UNTUK INDONESIA
Kisah Strategi Al-Fatih Menaklukkan Konstantinopel
Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel yang selama 1.500 tahun dikuasai Kaisar Romawi Timur. Ia pun digelari Al-Fatih, sang penakluk.
Museum Al Fatih Turki. (Foto: Tagar/Lestantya R. Baskoro)

SULTAN Mehmed II atau kemudian populer dengan nama Muhammad Al-Fatih merupakan salah satu panglima perang Islam terkemuka. Kemasyurannya disandingkan dengan kemasyuran panglima Islam lain, Shalahuddin al-Ayyubi –yang di dunia barat dikenal dengan nama Sultan Saladin.

Mehmed mendapat julukan Muhammad Al-Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 1453. Mehmed merupakan penguasa Utsmani ke tujuh (1444-1446 M).

Dilahirkan pada 30 Maret 1432 di Edirne, ibu kota Utsmaniyah, Mehmed adalah anak Sultan Murad II. Saat masih belia, 11 tahun, ia dikirim untuk memerintah Amasya. Sebagai anak Sultan, ia banyak mendapat ilmu. Ia menguasai sedikitnya enam bahasa. Salah satu guru Mehmed adalah Syaikh Muhammad Syamsuddin bin Hamzah. Ulama terkemuka inilah yang mempengaruhi Mehmed pentingnya menaklukkan Konstantinopel yang dikuasai Kekaisaran Romawi Timur dan menjadi salah satu pusat gereja Ortodok.

Museum Al FatihSuasana Pertempuran Merebut Konstantinopel di Museum Al Fatih di Istanbul, Turki. (Foto: Tagar/Baskoro)

Pada 1444 Sutan Murad menyerahkan kekuasaannya pada Mehmed yang saat itu masih 12 tahun. Pada periode pertama kekuasaannya, Utsmani diserang pasukan Hongaria. Mehmed meminta ayahnya kembali naik tahta. Tapi Murad menolak. Mendapat jawaban seperti ini, Mehmed kemudian mengirim surat kepada Murad. “Jika ayah Sultan pimpinlah pasukan melawan musuh, jika saya yang Sultan, saya perintahkan ayah untuk memimpin pasukan melawan musuh.” 

Murad akhirnya mematuhi perintah Mehmed. Ia memimpin pasukan Ustamania melawan koalisi tentara Hongaria, Polandia dan Wallachia. Pada 1444, pada pertempuran di Varna pasukan Hongaria dan sekutunya berhasi dikalahkan Murad. Murad kemudian naik tahta lagi hingga 1451 -sampai wafat- dan kemudian digantikan Mehmed. Mehmed dilantik menjad Sultan pada usia 19 tahun.

Setelah naik tahta, Mehmed mulai memusatkan perhatiannya merebut Konstantinopel. Langkah pertama yang dilakukannya adalah memperkuat armadanya lautnya, terutama, di Selat Bosporus. Ia juga membangun benteng Rumeli Hisari di tepi Eropa Bosporus. Adanya benteng ini praktis membuat angkatan laut Utsmaniyah menguasai selat ini.

Pada 1453 pengepungan terhadap Konstantinopel dimulai. Sekitar 200 ribu pasukan Islam mengepung kota yang sudah berumur 1.500 tahun itu. Tak kurang 320 kapal perang dikerahkan.

Saat itu Kaisar Romawi Timur menjaga pantainya dengan membuat “ranjau” rantau besi untuk menghadang kapal perang tentara Islam. Mehmed kemudian memerintahkan pasukannya untuk “menaikkan” kapal-kapal lebih kecil ke darat, dan kemudian kapal itu “menyusuri” hutan –jalan darat- sekitar satu mil, sebelum kemudian masuk laut kembali dan menyerbu benteng pertahanan Konstantinopel.

Pada 1453 itu, pasukan Mehmed, setelah bertempur sekitar 50 hari, berhasil masuk kota Konstantinopel, merebut dan menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur.

Kaisar Konstantinus XI meninggal pada hari penaklukan. Penguasa terakhir Konstantinopel tersebut dikabarkan tewas bersama pasukannya yang tersisa. Setelah menalukkan Konstantinopel, Mehmed kemudian memindahkan ibu kota Utsmani dari Erdiner ke Konstantinopel. 

Penaklukan ini membuktikan kehebatan Mehmed dan kebesaran Mehmed sebagai panglima Islam. Inilah penaklukan yang diimpikan semua panglima Islam karena dalam hadis Ahmad, Nabi Muhammad menyebut,”Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pasukan.”

Karena ini pula Sultan Mehmed mendapat gelar Al-Fatih yang artinya “Sang Penakluk.”

Walau menguasai Konstantinopel, Mehmed tidak lantas menghancurkan bangunan gereja di sana. Ia membiarkan gereja Ortodok Haga Sophia tetap berdiri, membiarkan simbol-simbol kristen di dalamnya dan hanya menutup simbol-simbol itu dengan simbol Islam. Gereja yang sudah berumur seribu tahun itu menjadi masjid hingga 1932 sebelum kemudian diubah menjadi museum oleh Presiden Turki Mustafa Kemal Ataturk.

Haga SophiaHaga Sophia,  di Istanbul, Turki. (Foto: Tagar/Lestantya R. Baskoro)

Selama memerintah, dari 1451-1484, Muhammad Al-Fatih telah membangun sedikitnta 300 masjid di Istanbul. Salah satu masjid yang termasyur adalah Masjid Biru yang letaknya tak jauh dari Haga Sophia dan hanya dipisahkan sebuah taman air mancur yang indah.

Masjid BiruSuasana di dalam Masjid Biru, Istanbul, Turki. (Foto: Tagar/Lestantya R. Baskoro)

Baca juga: Museum Panorama Al Fatih di Istanbul yang Memikat

Sultan Mehmed alias Al-Fatih meninggal saat usia 50 tahun. Ia meninggal karena sakit dalam perjalanannya bersama pasukannya. Meninggal di tengah pasukan yang ia cintai. []

Berita terkait
Kisah Cut Nyak Dhien di Masa Tua, Berakhir Sepi di Negeri Seberang
Kisah Cut Nyak Dhien, wanita perkasa, pahlawan yang sebenarnya dari suatu realita zamannya. Berakhir sepi di negeri seberang.
Tung Desem Waringin Kena Corona. Ini Kisah Sembuhnya
Motivator Tung Desem Waringin kena virus Corona. Ia melakukan enam hal yang membuat tubuhnya kini makin sehat. Ia ceritakan kepada Tagar.
Kisah Poniran Mengisolasi Diri di Hutan Kulon Progo
Poniran dari Tangerang mudik ke kampung halaman di Kulon Progo. Namun dia dengan suka rela menjalani isolasi mandiri di gubug yang berada di hutan.
0
Kapolres di Papua Diminta Amankan Pilkada dan Pengumuman CPNS
Kapolda Papua memerintahkan Polres jajarannya untuk mengamankan Pilkada dan pengumuman CPNS di wilayahnya. Ini alasannya.