UNTUK INDONESIA
Hari Batik ala Anak Berkebutuhan Khusus di Gunungkidul
Belasan siswanya yang berkebutuhan khusus menunjukkan keterampilan di hadapan siswa lain, guru, dan para orang tua.
Siswa Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) Krida Mulia, di Kecamatan Rongkop sedang membatik.(Foto: Tagar/Hidayat)

Gunungkidul - Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) Krida Mulia, di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul tak mau ketinggalan dalam momen Hari Batik Nasional 2019.

Belasan siswanya yang berkebutuhan khusus menunjukkan keterampilan di hadapan siswa lain, guru, dan para orang tua di sekolah mereka, Rabu 2 Oktober 2019.

Pada sesi pertama, belasan siswa melakukan fashion show. Mereka dengan berbusana batik hasil karya sendiri, berjalan di atas panggung yang telah disediakan di halaman sekolah.

Setiap penampilan, para penonton pun memberikan apresiasi dengan melambaikan tangan ke atas. Ini merupakan suatu bahasa isyarat kepada para peserta atau siswa yang merupakan tuna rungu.

Setelah selesai fashion show, pada siangnya kemudian dilanjutkan dengan membuat batik. Memakai sehelai kain putih, dengan peralatan seperti canting dan malam.

Tuna grahita untuk cara berpikir lambat. Jadi kami ajarkan keterampilan lain seperti membuat keset

Salah seorang siswi, Venti Oktaviani yang didampingi oleh gurunya, Susuiani Wahyuningtyas mengaku dirinya memang sudah mendapatkan pembelajaran mengenai membuat batik di kelas. Namun baginya keterampilan seperti ini harus terus diasah.

Sebab dirinya merasa masih lemah menggambar di kain memakai malam. "Malam gampang meluber di sekitar gambar itu yang membuat sulit. Tetapi saya tetap berusaha untuk merapikannya," katanya.

Venti belajar membatik tak hanya ketika mengikuti mata pelajaran di kelas saja. Tetapi ketika sudah selesai sekolah, ia biasa menyempatkan waktu untuk belajar membatik.

Guru pendampingnya, Wagiyono mengatakan pembelajaran mengenai membatik ini sudah dilakukan sejak 2012 silam. Dalam pelajaran yang diberikan, para peserta didik diajari untuk menggambar pola sederhana.

Menggambar dengan pensil di atas kain dan membatik memakai canting serta malam. "Semangat anak-anak luar biasa meski dengan alat sederhana," katanya.

Untuk keterampilan batik diberikan kepada siswa yang tuna rungu dan tuna wicara. Sedangkan mereka yang tuna grahita diajari keterampilan lain menyesuaikan kemampuannya.

"Tuna grahita untuk cara berpikir lambat. Jadi kami ajarkan keterampilan lain seperti membuat keset," pungkasnya.[]

Berita terkait
Lima Wisata Terkenal dengan Desain Batik
Selain terkenal dengan wisata, beberapa kain batik khas daerah ini memiliki corak unik dan cocok untuk dijadikan buah tangan.
Lima Batik Populer Khas Daerah di Indonesia
Banyak macam motif batik populer khas daerah di Indonesia, salah satunya Megamendung.
Jokowi Bangga Batik Masuk Pelajaran di Sekolah
Presiden Jokowi bangga batik masuk dalam pelajaran muatan lokal di sejumlah sekolah di Indonesia.
0
Sidang Pertama Gugatan MAKI ke Yasonna Usai Lebaran
Boyamin Saiman MAKI menuturkan gugatan pada Menkumham Yasonna Laoly ke Pengadilan Negeri Surakarta terkait napi asimilasi dimulai habis lebaran.