UNTUK INDONESIA
Kisah Viral Polisi Pejuang Kemanusiaan di Ruteng NTT
Seorang polisi muda viral di Nusa Tenggara Timur karena sering melakukan kegiatan kemanusiaan, khususnya pada pasien rumah sakit yang tidak mampu.
Bripka Andi Dharma Elim Sallata bersama keluarga pasien yang dibantunya. (Foto: Tagar/Pepi Kurniawan)

Ruteng – Pria dalam balutan seragam Kepolisian Republik Indonesia (Polri) itu tampak masih muda, meski sebagian wajahnya tertutup masker. Kacamata berwarna gelap terselip di sela kancing depan baju seragamnya yang berwarna cokelat. Sementara pada lengan kirinya terpasang tanda bertulis Bhabinkamtibmas.

Di samping kanan Andi Dharma, nama polisi muda tersebut, sepasang pria dan wanita berdiri di dekat tempat tidur, yang terlihat seperti tempat tidur klinik atau rumah sakit. Si perempuan menggendong anak kecil yang kepalanya dibalut dengan perban dan selang infus pada lengannya.

Beberapa waktu terakhir nama Bripka Andi Dharma Elim Salallata viral dan ramai dibahas publik, khususnya di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bripka Andi Dharma bukan viral karena menangkap pencuri atau mengamankan pelaku kejahatan, atau kegiatan lain yang berkaitan dengan tindak kriminal. Andi Dharma viral karena melakukan tugas lain polisi sebagai pengayom masyarakat, yang berupa kegiatan kemanusiaan.

Jadi Jaminan di Rumah Sakit

Pria kelahiran Wakaibubak, Kabupaten Sumba Barat itu pertama kali membantu dua orang yang mengalami luka bakar, Putri dan Neira, Balita asal Desa Kakor, Ndoso, Manggarai Barat.

Kala itu Putri dan Naira merintih kesakitan karena sekujur tubuh keduanya dipenuhi luka bakar. Awalnya kedua Balita tersebut tidak mau dirawat ke rumah sakit karena terkendala biaya.

Merasa kasihan dengan kedua Balita itu, Bripka Andi Dharma berinisiatif mengantar mereka ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ben Mboi Ruteng. Bukan hanya mengantar, Bripka Andi Dharma bahkan bersedia menjadi jaminan untuk mereka karena kondisinya semakin parah.

Sampai di rumah sakit, keduanya menangis berjam-jam merintih kesakitan. Neira mengalami luka bakar di bagian wajah, kepala, dan tangan. Sedangkan Putri, luka bakar di hampir sekujur badannya.

Orangtua Putri dan Naira sempat membawa kedua buah hati mereka ke Puskesmas Tentang, Manggarai Barat. Putri dan Neira tidak sampai sehari di Puskesmas, keduanya langsung di rujuk ke RSUD Ben Mboi.

Di RSUD Ben Mboi, Putri dan Neira dirawat dengan baik selama satu Minggu. Namun, orangtua mereka memutuskan untuk mengeluarkan Putri dan Neira lebih awal karena tidak punya biaya.

Keluar dari rumah sakit, Putri dan Neira pun di rawat di Biara Susteran Hamba-Hamba Ekaristi di Nekang, Kelurahan Watu, Langke Rembong. Selama seminggu dirawat di biara susteran, tidak ada perubahan yang berarti. Neira dan Putri kondisinya makin parah. Luka bakarnya basah dan bernanah. Putri sering sesak napas.

Informasi tentang Neira dan Putri pun sampai ke telinga Bripka Andi Dharma yang bertugas sebagai seorang Bhabinkantibmas di kelurahan itu.

Karena tempat istrahat Putri dan Naira berada dalam wilayah Tugas Polisi Dharma, atas persetujuan para suster, orang tua dan keluarga, dia kembali mengantar keduanya ke rumah sakit.

Kami putuskan untuk kembali mengantar Putri dan Neira ke rumah sakit.

Saat itu harapan Andi Dharma hanya Putri dan Neira bisa dirawat dengan maksimal di RSUD Ben Mboi. Dia meyakini, akan selalu ada orang-orang baik yang terketuk hatinya untuk membantu.

Alhasil, saat itu ia berhasil kumpulkan uang dari para donatur sebanyak Rp 80 juta untuk membantu keduanya. Uang itu digunakan untuk merawat Putri dan Naira sampai sembuh.

Urusan Kemanusiaan Adalah Kewajiban

Bukan hanya membantu Putri dan Naira, Bripka Andi Dharma juga membantu beberapa orang lainnya yang mengalami kesusahan. Bahkan, saat resmi menutup donasi untuk Putri dan Naira, dia langsung kembali membantu Teofilus Dolan, warga asal Mbaumuku, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong, yang juga menderita luka bakar.

