UNTUK INDONESIA
Larangan Mudik Pengaruhi Tingkat Inflasi Jawa Timur
Akibat program larangan mudik oleh pemerintah membuat tingkat inflasi Jatim berdasarkan data BPS mencatatkan paling rendah dalam tiga terakhir.
Penumpang Kereta Api yang tiba di Stasiun Kota Baru Malang. (Foto: Tagar/Moh Badar Risqullah)

Malang - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat turunnya pengeluaran pada dua komuditas, transportasi dan makanan, memberikan andil besar terjadinya deflasi sebesar 0,12 persen pada April 2020. Hal ini menjadi catatan terbaik berturut-turut sejak tiga tahun sebelumnya pernah mengalami hal sama.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan terjadinya deflasi secara berturut-turut ini merupakan dampak adanya pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 atau virus corona. Sehingga, 2 dari 11 komoditas komuditas yang ada mengalami penurunan permintaan pasar.

"Paling besar (andil deflasi) di kelompok transportasi dengan -0,14 persen. Kedua kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -0,13 persen," kata dia dalam keterangannya saat konferensi pers virtual melalui aplikasi zoom di Kota Malang, Senin 4 Mei 2020.

Di kelompok transportasi, dijelaskannya terjadi penurunan semenjak pandemi Covid-19 belakang ini. Misalnya transportasi udara mengalami penurunan harga sebesar 10,44 % dengan andil -0,13 persen dan kendaraan (transportasi) online roda empat yang mengalami penurunan tarif sebesar 5,77 persen dengan andil sebesar -0,01 persen serta roda dua sebesar 1,22 persen dengan andil -0,01 persen.

Paling besar (andil deflasi) di kelompok transportasi dengan -0,14 persen.

Sedangkan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau. Dia menyampaikan andil terbesar yaitu turunnya harga daging ayam ras sebesar 11,90 % dengan andil -0,14 % dan cabai merah penurunan harga sebesar 43,63 persen dengan andil sebesar -0,05 persen.

"Selanjutnya (di kelompok makanan, minuman dan tembakau), harga telor ayam ras turun sebesar 6,42 persen dengan andil -0,04 persen dan bawang putih yang juga turun sebesar 10,41 persen dengan andil -0,03 persen," paparnya.

Adanya pergerakan deflasi di bulan April 2020 ini dikatakannya tidak seperti biasa dibandingkan bulan di tahun sebelumnya. Karena, hal ini terjadi berturut-turut dan dalam catatannya tidak pernah terjadi di tiga tahun sebelumnya.

"Jika melihat selama tiga tahun terakhir. Pergerakan deflasi di bulan ini tidak seperti biasanya. Dan fenomena seperti ini bulan sebelumnya (Maret) di tahun yang sama," ujarnya.

Sementara itu, kata Sunaryo, dari semua komuditas tadi ada pula yang menghambat deflasi dan menyumbang inflasi. Dicontohkannya seperti emas perhiasan mengalami kenaikan harga sebesar 4,80 persen dengan andil inflasi 0,04 persen.

Selanjutnya, gula pasir mengalami kenaikan harga sebesar 12,83 persen dengan andil 0,04 persen dan bawang merah juga mengalami kenaikan harga sebesar 19,86 persen dengan andil sebesar 0,04 persen.

"Kemudian, faktor penghambat deflasi paling terasa juga pada komuditas kesehatan. Terutama seperti vitamin, obat batuk, obat gosok dengan mengalami kenaikan harga sebesar 0,11 persen dengan andil 0,01 persen," ucapnya.

Sementara Kepala BPS Jawa Timur Dadang Hardiawan mengatakan April 2020 Jawa Timur adalah inflasi terendah dalam tiga tahun terakhir. Inflasi 0,68 persen tersebut disinyalir akibat pandemi Covid -19.

"April inflasi terendah pada tahun kalender dalam tiga tahun terakhir," ujarnya.

Dadang membandingkan inflasi Jatim pada April 2019 tercatat lebih tinggi yakni sebesar 0,74 persen. Sementara inflasi Jatim di Bulan April 2018 menyentuh 1,01 persen. Hal sama juga terjadi pada capaian month to month (mtom). 

Di April 2020 Jawa Timur deflasi 0,12 persen. Sementara di April 2019 (m to m) Jatim inflasi 0,41 persen, dan April 2018 (m to m) inflasi sebesar 0,18 persen.

Kondisi itu diperkirakan karena permintaan yang cenderung turun drastis sejak merebaknya Covid-19. Masyarakat banyak membatasi konsumsi selama pandemi Covid-19.

"Selain itu, pengendalian harga dengan menjaga stok ini relatif dapat menghindari kelangkaan. Disamping juga sosialisasi agar tidak menimbun barang yang digencarkan pemerintah," tuturnya.

Komoditas mempengaruhi deflasi terbesar adalah sektor transportasi. Puncak deflasi seharusnya terjadi pada April tahun 2020 karena banyak pembelian tiket di segala moda transportasi. Namun adanya pembatasan mobilisasi membuat sektor ini alami tekanan besar.

Data BPS Jatim angkutan udara menyumbang deflasi 0,13 persen, dengan perubahan harga turun 11,16 persen. Kemudian diikuti dengan anjloknya harga daging ayam yang mencapai 6,83 persen. Daging ayam ini memiliki andil dalam deflasi sebesar 0,08 persen.

Selanjutnya diikuti cabai merah yang alami perubahan harga minus 33,16 persen, dengan andil 0,06 persen pada deflasi. Selanjutnya bawang putih yang juga mengalami perubahan harga turun 15,29 persen, dengan andil 0,05 persen pada deflasi April 2020.

"Cabai rawit dan melon juga sumbang deflasi, masing-masing alami perubahan harga -8,90 persen dan -9,68 persen," tuturnya. []

Berita terkait
Alasan Pemprov Jatim Belum Salurkan JPS Rp 450 M
Pemprov Jatim belum mencairkan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) sebesar Rp 450 miliar karena Dinsos Kabupaten/Kota belum menyetor nomor rekening.
Kemenhub Pantau Pelaksanaan Larangan Mudik Lebaran
Kemenhub melakukan monitoring implementasi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik.
Ngeyel Tetap Mudik, 4.948 Kendaraan Dipaksa Putar Balik
Sebanyak 4.948 kendaraan dipaksa putar balik ke daerah asal memasuki hari keempat Operasi Ketupat 2020 terkait penegakan aturan larangan mudik.
0
Jaksa Agung Lantik Wakil: Bukan Seremonial Belaka
Jaksa Agung ST Burhanuddin melantik dan mengambil sumpah jabatan Wakil Jaksa Agung Setia Untung Arimuladi.