UNTUK INDONESIA
Kisah Ambae dan Kehadiran Internet di Bantaeng
Warung internet (warnet) Ambae menjadi gerbang hadirnya dunia internet di Kabupaten Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Karyawan warnet Ambae saat mengedukasi pengunjung tentang internet (Foto: Tagar/dok.Ambae)

Bantaeng - Pagi itu, Abdul Azis yang karib disapa Ambae duduk di sebuah meja panjang milik tukang bubur kawasan Pantai Seruni, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Sesekali, dia menggeser tempat duduknya menghindari sinar matahari yang mulai terik menembus pepohonan rindang. Sementara rekannya, tetap setia bermenung di sela terik pagi ditemani secangkir kopi.

Filosofi ayo ini mengajak semua berbuat dan melakukan sesuatu yang positif.

Aiz populer dengan keahliannya di bidang informatika di Kabupaten Bantaeng. Namanya sudah harum jauh sebelum jaringan 4G Lte menginvasi daerah berjuluk Butta Toa itu.

"Melek teknologi adalah sebuah tuntutan," katanya membuka cerita dengan Tagar, Sabtu 11 Januari 2020.

Di tahun 1997, TVRI merupakan stasiun televisi nasional yang menjadi tontonan orang tua Azis. Tayangan paling hits kala itu adalah dunia dalam berita.

Kala itu, kenang Aziz, dia kerap berdampingan dengan sang ayah ikut menonton ragam siaran TV berpelat merah itu. Aziz mengaku menyukai dunia presenter berita.

"Saat itu usia saya masih 16 tahunan. Saya tanya, apa yang ada di belakang pembawa berita itu yah? Ayah pun menjawab dengan detail," kata Aziz semberi membeberkan ayahnya adalah seorang engineer atau ahli mesin.

Sejak saat itu, rasa penasaran Aziz kian tinggi untuk mengetahui seberapa besar fungsi komputer yang ada di meja presenter TVRI itu. Dia pun berjuang keras untuk mendapatkan uang membeli perangkat keras komputer untuk dirakit.

AmbaeAzis Ambae saat ditemui Tagar, Sabtu 11 Januari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Beragam kerja keras dan banting tulang dijalankannya demi mendapatkan komputer. Mulai dari berjualan kue, membantu nelayan, sampai menjadi pramusaji pun dijabaninya.

Menurut Aziz, ketertarikannya terhadap dunia teknologi tidak saja didasari ruang-ruang komputer di meja presenter TVRI. Namun juga karena ulasan-ulasan berbagai surat kabar yang kerap dibacanya, salah satunya koran lokal bernama Pedoman Rakyat (resmi tutup 2007).

Kala itu akhir 1998, halaman 11 di Pedoman Rakyat dipenuhi dengan iklan baris. Mulai dari lowongan kerja, pelatihan, seminar dan lain sebagainya. Salah satu yang membuatnya senang adalah ketika melihat pengumuman pelatihan dan seminar tentang IT.

Orang tua sempat menegur, mau apa banyak-banyak komputer. Orang kan hanya pakai satu.

Aziz bertekad untuk mengikuti pelatihan tersebut di Makassar. Ia yang masih duduk di bangku SMA, kian giat bekerja agar mendapatkan uang lebih untuk biaya transportasi ke ibu kota Sulawesi Selatan.

"Biaya pelatihannya Rp50 ribu, itu kalau berangkat ke Makassar biasanya bawa Rp200 ribu," kenangnya.

Lima tahun setelahnya, Aziz mampu merakit satu unit komputer hasil perangkat yang dibelinya dengan jerih payah. Dia pun tak menyangka sampai segila itu dengan dunia IT.

Warnet Pertama di Bantaeng

Tak puas dengan satu unit, Aziz merakit sejumlah komputer lainnya. Berbekal pengetahuan yang dia dapat, Aziz tak lagi harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merakit satu unit komputer.

"Orang tua sempat menegur, mau apa banyak-banyak komputer. Orang kan hanya pakai satu," katanya.

Lambat laun, komputer yang dirakitnya kian banyak dan mulai mendatangkan manfaat. Selain itu, Aziz pun tak lagi bekerja sendirian merakit komputer. Dia memperkerjakan beberapa orang yang sekaligus menjadi rutinitas tersebut sebagai tempat perkumpulan berbadan hukum.

Banyak bidang yang digeluti Aziz. Mulai dari Ambae Band, Ambae IT hingga Ambae FM dan warnet. Ambae sendiri berasal dari bahasa Makassar yang berarti ayo.

"Filosofi ayo ini mengajak semua berbuat dan melakukan sesuatu yang positif," katanya.

Jaringan internet baru merambah ke Bantaeng sekitar 2002. Kala itu, belum ada yang bisa memanfaatkan teknologi baru itu, bahkan termasuk di pemerintahan.

Azis jeli melihat peluang bisnis internet ini. Sayangnya, hampir semua kru di Ambae buta menggunakan komputer karena mereka hanya berlatih merakit.

Namun dia tetap yakin untuk mendirikan warung internet (warnet). Dengan semua keterbatasan tenaga, Aziz mulai mengari krunya bermain komputer ke internet.

Selama dua tahun berjalan, warnet Aziz nyaris tanpa pelanggan. Dia pun lagi-lagi diprotes keluarganya sendiri.

