Kisah Alexander Tanjaya Pria Tionghoa Budha Membangun Masjid

Saya merasa terharu. Merasa terpanggil. Tiba-tiba ada panggilan dari hati ingin membantu sebuah masjid di lokasi ini. - Alexander Tanjaya
Alexander Tanjaya pria keturunan Tionghoa beragama Budha membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin di Jalan Poros Bandara Haluoleo, Desa Ambaipua, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. (Foto: Tagar/Antara)

TAGAR.id - Laki-laki berperawakan tinggi besar, berkulit putih pucat, bermata sipit, itu namanya Alexander Tanjaya. Ia keturunan Tionghoa, beragama Budha, dan berasal dari Kendari. Bagaimana ia bisa membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin di Jalan Poros Bandara Haluoleo, Desa Ambaipua, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara?

Hari itu, Minggu 17 April 2022, langit cerah. Di dalam Masjid Rahmatan Lil Alamin berukuran sepuluh kali sepuluh meter persegi ini, anak-anak, laki-laki duduk berderet rapi di hamparan sajadah bagian depan. Anak-anak, perempuan, duduk berderet rapi di hamparan sajadah panjang di bagian belakang. 

Mereka tekun menyimak seorang tamu yang sedang berbicara dengan pengeras suara. Tamu itu memakai batik dan berkacamata, duduk di bagian depan, didampingi dua pria berpeci. 


Saya merasa terharu. Merasa terpanggil. Tiba-tiba ada panggilan dari hati ingin membantu sebuah masjid di lokasi ini.


Tamu itu adalah Alexander Tanjaya, pendiri masjid tempat anak-anak ini belajar mengaji, tadarusan - membaca Alquran - , tarawih, dan mendengar ceramah agama. 

Alexander Tanjaya bercerita kepada Antara, suatu hari ia berada di desa ini, melihat orang-orang berjalan jauh untuk mencapai masjid. Sampai kemudian ia tahu di lokasi ini tidak ada masjid. 

"Suatu hari saya melihat umat berjalan kaki membawa sajadah, membawa Alquran. Mereka berjalan kaki menuju masjid. Mereka katakan di sini tidak ada masjid. Saya merasa terharu. Merasa terpanggil. Tiba-tiba ada panggilan dari hati ingin membantu sebuah masjid di lokasi ini," tutur Alexander Tanjaya.

Maka dibangunlah Masjid Rahmatan Lil Alamin pada tahun 2019. 

Rahmatan Lil Alamin artinya rahmat bagi seluruh alam. Bahwa ajaran dalam agama Islam tidak berhenti pada hubungan antara manusia dan Tuhannya semata. Namun, Islam juga mengandung ajaran yang mengatur hubungan antar-sesama manusia serta hubungan manusia dan lingkungan. Ajaran tersebut dikenal dengan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Alexander Tanjaya telah menjalankan ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin. Ia berbuat baik bagi orang-orang, bagi lingkungan, tanpa melihat perbedaan suku, perbedaan ras, atau perbedaan agama.

Berbuat baik karena ingin berbuat baik.

Apa yang dilakukan Alexander Tanjaya tentu menyentuh hati banyak orang. Betapa indahnya toleransi yang telah ia tunjukkan. 

Di antara orang yang menghargainya, adalah Ustaz Jumhuri Qarim, Pembina Pesantren Darurraihanun Nahdlatul Watanah. Pondok pesantren yang berdiri tepat di depan Masjid Rahmatan Lil Alamin.

"Ketika seseorang mempunyai niat yang baik, dari mana pun, saya kira itu suatu hal yang memang harus diberi ruang dan apresiasi sebaik-baiknya," tutur Ustaz Jumhuri kepada Antara.

"Beliau non-muslim," lanjut Jumhuri, "Tapi punya niat yang baik untuk membantu memfasilitasi kebutuhan santri di sini. Dengan adanya masjid ini alhamdullilah sangat luar biasa membantu. Dan sekaligus masjid ini menjadi episentrum, sentral dari seluruh kegiatan di pesantren ini." []


Baca juga








Berita terkait
Masjid Setono Gedong, Sejarah Syiar Islam di Kediri
Sebelum Islam masuk, daerah Setono Gedong sebelumnya menjadi tempat sesembahan bagi warga Kediri menganut kepercayaan Animisme.
Sejarah Takjil Gulai di Masjid Gedhe Yogyakarta
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta punya sejarah kenapa gulai kambing jadi menu favorit takjil Ramadan 2019.
Sejarah Masjid Tertua di Parepare
Mesjid Al-Mujahidin merupakan mesjid tertua di kota Parepare, Sulawesi Selatan, peletakan batu pertama dilakukan tahun 1906 silam
0
Puan: Pemerintah Harus Buktikan Layanan PeduliLindungi Tak Langgar Privacy
Puan Maharani mengatakan, tudingan dari AS harus mampu dipatahkan dengan jaminan dari Pemerintah.