Jakarta, (Tagar 20/10/2017) - Pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengumbar kata ‘Pribumi’ dalam pelantikannya baru-baru ini, bukan hanya mengundang polemik sejumlah tokoh dan publik di Indonesia, budayawan Emha Ainun Nadjib juga tergelitik ikut berbicara seputar kata ‘Pribumi’ ini. Cak Nun, begitu Emha Ainun Nadjib, biasa disapa, menyampaikan sebuah kisah tentang persoalan kata ‘pribumi’ ini. Begini kisahnya:

Pemuda belia Ali bin Abi Thalib, berduel meladeni tantangan Amr bin Abd Wad AlAmiri, mewakili pasukan masing-masing. Pasukan apa? Jangan. Ini kisah tentang zaman di mana suatu bangsa bisa berperang besar di antara mereka karena mempertengkarkan satu kata. Misalnya: pribumi, radikal, kafir, makar, khilafah, dan lain-lain.

Cukup beberapa episode pertarungan kecanggihan bermain pedang, Amr tergeletak, ujung pedang Ali menyentuh lehernya, tinggal menancapkannya untuk membunuhnya dan membuat seluruh pasukannya menang.

Tiba-tiba dari posisi telentangnya Amr meludah ke wajah Ali, mengenai sebelah pipinya. Termangu beberapa saat, kemudian Ali menarik pedangnya, menyarungkannya. Tidak menggunakan kesempatan dan haknya untuk menusukkan pedangnya ke leher Amr.

Betapa terkejutnya semua yang menyaksikan, kedua pasukan maupun terutama Amr sendiri. Tatkala ditanya kenapa mengambil keputusan itu, Ali menjawab, “Aku terhina dan marah diludahi olehnya. Kutarik pedangku, karena aku kawatir membunuhnya karena amarah dan kebencian”.

Bukankah itu perang, sehingga Ali berhak membunuhnya untuk memenangkan Pasukannya, dengan kebencian atau alasan apapun? Jangan. Ini kisah tentang zaman di mana suatu bangsa kehilangan pengetahuan dan keseimbangan untuk mengerti proporsi antara kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan dan kemuliaan.

Ini berbeda dengan kisah lain dari zaman antah berantah, ketika Anis (bukan Ali) bin Abi Thalib, dalam posisi ujung pedangnya menempel di leher lawannya, tetapi malah ia yang meludahi wajah lawannya yang telentang itu.

Sebenarnya ini soal momentum, yang menseyogyakan ketepatan ucapan atau tindakan. Kalau substansinya, mungkin ia punya sejarah pengalaman dan tumpukan pemikiran yang membuatnya layak, bahkan merasa harus meludahi wajah lawannya. Hanya saja karena ia adalah pimpinan semua pasukan, mestinya dipertimbangkan kemungkinan lain formula tindakan dan pilihan ucapan yang lebih santun, bijaksana dan mengurangi wilayah pertengkaran.

Sesungguhnya Allah menciptakan wajah sebagai ekspresi keindahan dan harga diri kemanusiaan. Dan ludah sebagai alat untuk menikmati alam dan kehidupan. Tetapi ini adalah kisah tentang zaman di mana sebuah bangsa tak habis-habisnya bertengkar di antara mereka, karena semakin kehilangan kemampuan dan ilmu untuk merawat wajah dan menjaga lidah mereka.

Zaman di mana sebuah bangsa menjadi seakan kehilangan pengetahuan tentang bagaimana tidak merusak wajahnya, serta kehilangan kepekaan untuk meletakkan ludah pada ketepatan ruang dan waktunya.

Dalam kisah lain, Cak Nun juga membeberkan cerita tentang persoalan hukum dan agama. Berikut ceritanya:

Saya bertanya kepada anak-anak: “Andaikan dalam hidup ini tidak ada hukum, apakah kamu mencuri?”

“Tidak”, jawabnya.

“Kenapa?”

“Karena saya manusia”

“Kenapa karena kalian manusia maka kalian tidak mencuri?”

“Karena manusia punya akal, kemampuan berpikir tentang kewajiban dan hak, serta menghitung keseimbangan dan harmoni kebersamaan”

“Kalau Tuhan tidak pernah mengutus Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul untuk mengajak berbuat baik, apakah kamu berbuat buruk?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena saya manusia”

“Bukankah manusia wajar jika berbuat buruk?”

“Ya. Tapi tidak wajar bagi kemanusiaan saya”

“Bukankah baik maupun buruk adalah kelengkapan manusia?”

“Menurut akal saya, baik dan buruk bukan untuk dilengkapkan, melainkan untuk dipilih. Dan saya tidak memilih keburukan”

“Bagaimana kalau ada suatu keadaan yang tidak memberimu peluang kecuali berbuat buruk? Misalnya korupsi atau berdusta?”

“Hati saya akan hancur, karena hati saya hanya siap dengan keindahan. Pikiran saya akan buntu dan tidak bisa bekerja, karena perbuatan buruk akan membikin konslet pikiran saya”

“Andaikan Tuhan tidak mengirimkan Kitab Taurat, Zabur, Injil, Al-Qur`an, juga tidak ada Wedha atau Bagawadgita atau kitab ajaran apapun lainnya, apakah hatimu tega menyakiti sesama manusia?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena saya manusia. Manusia memiliki rasa sakit dan menyadari perbedaan dan jarak antara sakit dengan sehat. Kalau saya menyakiti manusia, maka yang saya sakiti adalah juga diri saya sendiri, sebab saya juga manusia. Saya manusia yang bukan manusia lain, tetapi muatan jiwa kami hanya satu, yakni kemanusiaan, rasa sebagai manusia”

“Andaikan kamu tahu bahwa dulu Qabil membunuh Habil saudaranya sendiri, kemudian tidak ada pernah kamu dengar larangan membunuh, apakah kalian pernah akan membunuh?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena saya manusia. Saya membutuhkan kehidupan. Saya tidak berani memisahkan manusia dari kehidupan, karena logika akal saya mengatakan bahwa pasti ada yang berhak untuk menyatukan atau menyatukan manusia dengan kehidupan. Dan yang berhak itu jelas bukan saya”

“Andaikan tidak pernah kalian dengar kalimat an-nadlofatu minal iman, kebersihan itu bagian dari iman, apakah kalian tidak mandi?”

“Tetap mandi”

“Andaikan kalian tidak tahu bahwa dalam kehidupan ini ada Tuhan, apakah kalian tetap makan, minum, buang air kecil dan besar, berpakaian, bikin tempat berteduh, membikin alat untuk dikendarai?”

“Ya. Di dalam diri manusia saya sudah tertanam naluri dan kesadaran untuk melakukan itu semua, meskipun andaikan saya tidak tahu siapa yang menanamnya”.

Emha Ainun Nadjib, Kadipiro, 18 Oktober 2017