"Keluarga protes karena pembayaran listrik mahal. Banyak komputer yang menyala, belum lagi pembayaran internet. Tapi saya bertahan dan memanfaatkan internet itu untuk mengajari anggota Ambae. Alhamdulillah setelah anggota Ambae bisa, orang-orang di Bantaeng perlahan masuk ke Warnet Ambae," katanya.

Jejaring media sosial (medsos) Friendster perlahan mulai digemari generasi muda, terutama pelajar SMP dan SMA. Warnet-nya pun mulai disesaki pengunjung dari berbagai penjuru Bantaeng.

"Sebenarnya dari awal tidak ada niat untuk buat warnet. Hanya hobi rakit-rakit komputer, sambil belajar lewat majalah," katanya.

Tak hanya para kru, Ambae juga berubah menjadi tempat belajar melek teknologi bagi para pelajar. Aziz pun memberikan materi pembelajaran dasar kepada pengunjunya yang bahkan dari cara memegang mouse. Butuh waktu hingga lima kali pertemuan agar pengunjung paham komputer dasar sampai masuk ke internet.

Warnet 2Karyawan warnet Ambae saat mengedukasi pengunjung tentang internet (Foto: Tagar/dok.Ambae)

Azis Ambae kian bersemangat di tengah popularitasnya dalam dunia IT saat itu. Kunjungan ke warnet Ambae kian padat. Bahkan ada orang yang rela mengantri hingga 300 meter hanya untuk menikmati komputer yang masih minim di era 2000-an. Saat itu, Ambae mematok harga Rp1000 rupiah perjamnya.

"Kalau ada yang belum paham main komputer, kami gratiskan sampai dia bisa memakainya, kemudian baru dikenakan tarif," tuturnya.

Aziz bercita-cita warga Bantaeng, terutama generasi muda tidak gagap teknologi (gaptek). Dia terus berupaya bagaimana masyarakat mengenal layanan goggle hingga ke daerah pelosok.

"Misalnya seorang petani yang ingin mengecek harga pupuk, bisa diketahui lewat internet," kata lelaki kelahiran 1981 itu.

Hari ini, keadaan tak lagi seperti 20 tahun silam. Setiap orang bisa mengakses informasi melalui internet. Semua tersaji praktis di ujung jari masyarakat. Petani, pengusaha, pelajar bahkan anak-anak pun kini melek teknologi.

Sementara masa keemasan Ambae yang dijaga empat orang itu, hanya bertahan sekitar 10 tahun. Meski tak jaya seperti dulu lagi, Ambae tetap bangga pernah berbagi ilmu untuk masyarakat Bantaeng, khususnya di bidang internet.

Latah

Eksistensi warnet Ambae membuat memancing semangat warga sekitar melirik bisnis serupa. Saking banyaknya tumbuh warnet baru, Ambae sempat memprediksi jasanya tidak bisa se-eksis dulu lagi. Strategi marketing pun ia lakukan di tengah persaingan warnet yang kian merebak di Bantaeng.

"Kami sudah prediksi kalau akan ada saingan. Namanya juga kecenderungan orang-orang itu latah, ikut-ikutan. Ada warnet baru yang biaya perjam lumayan mahal, kami turunkan harga. Misalnya tarif di sana Rp 10 ribu per jam, kami Rp 5 ribu," katanya.

Sebenarnya dari awal tidak ada niat untuk buat warnet. Hanya hobi rakit-rakit komputer, sambil belajar lewat majalah.

Kendati disadari tarif Rp5 ribu keuntungannya kecil, namun cukup menyiksa kompetitor warnet. "Dengan 5000 rupiah, pelanggan akan ke tempat yang lebih murah. Keuntungannya bagi kami, komputer dan tempat sudah ada sejak lama dan tidak mengeluarkan modal lagi," bebernya.

Sejauh ini, warnet Ambae masih eksis berdiri di rumah berukuran 4x12 meter. Berada persis di sisi Jalan T.A Gani 4, Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Meski harus diakui tidak seramai dulu lagi.

Bertemu Jodoh

Nama besar Ambae menjadi modal di tengah persaingan bisnis internet kala itu. Pelanggan tetap yang sering meramaikan Ambae kebanyakan para karyawan kantor yang harus mengirim laporan setiap subuh. Bahkan omzetnya tembus angka Rp12 juta perbulan, nominal fantastis di era 2000-an.

Kesuksesan Aziz mengelola warnet mempertemukannya dengan Nur Linda, gadis pengunjung Ambae yang akhirnya sudah 8 tahun membangun mahligai rumah tangga bersamanya. Peran lelaki brewok itu membantu pembuatan skripsi berujung lamaran di tahun 2012. []


Berita terkait
Rara Mendut, Cinta dan Ritual Seks di Makam Sleman
Kabar tentang ritual seks di makam Rara Mendut dan Pronocitro di Berbah, Sleman, sudah lama tak terdengar. Makam keduanya pun tak lagi terawat.
Sisa Kesedihan Usai Api Membakar Ruko di Makassar
Kejadian kebakaran ruko di Makassar yang membuat lima penghuninya meninggal, menyisakan kesedihan bagi Benny. Ia pun berbagi kisah.
Si Baju Merah, Penunggu Kampung Maricayya Bantaeng
Rambutnya hitam tergerai, memakai baju merah panjang sampai menyentuh tanah. Dia penjaga Kampung Maricayya di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
0
Tangkal Corona Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menangguhkan pemberian visa umrah dan visa wisata dari negara wabah virus corona untuk tangkal virus corona