Indonesia
Kronologi Tantangan Mubahalah pada Amien Rais
Relawan Jokowi-Ma'ruf Amin tantang Rizieq Shihab dan Amien Rais bermubahalah, karena dinilai telah membuat gaduh masyarakat.
Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. (Foto: Instagram/amienraisofficial)

Jakarta - Relawan Jokowi-Ma'ruf Amin tantang Rizieq Shihab dan Amien Rais bermubahalah, karena membuat gaduh masyarakat. Perihal terjadinya kecurangan pada Pemilu 2019 yang dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif (TSM).

Ketua Cyber Army Jokowi-Ma'ruf, Diki Candra mengatakan, Rizieq Shihab maupun Amien Rais merupakan tokoh berpengaruh, keduanya sering melontarkan tudingan bernada provokatif seputar pemilu. 

Bermacam tuduhan Rizieq Shihab dan Amien Rais tanpa landasan bukti dan fakta.

Menurut Diki, kalau diacuhkan dapat membahayakan. Jika tidak ditangkal, bisa membuat perpecahan umat dan melahirkan perang saudara, seperti yang telah terjadi di Timur Tengah.

"Sudah mengganggu akidah kami umat Islam yang mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin, karena sejak awal sudah dibentuk opini bahwa hanya kelompok pendukung Prabowo-Sandi lah yang didukung umat Islam, didukung ulama, bahwa saudara Muhammad Rizieq Shihab adalah Imam besar bagi Umat Islam di Indonesia. Sehingga, yang tidak berimam kepada beliau seolah bukanlah bagian dari umat Islam," tulis Diki, dalam siaran pers 'Ajakan Mubahallah' yang disiarkan Sabtu 18 Mei 2019.

Tantangan untuk mubahalah dilontarkan beberapa kelompok relawan 01, terdiri dari Ketua Militan 34 Anwar Husin, Ketua Tim 7 Jokowi Centre Foundation Toni Suhartono, Ketua Panca Tunggal Banten Ali Nurdin Quraisy, Ketua Jawara Dukung Jokowi (Wardjo) Muhidin, Ketua Sahabat Jokowi Harris Mardiyansyah, Ketua Forum Kajian Fitnah Akhir Zaman Ardli Primana, dan pengasuh Ponpes Al Mahbubiyah KH Manarul Hidayat.

Untuk informasi, mubahalah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah SWT agar melaknat dan membinasakan atau mengadzab pihak yang batil (salah) atau menyalahi pihak kebenaran.

Lebih lanjut kata Diki, pentolan Front Pembela Islam (FPI) dan Ketua Dewan Kehormatan PAN itu acap kali membawa kalimat jihad dan berbagai manuver. Sehingga membangun opini, umat Islam pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019 kelompok penista agama, dan keislamannya diragukan. 

"Begitu sembrononya dengan begitu gencar menuduh kami munafik, dan lain-lain," ucapnya.

Diki menyayangkan narasi kedua tokoh, karena tidak apat membeberkan tuduhan secara gamblang, terkait kecurangan dalam pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia.

Menurutnya, apabila Rizieq Shihab dan Amien Rais bisa membuktikan dan yakin ada kecurangan yang TSM, semestinya berani menjawab tantangan darinya untuk bermubahalah dan tak keberatan bersumpah untuk sesuatu yang diyakini benar.

Jika yang disampaikan benar, maka mari (Amien Rais dan Rizieq Shihab) bermubahalah dengan saya, tentu harus sesuai dengan definisi.

Mubahalah, lanjut Diki, tentu saja harus dilakukan sesuai ketentuan dalam Islam. Yakni kedua belah pihak bertemu dengan membawa keluarga yang bersangkutan juga. Kalau perlu kata Diki, libatkan ulama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Harus sesuai syariat Islam. Bawa anak bawa istri, kemudian didampingi ulama, kalau perlu MUI sebagai fasilitator, mediator," kata dia.

Diki menegaskan, tanda keseriusan kubu 01 untuk melakukan sumpah mubahalah ialah dengan mengirim surat secara resmi kepada pihak-pihak yang dilayangkan, yakni Amien Rais, Habieb Rizieq Shihab, dan Ustaz Bachtiar Natsir.

"Saya sampaikan juga di surat mubahalah, nomor handphone saya untuk bisa dihubungi kapan bisa untuk mubahalah," pungkasnya.

Berikut definisi kecurangan TSM dan brutal yang diinterpretasikan oleh Diki sebagaimana dapat menjadi suatu terjemahan yang berlaku umum.

a. Terstruktur, berarti ada organisasi yang dibentuk dari pusat sampai ke daerah, yang diperintahkan untuk melakukan kecurangan.

b. Sistematis, berati telah dibuat rumusan khusus dalam menjalankan berbagai kecurangan yang dituduhkan tersebut dan diajarkan oleh pusat organisasi kepada seluruh tim untuk menjalankan kecurangan tersebut.

c. Masif, berarti kecurangan ini terjadi secara besar-besaran terjadi dimana-mana atau dalam skala luas yang bisa dianggap terjadi dihampir semua tempat.

d. Brutal, berarti kecurangan itu dilakukan secara kejam, memaksa, kurang ajar, terang-terangan, kasar, biadab.

Baca juga:

Berita terkait
0
Upacara Adat Bakar Batu, Solusi Untuk Damai di Papua
Penyanyi Edo Kondologit menyarankan kepada pemimpin daerah Papua Barat, Papua, dan Jawa Timur untuk menggelar pertemuan adat Bakar Batu.