Cerita Polisi di Ruteng (2)Bripka Andi Dharma Elim Sallata. (Foto: Tagar/Pepi Kurniawan)

Teofilus Dahlan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya akibat tersengat arus listrik pada 21 April 2020 lalu. Berdasarkan keterangan dokter di RSUD Ben Mboy. Bukan hanya luka bakar. Dampak dari sengatan arus listrik itu juga menyebabkan Teofilus mengalami penjepitan saraf pinggang yang berakibat pada kelumpuhan.

Pihak RSUD Ben Mboy pun menyarankan keluarga untuk merujuknya ke Bali. Tapi pihak keluarga Teofilus tidak mampu membawanya ke sana karena kondisi perekonomian mereka.

Dharma kembali membantu mereka dengan membuka donasi melalui rekening tabungan milik istri Teofilus. Tapi Andi Dharma tidak mengetahui jumah uang yang terkumpul saat itu.

Setelah itu, Suami dari Vincensia Novita Maru ini juga membantu Agnesia Leanora, bayi 6 bulan asal Konggang, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong. Leanora mengalami gangguan jantung sejak dini dan bertahan hidup dengan bantuan oksigen yang tiap hari bertengger di hidungnya.

Menurut orang tuanya, sejak usia 3 bulan bayi Leanora di diagnosa oleh dokter mengalami masalah pada jantung dan penangannya harus melalui operasi jantung tetapi karena fasilitas untuk operasi Jantung di RSUD Ben Mboy belum menunjang maka dokter menyarankan agar bayi Leanora di Rujuk ke Rumah Sakit jantung Harapan Kita di Jakarta.

Namun lagi-lagi kendala perekonomian membuat keluarga Leanora tidak bisa membawanya ke Jakarta. Leanora hanya dirawat seadanya di rumah orang tuanya di konggang Ruteng Manggarai.

Selama perawatan di rumah , bayi Leanora harus selalu menggunakan bantuan oksigen untuk membantu pernapasannya.

Orang tuanya mengaku sudah kehabisan biaya untuk membeli oksigen setiap 3 atau 4 hari sekali.

Bripka Andi Dharma kemudian menggalang dana melalui postingan di media sosial Facebook, dan berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp 76 juta.

Segala kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya itu, kata Andi Dharma, muncul secara spontan dan tanpa direncanakan. Dia hanya merasa kasihan dan iba terhadap kondisi warga-warga tersebut.

"Ada kepuasan batin ketika kita sudah membantu orang susah. Awalnya Saya hanya rasa simpati dan iba lihat kondisi mereka, terlebih dengan kondisi orang tua sebagaian besar keluarga kurang mampu" katanya kepada Tagar, Selasa 10 November 2020.

Terlebih sebagai seorang anggota Polri, lanjut Andi Dharma, dirinya harus peka terhadap kondisi yang ada di sekitarnya, terutama yang berkaitan dengan kemanusiaan.

Menurut Andi Dharma, gerakan kemanusiaan juga merupakan salah satu tugas yang harus dilakukan oleh polisi. Apalagi kegiatan yang ia lakukan selama ini selalu mendapatkan dukungan dari Kapolres Manggarai, AKBP Mas Anton Widyodigdo.

"Jangan sampai ketidakmampuan orangtua berobat tapi korbankan anaknya. Sebenarnya seluruh anggota Polri itu wajib jalankan misi kemanusiaan.

Saya juga bersyukur selama ini mendapat dukungan dari pak kapolres, bahwa setiap kali saya lakukan penggalangan dana, pak kapolres selalu menjadi orang pertama yang memberikan bantuan bahkan kunjungi langsung," katanya.

Dalam waktu dekat ini, Bripka Andi Dharma akan membantu Herlina Suryati Hadiah, anak berusia 6 tahun dari Pong Lengor, Kecamatan Rahong Utara. Herlina menderita beberapa penyakit, di antaranya liver, paru-paru, dan limfa. Herlina merupakan anak yatim, ayahnya baru meninggal sekitar empat bulan yang lalu. []

Berita terkait
Ternak untuk Maulid Nabi Muhammad dan Kepercayaan Warga Aceh
Sebagian warga Aceh memiliki kepercayaan bahwa ternak yang diniatkan untuk disembelih pada perayaan maulid Nabi Muhammad bisa menghindarkan bahaya.
Harapan Besar Nelayan Pandeglang pada Kapal Semen TNI
Sejumlah nelayan di kawasan Pantai Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, berharap TNI memproduksi lagi kapal dari semen.
Mimpi Anak Aceh Penjual Air Nira Jadi Prajurit TNI AU
Seorang anak Aceh penjual air nira bercita-cita menjadi prajurit TNI AU. Mimpinya itu tak lepas dari cita-cita sang ayah yang kandas.
0
Kisah Viral Polisi Pejuang Kemanusiaan di Ruteng NTT
Seorang polisi muda viral di Nusa Tenggara Timur karena sering melakukan kegiatan kemanusiaan, khususnya pada pasien rumah sakit yang tidak mampu.