Indonesia
Kolang-Kaling Simalungun Laris di Bulan Ramadan
Kolang-kaling satu buah paling dicari saat bulan Ramadan. Buah ini enak dijadikan pelengkap takjil saat berbuka puasa.
Proses pembuatan kolang-kaling di Nagori Simantin Pane Dame, Kabupaten Simalungun. (Foto: Tagar/Fernandho Pasaribu)

Simalungun - Kolang-kaling satu buah paling dicari saat bulan Ramadan. Buah ini enak dijadikan pelengkap takjil saat berbuka puasa. Baik untuk campuran kolak pisang maupun sirup dan es campur.

Penasaran bagaimana proses kolang-kaling bisa hadir sebagai pelengkap takjil, Tagar pun meluncur ke Nagori (Desa) Simantin Pane Dame, Kabupaten Simalungun, 9 Mei 2019 lalu siang.

Saat tiba di salah satu rumah warga yang menjadikan pembuatan kolang-kaling sebagai usaha, disambut dengan kesibukan. Ada enam warga tengah asyik mengolah buah aren menjadi kolang-kaling.

Linda Pangaribuan (44), pemilik usaha kolang-kaling tampak sangat senang. Dia mengaku bulan puasa dan Lebaran adalah bulan rezeki baginya dan warga sekitar untuk mengolah kolang-kaling.

Linda mengaku, pesanan kolang-kaling cukup meningkat. Apalagi kolang-kaling yang dalam bahasa Batak disebut 'halto' ini sudah sulit ditemukan, orderan tentu melimpah ke usahanya. Harga jual juga pasti naik.

"Sangat meningkat sekali, karena buahnya ini sudah jarang. Makanya permintaan dan harga jual selalu meningkat. Ini biasa digunakan untuk manisan, kolak, makanya ini laku pada saat bulan puasa," katanya.

Untuk harga kata Linda, hari-hari biasa dia jual Rp 4.000 per kilogram. Untuk bulan Ramadan naik menjadi Rp 9.000 per kilogram.

Ternyata menurut Linda, untuk mengolah buah aren menjadi kolang-kaling cukup memakan waktu yakni mencapai dua minggu. Waktu selama itu dibutuhkan untuk mendapatkan hasil berkualitas.

Proses pertama setelah buah aren diambil dari pohon, memisahkan buah aren dari tangkai. Buah lalu dimasak selama 30 menit, untuk membuang getahnya.

Setelah itu bagian ujungnya dipotong. Ini dilakukan untuk mengeluarkan isinya yaitu kolang-kaling. Buah yang sudah dikeluarkan kemudian dibersihkan dan direndam selama tiga sampai lima hari.

Buah lalu digepengkan atau dipipihkan menggunakan botol, agar kolang-kaling menjadi lebih lebar. Setelah itu buah direndam lagi selama empat hingga lima hari sebelum kemudian kolang-kaling dipasarkan.

Karena buah aren cukup lama berbuah, sekitar empat tahun. Tidak heran harga satu tandan buah aren dari petani cukup mahal yakni Rp 200 ribu.

"Satu tandan kalau sampai ke sini harganya Rp 200 ribu. Diperkirakan satu tandan mencapai 100 Kg. Kalau bagus kurang lebih 80 sampai 100 Kg. Untuk satu pohon saja ada tiga sampai empat tandan. Harus menunggu buahnya sekitar empat tahun," ungkap Linda.

Di tengah harga dari petani mahal dan pasokan buah aren terbatas, ternyata tak menyurutkan produksi. Seturut orderan terus datang, dalam tiga minggu terakhir saja usaha Linda telah menjual kolang-kaling sebanyak 2.800 ton untuk Kabupaten Simalungun dan sekitarnya.

"Kalau dari kampung kami ini, ada yang dikirim ke Jakarta. Karena ada toke khusus mengirim ke Jakarta," ujarnya.

Di tempat yang sama, Frengky Sihotang (36) mengungkapkan mereka memanfaatkan bulan puasa untuk menambah penghasilan, karena memang hanya satu bulan. "Kita manfaatkan ini karena perputarannya hanya sebulan saja," terangnya sambil memasak buah aren.

Frengky mengaku bisa membuat kolang-kaling awalnya belajar dari teman. Setelah paham dia mengolah sendiri. Untuk pasokan buah aren, tutur Frengky lebih sering mendapatkan dari ladang orang lain. "Karena kalau dari ladang kita sendiri tidak menentu kapan berbuah," tuturnya.

Dalam mengolah buah aren menjadi kolang-kaling, Linda dan Frengky masih menggunakan alat tradisional. Biasanya untuk pekerja cukup memberdayakan warga sekitar.

Selain orang dewasa, cukup banyak anak-anak nimbrung mengolah kolang-kaling. Anak-anak biasa bertugas membuat buah kolang-kaling jadi gepeng, mereka dibayar Rp 600 per kilogram. Sedangkan orang dewasa dibayar Rp 60 ribu per hari untuk sampai menghasilkan buah kolang-kaling siap jual.[]

Baca juga:

Berita terkait
0
Upacara Adat Bakar Batu, Solusi Untuk Damai di Papua
Penyanyi Edo Kondologit menyarankan kepada pemimpin daerah Papua Barat, Papua, dan Jawa Timur untuk menggelar pertemuan adat Bakar Batu.