UNTUK INDONESIA
Kesaksian Warga Saat Terjadi Penusukan Wiranto
Hari itu semua tampak normal, langit cerah, orang-orang berkumpul di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, menunggu kehadiran Wiranto.
Polisi bersenjata lengkap berjaga di depan rumah kontrakan Syahril tersangka penusukan Menkopolhukam Wiranto di Kampung Sawah, Desa Menes, Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas)

Banten - Hari itu semua tampak normal, langit cerah, orang-orang berkumpul di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, menunggu kehadiran Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto. Di antara mereka, banyak yang ingin melihat dari dekat, tokoh yang biasa disaksikan di televisi, banyak yang ingin bersalaman, syukur-syukur bisa foto bersama. 

Kamis siang, 10 Oktober 2019, waktu mendekati zuhur, Wiranto muncul. Ia baru saja menghadiri peresmian gedung perkuliahan Universitas Mathlaul Anwar (UNMA) Banten.

Saat Wiranto turun dari mobil, tiba-tiba dari arah samping kirinya, seseorang tak dikenal menusuk perutnya hingga Wiranto Tersungkur.

Sutisna 40 tahun, seorang warga, berada di tempat kejadian saat tragedi itu berlangsung. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Sutisna warga Kampung Sawah, Kecamatan Menes, Pandeglang.

“Memang Wiranto itu sering ke Menes, karena sepengetahuan saya dia salah satu pembina di Ponpes MA (Mathlaur Anwar), mungkin pelaku mengetahui kedatangan Wiranto lewat undangan-undangan yang telah disebar seminggu sebelum acara peresmian,” tutur Sutisna kepada Tagar, Kamis.

Mungkin pelaku mengetahui kedatangan Wiranto lewat undangan yang telah disebar.

WirantoPolisi berjaga-jaga di depan Polsek Menes saat akan prosesi pemindahan pelaku penyerangan Wiranto ke Polres Pandeglang, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Sutisna bercerita, Wiranto selesai kunjungan dari UNMA, persisnya pada saat tiba di depan pintu gerbang lapangan Alun-alun Menes, meluangkan waktu untuk bersalaman dengan ratusan orang yang sejak pagi sudah menunggunya di lokasi parkir helikopter. 

“Banyak warga yang ingin berfoto-foto dengan Wiranto dan melihat helikopter,” kata Sutisna.

Ia mengatakan aparat kepolisian yang bertugas di lokasi sebenarnya sudah mengimbau warga untuk menjauh, tapi Wiranto justru mendekati warga, menyalami satu persatu. Situasi sangat ramai karena bertepatan jam pulang sekolah anak-anak.

“Tiba-tiba Syahril Alamsyah pelaku penusukan Wiranto datang dari arah samping mobil, aparat juga langsung mengamankan pelaku dan segera ditangkap. Kemudian istrinya (Fitri Andiana) langsung membela suaminya yang telah ditangkap dan menusuk satu ajudan dan kapolsek yang coba menyelamatkan Wiranto," tutur Sutisna.

Sutisna mengatakan tidak menyangka hal tersebut akan terjadi. Ia menyesalkan Wiranto mengalami peristiwa buruk di daerahnya yang dikenal sebagai kota ulama.

Ia juga melihat kondisi Syahril Alamsyah dan Fitri Andiana, sepasang suami istri yang diduga terpapar radikalisme ISIS, ketika digelandang aparat gabungan dari Kepolisian Daerah Banten untuk dipindahkan ke Kepolisian Resor Pandeglang. Syahril dan Fitri diangkut mobil Gegana. 

Mereka hanya perantauan yang memang mencoba merusak nama baik Pandeglang.

WirantoMenko Polhukam Wiranto digotong dari mobil menuju ruang UGD Menes Medical Center (MMC) sesaat setelah diserang di Alun-alun Menes usai meresmikan ruang kuliah bersama Universitas Matlaul Anwar di Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Antara/Weli Ayu Rejeki)

Seketika keadaan menjadi geger. Semakin banyak orang yang datang untuk menonton peristiwa tersebut. 

Sutisna mengatakan orang yang menusuk Wiranto itu bukan warga Menes, Pandeglang. 

"Mereka hanya perantauan yang memang mencoba merusak nama baik Pandeglang. Tentu akibat peristiwa pencobaan pembunuhan tersebut sudah pasti akan merugikan Pandeglang dan masyarakat Pandeglang yang telah dijuluki kata santri," kata Sutisna. 

Ia bercerita, Wiranto pada hari itu tiba di Menes sekitar pukul 08.30 WIB. 

"Sehari sebelum Wiranto ke Menes, memang sempat ada helikopter untuk memastikan beberapa lokasi di Pandeglang yang akan dikunjunginya," ujar Sutisna.

Pada hari itu, kata Sutisna, Wiranto datang sebagai orang biasa, tidak ada sesuatu yang berbeda, baju biasa, tidak ada misalnya memakai rompi besi.

