu Ndeso. (Foto: Shopee)

Bolu ndeso atau yang dikenal dengan julukan bolu jadul kering, namanya memang cukup familiar bagi masyarakat perdesaan. Meski terus berlalu, tapi panganan legendaris satu ini masih mendapat tempat di hati masyarakat. Utamanya para orang tua pecinta makanan jadul.

Kue kering ini memiliki tekstur permukaan yang garing. Untuk bagian dalamnya, kue ini memiliki tekstur kering dan padat. Sehingga saat mengkonsumsinya, harus ditemani segelas minuman hangat ataupun dingin untuk meminimalisir efek seret di tenggorokan.

Untuk rasa, bolu ndeso memiliki cita rasa dominan manis dan sedikit gurih yang dihasilkan dari campuran margarin. Bicara soal penampilan, bolu ndeso cenderung memiliki bentuk yang sederhana. Seperti bunga dan cangkang kura-kura.

Mengikuti perkembangan zaman, kue kering satu ini mulai disajikan dengan tampilan yang lebih menggugah selera. Salah satunya disajikan dalam bentuk bulat pipih dengan bubuhan emoticon senyum dari cokelat di bagian atasnya. Bentuk yang lebih menarik membuat kue ini mencuri perhatian semua kalangan, dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia.

Bolu ndeso memiliki ukuran tebal dan cukup besar. Sehingga mengkonsumsi tiga hingga empat buah bolu jadul ini sudah membuat perut terasa kenyang.

Di daerah perdesaan, kue kering ini selalu tampil mengisi toples di ruang tamu. Disajikan bersama secangkir teh hangat, bolu ndeso menjadi suguhan yang pas untuk menemani obrolan-obrolan santai pada hari raya. 

5. Keciput

KeciputKeciput. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Bagi masyarakat Kudus, kue kering satu ini menjadi sajian wajib setiap Lebaran. Saking membudayanya, Lebaran di Kudus akan terasa hambar jika belum mencicipi onde-onde kering khas Kota Kretek ini.

Kue kering yang terbuat dari tepung ketan ini memiliki tekstur garing dan renyah saat digigit, tidak terlalu empuk ataupun keras. Rasanya tidak terlalu manis, cenderung gurih yang dihasilkan dari campuran telur ayam.

Taburan wijen garing yang melapisi permukaan keciput membuat sensasi tersendiri saat makan kue satu ini. Lidah dijamin ketagihan dan rasanya tidak mau berhenti makan.

Setiap kegiatan silaturahmi Lebaran, masyarakat Kudus memiliki kebiasaan unik dengan kue kering satu ini. Yakni mencicipi, membandingkan rasa dan mengulik resep keciput yang disajikan di rumah tetangga atau kerabat.

Yu, keciput gawenanmu iki rasane enak lan empuk, sayange wijene kurang akeh. (Mbak yu, keciput buatanmu ini rasanya enak dan empuk, sayangnya wijennya kurang banyak).”

Atau, “Keciputmu watos, dicokot kemlotak nok untu. Iki reng gawe adonan endokmu kurang akeh, makane atos. Jane enak, sayange atos. (Keciputmu keras, digigit sampai mengeluarkan bunyi. Ini disebabakan saat proses pembuatan adonan telurnya kurang banyak. Sebenarnya enak, sayangnya keras).”

Percakapan-percakapan semacam itu mengisi kegiatan silaturahmi masyarakat Kudus. Meski proses pembuatan keciput khas Kudus sangat populer di masyarakat, tapi tidak semua orang mampu membuat keciput dengan cita rasa enak dan tekstur yang pas.

Meski sudah puluhan kali membuat keciput, tak jarang keciput yang dihasilkan memiliki tekstur terlalu keras ataupun lembek. Dari segi rasa juga kadang terlalu tawar, kadang ada yang terlalu manis. Di momen Lebaran, resep keciput enak biasanya terkuak. Warga yang sukses membuat keciput enak, tak segan berbagi resep.

Yu, keciput gawenanmu iki rasane enak lan empuk, sayange wijene kurang akeh. (Mbak yu, keciput buatanmu ini rasanya enak dan empuk, sayangnya wijennya kurang banyak).

Di sinilah, keciput mengambil peranan dalam kegiatan silaturahmi Lebaran. Bagi masyarakat Kudus, keciput bukan sekadar sajian pelengkap kegiatan Lebaran, lebih dari itu, keciput berperan mempererat silaturahmi antarkeluarga, antarsaudara, antartetangga, antarteman, antarsahabat. []

Baca juga:

Berita terkait
Manfaat Kue Nastar, Camilan Khas Lebaran
Kue nastar menjadi salah satu hidangan favorit saat perayaan hari raya Idul Fitri. Namun tahukah Anda manfaat dari kue nastar jika dikonsumsi?
Kue Garpu, Kuliner Lebaran Khas Semarang
Kue ini disebut kue garpu karena cara membuatnya memang dicetak menggunakan garpu. Berikut Tagar bagikan cara membuatnya.
Enam Kue Khas Jawa Timur untuk Hidangan Lebaran
Jawa Timur memiliki hidangan khas untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 H, kue kering salah satunya.
0
Lima Kue Lebaran Ini Wajib Ada di Meja Warga Kudus
Menetralisir muram suasana pandemi Covid-19, warga Kudus tetap menyajikan kue Lebaran di ruang tamu, walau tidak ada tamu. Ini 5 kue wajib ada.