UNTUK INDONESIA
Museum Panorama Al-Fatih di Istanbul yang Memikat
Museum Panorama di Istanbul, Turki, membawa pengunjung menyaksikan pertempuran pasukan Islam yang dipimpin Al-Fatih merebut Konstantinopel.
Museum Al Fatih Turki. (Foto: Tagar/Lestantya R. Baskoro)

Di LANTAI tiga Museum Panorama 1453 itu kita melihat pertempuran dahsyat yang dipimpin Muhammad Al-Fatih: bunyi detuman meriam tak henti-henti, teriakan prajurit yang menyerang benteng kota Konstantinopel, ribuan kapal penuh pasukan yang merapat dan mengepung Konstantinopel, dan juga bunyi gemerincing pedang dan teriakan ratusan ribu prajurit tempur. Menggetarkan.

Museum Al FatihMuseum Al Fatih di Istanbul, Turki. (Foto: Tagar/Baskoro)

Selama tak kurang 50 hari sejarah mencatat Sultan Mehmed II, demikian nama asli Al-Fatih, menggempur benteng kota Konstantinopel yang berdiri kukuh membentang di pinggir pantai. Tak kurang 250.000 prajurit Islam terbaik dikerahkan untuk merangsek kota yang hampir sekitar 1.500 tahun dikuasai Kekaisaran Romawi Timur. Konstantinopel sendiri didirikan kekaisaran Bizantium pada 660 SM.

Berpuluh kali pasukan Islam mencoba merebut Konstantinopel namun tak pernah berhasil, sampai kemudian Mehmed yang sebelumnya merupakan salah satu panglima perang Islam di Mesir menumbangkan Konstantinopel, sekaligus mewujudkan apa yang selama beratus tahun berdengung di telinga para pemimpin perang pasukan Islam, “Sebaik-baiknya panglima adalah panglima yang bisa menaklukkan Konstantinopel dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang bisa menaklukkan Konstantinopel.”

Museum Al Fatih TurkiMuseum Al Fatih Turki. (Foto: Tagar/Lestantya R. Baskoro)

Keberhasilan Mehmed mengalahkan pasukan Romawi itu yang membuat ia di dijuluki “Al-Fatih” yang artinya “Sang Penakluk.” Penaklukan yang terjadi pada 1453 tersebut yang membuat museum ini dinamakan “Museum Panorama 1453.” Mehmed II kemudian mengubah nama Konstantinopel menjadi Islambul (artinya “Islam keseluruhan”) yang kemudian menjadi “Istanbul.”

Mehmed II, yang saat itu berusia 21 tahun, menggunakan strategi yang sama sekali tak diduga pasukan Romawi. Saat itu tak hanya benteng Romawi dijaga ketat ribuan prajurit berbaju baja, juga sepanjang tepi laut dipasang rantai besi yang akan menjerat lambung kapal apa pun yang mencoba melintasinya. Mengetahui bahayanya “ranjau rantai” itu, Mehmed II meminta pasukannya membuat kapal-kapal kecil, di angkat ke darat melalui hutan, sebelum kemudian masuk laut lagi, menuju dan menghancurkan pertahanan Romawi.

Setelah 50 hari pertempuran yang melelahkan siang malam itulah, pasukan Islam kemudian berhasil masuk Konstantinopel, menguasai kota tersebut. 

Dalam catatan sejarah, Al- Fatih saat itu tidak merusak satu pun bangunan gereja kristen Ortodok di sana. Gereja Haga Sophia yang indah, yang sudah berumur seribu tahun, diubah menjadi masjid tanpa menurunkan satu pun simbol kristen di dinding gereja. Simbol itu hanya ditutupi oleh simbol-simbol Islam. Hampir selama 500 tahun bangunan ini menjadi masjid sebelum pada 1923 oleh “bapak Turki” Mustafa Kemal Ataturk, Haga Sophia dijadikan museum yang hingga kini bisa dikunjungi para turis. Di seberang Haga Sophia terletak Masjid Biru yang tak kalah indah, masjid yang didirikan Al-Fatih.

Museum Al FatihMuseum Al Fatih di Istanbul, Turki. (Foto: Tagar/Baskoro)

Pertempuran selama 50 hari dan segala hal berkaitan dengan penyebaran Islam di daerah bekas kekaisaran Romawi itulah yang dipamerkan di Museum Panorama 1453 yang terletak di kawasan Topkapi, Istanbul ini. Museum ini diresmikan pada 31 Januari 2009 dan dibangun sejak 2005. 

Pada lantai I dan II pengunjung disuguhi segala hal berkaitan dengan sejarah Al Fatih dan penyebaran agama Islam. Sebuah patung Al-Fatih setinggi sekitar dua meter berdiri tegak di dekat pintu masuk museum yang pada musim libur bisa dikunjungi ribuan orang per hari. Museum ini tak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Turki, juga memikat para turis seluruh dunia. Museum Panorama Al-Fatih kini menjadi salah satu destinasi wisata utama Turki.

...kita memang benar-benar seakan sedang hadir dan menyaksikan pertempuran tersebut.

Daya tarik museum memang pada lantai tiga, yang didesain khusus, untuk menghadirkan kedahsyaran perang antara pasukan Al-Fatih dan Romawi itu. 

Tak kurang sepuluh ribu gambar dibuat oleh delapan seniman terkemuka Turki yang dipimpin pelukis Hasyim Vatandas, menciptakan gambar-gambar adegan pertempuran. Di lantai dasar, di padang-padang pertempuran, digeletakkan sejumlah meriam, sehingga pengunjung seakan memang tengah menonton pertempuran itu. Dengan teknologi gambar dan suara, kita memang benar-benar seakan sedang hadir dan menyaksikan pertempuran tersebut.

Dengan keindahan dan kedahsyartan seperti itu tak heran Museum Panorama 1453 ini menjadi salah satu museum dengan teknologi digital terbaik di dunia.[]

Berita terkait
Wisata Sejarah Turki Peserta Piala Eropa 2020
Turki salah satu negara peserta Piala Eropa 2020 yang memiliki banyak wisata populer.
Wisata Palangkaraya Kalteng, Ya Danau Sebangau!
Danau Sebangau di Palangkaraya merupakan destinasi yang wajib dikunjungi jika berlibur ke kota ini. Keindahan yang tak terlupakan.
Turki Ekspor Bahan Baku Masker ke Indonesia
Indonesia mengimpor kain melt blown, yaitu lembaran serat untuk bahan baku pembuatan masker dari Turki.
0
Jokowi Saksikan Ketua MA Syarifuddin Mengucap Sumpah
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyaksikan pengucapan sumpah M. Syarifuddin sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2020-2025.