Entah sering nonton Naruto, Syahril nyatanya memakai senjata tajam berupa Kunai, yang menjadi alat untuk dua kali melukai perut Wiranto. 

Pantauan Tagar, lokasi terjadinya percobaan pembunuhan terhadap mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto menjadi pusat perhatian masyarakat Pandeglang. 

Banyak warga dari luar Kecamatan Menes, datang untuk menyaksikan proses pemindahan pelaku kejahatan ke mobil Gegana. Bahkan kondisi jalan di sekitar alun-alun mengalami kemacetan.

Rumah Kontrakan Syahril-Fitri

WirantoAnak-anak melihat rumah kontrakan Syahril Alamsyah-Fitri Andiana penyerang Wiranto, di Kampung Sawah, Desa Menes, Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas)

Pasangan Syahril Alamsyah dan Fitri Andiana tinggal di rumah kontrakan di Kampung Sawah, Desa Menes, Pandeglang, Banten. Banyak warga mengerumuni rumah ini, saat polisi datang untuk melakukan penggeledahan.

Yusep Sugiharto, pemilik rumah kontrakan, mengatakan Syahril Alamsyah atau biasa dipanggil Abu Rara datang untuk mengontrak rumah sekitar 1,5 tahun lalu.

Abu Rara waktu itu muncul ditemani seorang bernama Samsudin yang sudah lebih dulu mengontrak di tempatnya.

"Dia datang membawa istri dan dua anaknya," kata Yusep.

Yusep mengatakan, ia kemudian mendapat informasi Abu Rara telah bercerai dari istri pertama. Fitri Andiana adalah istri kedua.

“Kata Pak RT dia sudah pisah dengan istri pertamanya, terus sekarang menikah,’’ ujar Yusep saat ditemui Tagar, Kamis sore menjelang magrib.

Yusep sendiri mengaku belum pernah bertemu secara langsung dengan Syahril. Menurutnya Abu Rara orangnya tertutup.

Arif, seorang warga, tetangga Yusep, mengatakan hal sama, Syahril tidak pernah bergaul selama berada di daerahnya.

”Saya tak pernah melihat dia ikut salat Jumat, memang orangnya benar-benar tertutup,” ucap Arif.

Keterangan Wakil Rektor UNMA

WirantoMenkopolhukam Wiranto memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru di Universitas Matlha\'ul Anwar, Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas)

Wakil Rektor Universitas Mathla’ul Anwar Pandeglang, Banten, Ali Nurdin, mengatakan apa yang dialami Wiranto sungguh mengagetkan. Semua begitu cepat terjadi. Tak lama setelah Wiranto meninggalkan kampusnya. Hanya berselang beberapa menit.

“Kejadiannya di Alun Alun Menes, sekitar enam kilometer dari kampus. Jadi penyerangan itu bukan di lingkungan kampus. Tapi di Alun-alun Menes ketika Pak Menteri turun dari mobil dan akan naik helikopter untuk balik ke Jakarta,” kata Ali Nurdin ketika dihubungi Tagar lewat telepon seluler, Kamis malam.

Ali Nurdin mengatakan pihaknya mengundang Wiranto karena Wiranto adalah Ketua Dewan Penasihat Pengurus Besar Mathala’ul Anwar (PB MA) periode 2015-2020. 

Ia menambahkan, acara peresmian gedung kampusnya itu dihadiri sekitar 1.000 orang. Selain Menko Polhukam Wiranto, hadir juga tokoh dan pejabat provinsi di antaranya Kapolda Banten Inspektur Jenderal Tomsi Tohir, Bupati Pandeglang Ima Narulita, dan Kapolres Ajun Komisaris Besar Indra Lustrianto Amstono.

"Pada saat melepas Pak Menteri dari lingkungan kampus, kami merasa lega karena ada Pak Kapolda dan Pak Kapolres yang menjaganya," tutur Ali Nurdin. []

Baca juga:

Berita terkait
Wiranto Diserang Ada Komentar yang Tak Simpatik
Ketika Menko Polhukam Wiranto diserang teroris sebagai rencana pembunuhan, cara yang arif dan bijaksana menyampaikan simpati bukan antipati
Menkeu Pastikan Penusukan Wiranto Tak Pengaruhi Ekonomi
Insiden penusukan Menko Polhukam Wiranto oleh seseorang tidak dikenal dipastikan tak akan berpengaruh terhadap perekonomian nasional
Jokowi Tetap Akan Swafoto Setelah Penusukan Wiranto
Presiden Joko Widodo mengatakan dirinya tetap akan melakukan swafoto dan membaur dengan masyarakat, meskipun ada kejadian penusukan Wiranto
0
Kader Partai Golkar Dilarang Tinggalkan Jakarta
Surat edaran Fraksi Partai Golkar DPR melarang anggota fraksi meninggalkan Jakarta hingga selesainya pelaksanaan munas.