UNTUK INDONESIA
Keren, Produksi Batik Cap Otomatis Pakai Remote
BBKB menciptakan alat cap batik berbasis PLC. Alat ini membuat proses pengecapan batik lebih efektif, efisien meningkatkan produktivitas.
Alat berupa cap batik otomatis berbasis Programmable Logic Controller (PLC) yang diciptakan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian.(Foto: Tagar/Hidayat)

Yogyakarta - Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian menciptakan alat berupa cap batik otomatis berbasis Programmable Logic Controller (PLC). Inovasi ini diharapkan bisa menunjang meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi batik cap bagi industri batik.

Kepala BBKB Titik Purwati Widowati mengatakan alat cap batik otomatis berbasis PLC ini tergolong teknologi baru yang diharapkan bisa meningkatkan daya saing industri. "Alat ini akan menambah efektivitas dan efisiensi dari pekerjaan perajin dalam mengecap batik," katanya kepada Tagar di Yogyakarta, Selasa, 19 November 2019.

Menurut dia inovasi terbaru dari alat ini terletak pada program cap batik menggunakan remote. "Kalau biasanya satu demi satu dalam membuat batik cap, ini bisa diprogram memakai remote," katanya.

Titik menjelaskan alat ini menggunakan metode otomasi pembuatan batik cap di mana canting cap dan kain digerakkan secara bergantian menggunakan pneumatik berbasis kontrol PLC. Penggunaan teknologi untuk otomasi batik cap ini diharapkan dapat menjadi teknologi yang andal dan memiliki ketahanan yang tinggi dalam penggunaan untuk produksi skala massal.

Kalau biasanya satu demi satu dalam membuat batik cap, ini bisa diprogram memakai remote.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, Kementerian Perindustrian Sony Sulaksono mengatakan, era revolusi industri 4.0 tidak hanya membawa perubahan bagi sektor industri. Era revolusi industri 4.0 juga mengubah kehidupan pada umumnya. Tingginya permintaan batik akhir-akhir ini membuat industri pembuatan batik terus bergeliat.

Seiring permintaan melonjak, kadang ditemui kendala dalam meningkatkan kapasitas produksi. Permasalahan itu tidak lepas dari proses pembuatan batik yang panjang dan rumit serta peralatan yang digunakan masih terbatas, baik secara teknologi maupun kemampuannya.

Kendala tersebut terutama untuk peralatan produksi batik cap, yang saat ini masih mengandalkan tenaga manusia dalam proses cap batik. "Ini merupakan aplikasi baru yang bisa meningkatkan produktivitas," ucapnya.

Anggota tim peneliti alat ini dari BBKB, Demas Yogo menambahkan, memakai alat ini produksinya bisa lebih cepat. Biasanya kain dengan panjang sekitar 2-5 meter membutuhkan lebih dari satu jam, namun kain sepanjang 20 meter bisa terselesaikan kurang dari satu jam saja untuk batik cap.

Menurut dia alat ini selain meningkatkan produktivitas juga lebih efisien. Alat ini sekaligus menjawab semakin sedikit perajin batik di kalangan generasi muda. "Karena kan semakin sedikit regenerasi perajin batik cap," ujar dia. []

Baca Juga:

Lihat Foto:

Berita terkait
Beragam Batik Nusantara Dijual di Malioboro Yogyakarta
Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat produsen batik di Indonesia. Sejumlah perajin batik tradisional masih eksis.
Tampil Etnik dengan Parfum Batik Asal Yogyakarta
Parfum etnik dari Yogyakarta ini bisa menjadi salah satu pilihan diantara banyaknya parfum impor yang menyerbu tanah air.
Hari Batik ala Anak Berkebutuhan Khusus di Gunungkidul
Belasan siswanya yang berkebutuhan khusus menunjukkan keterampilan di hadapan siswa lain, guru, dan para orang tua.
0
Membuat Film Menggunakan Ponsel Terkendala Memori
Pembuatan film saat ini sudah bisa menggunakan smartphone. Hanya saja terkendala pada penyimpanan ponsel atau memori.