Hari masih siang, Pandapotan Sianipar (53) bergegas menyalakan sepeda motor tuanya dari Dusun Sibitara, Desa Hutanamora, Kecamatan Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, menuju Pantai Bulbul. Ia membawa serta istri dan dua anaknya yang masih kecil. Satu sudah bisa berjalan dan bermain, sedangkan satu lagi masih di gendongan ibunya.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer, mereka sampai di Pantai Bulbul, Desa Lumban Bulbul. Matahari sedang bersinar terik-teriknya. Isterinya, Boru Napitupulu, lalu mengikatkan sarung di bawah pohon seri yang teduh, menjadi ayunan. Anaknya yang masih bayi tertidur pulas di ayunan itu.

Setiap akhir pekan dan hari libur, Pandapotan selalu datang menjajakan tuaknya ke Pantai Bulbul. Rupiah lebih besar dijemputnya dan setidaknya mampu menambah penghasilan keluarga.

Tak jauh dari pohon seri itu, tepat di tepi jalan masuk menuju lokasi pantai, Pandapotan meletakkan tuak yang ditaruhnya dalam ember. Kemudian, ia mengambil beberapa botol air minum kemasan bekas yang sudah dibersihkan. Ia mengisinya satu persatu hingga hampir penuh dengan cairan putih menyerupai susu ke dalam botol kemasan.

Baca juga: 1000 Tenda, Pintu Masuk Desa Meat di Toba Samosir

Cairan itu tak lain adalah tuak. "Ini langsung dideres dari pohonnya," katanya. Tuak itu berasal dari deresan pohon nira, bukan kelapa. Di kawasan Tobasa Samosir, pohon nira tidak tumbuh sesubur di kawasan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Sama seperti di Samosir dan di beberapa kawasan di Simalungun, tuak dideres dari pohon nira, karena pohon itu yang lebih banyak tumbuh daripada pohon kelapa.

"Bisa dibilang semua tuak di Balige ini (dideres) dari pohon aren (nira). Jaranglah pohon kelapa atau bisa dibilang tak ada," kata Pandapotan dalam bahasa Batak, yang saya ajak ngobrol di sela-sela pekerjaannya mengisi tuak ke botol, Minggu siang pertengahan Juni 2019 itu.

Setelah botol-botol itu selesai diisinya, ia menaruh sebagian di kantong rompinya dan sebagian dibawanya dengan kedua tangannya. Beberapa botol ia taruh di kedai tak jauh dari pantai, sistemnya konsinyasi. Pemilik kedai akan menjualnya dan setelah terjual, Pandapotan akan memberikan sekian rupiah dari setiap botol tuak yang terjual.

Tak mau bergantung dari itu, Pandapotan juga menjemput rupiah dari tuak dengan berkeliling pantai, berharap ada orang Batak yang sedang "haus" membeli jualannya itu. Berjalan kaki, ia menawarkan ke pengunjung yang duduk lesehan sambil menikmati pesona Danau Toba.

Sebotol tuak berisi kira-kira 600 ml dijualnya seharga Rp 10 ribu. Ia bisa menjual satu ember tuak itu menjadi sekitar 25 - 40 botol. Tapi kalau tidak habis, dibawanya pulang ke rumah dan dijajakan di lapo (kedai) tuak yang dikelolanya bersama istri.

"Di huta (kampung) saya juga buka lapo," katanya.

Setiap akhir pekan dan hari libur, Pandapotan selalu datang menjajakan tuaknya ke Pantai Bulbul. Rupiah lebih besar dijemputnya dan setidaknya mampu menambah penghasilan keluarga.

TuakTuak (Foto: Tagar/Tonggo Simangunsong)

Baginya, tuak adalah sumber rezeki, sekalipun bagi sebagian orang minuman itu bisa bikin mabuk kalau diminum berlebihan. Namun, bila diminum dengan takaran yang pas, malah bisa menjadi minuman menyehatkan.

Baca juga: Keluarga Pasien Kecewa Pelayanan RSUD Porsea

"Saya biasa minum tuak satu gelas sebelum tidur. Tidur jadi enak, bangun pagi jadi lebih bugar," kata Mindo Boru Pardede, warga Desa Lumban Bulbul, yang membeli tuak dari Pandapotan.

"Padahal, kalau saja tuak ini bisa disajikan dengan menarik dan dikaitan dengan pariwisata, pamornya akan naik. Sama seperti sake di Jepang, cuma harus tetap menjaga kemurniannya."

Anggapan miring terhadap tuak seolah sudah menjadi streotipe. Ini dikarenakan sebagian orang meminumnya berlebihan dan mengonsumsinya untuk kesenangan berlebihan, hingga lupa takaran. Anggapan miring itu semakin diperkuat dengan adanya sejumlah penjual tuak nakal yang mencampurnya dengan larutan lain sehingga membuat dosis dalam tuak memabukkan.

Bila dideres dengan secara murni tanpa campuran yang aneh-aneh, tuak merupakan minuman yang bisa bikin badan hangat dan bikin enak tidur.

"Itu yang membedakan tuak di kota dan di kampung. Kalau di kampung umumnya masih murni, tapi kalau di kota, seperti di Medan, sulit menemukan kedai tuak yang menyediakan tuak asli," jelas Jones Gultom, warga Medan, penggiat dan pemerhati budaya Batak, yang sedang berkunjung ke Pantai Bulbul.

Fenomena yang menjadikan tuak sebagai komoditi bisnis belaka menjadikan tuak terkesan menjadi minuman yang hanya untuk bikin orang mabuk.

"Padahal, kalau saja tuak ini bisa disajikan dengan menarik dan dikaitkan dengan pariwisata, pamornya akan naik. Sama seperti sake di Jepang, cuma harus tetap menjaga kemurniannya," katanya.

Baca juga: Pecatur Tobasa Bahagia Terima Betor dari Bupati

Bagi Pandapotan, sepanjang tuak yang dijualnya murni tanpa campuran cairan lain, tuaknya akan tetap menghasilkan rupiah. Kepercayaan adalah harga yang harus dijaga demi mempertahankan agar rezeki selalu datang dari usahanya itu.

Hari sudah mulai sore. Matahari mulai turun, bersembunyi ke balik Danau Toba. Orang-orang yang telah menikmati waktu santainya, satu per satu pulang dari Pantai Bulbul.

Pandapotan bersama istri dan anaknya juga berkemas dan bersiap pulang ke rumahnya. Sore itu, tuaknya habis dan membawa rupiah untuk menyambung hidup untuk hari esok. []