Indonesia
Kenapa Anak-anak Soeharto Terlempar dari Golkar?
Partai Golkar yang merupakan salah satu partai politik peninggalan Soeharto, ditinggalkan anggota keluarga Cendana.
Putri Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (kanan) dan Siti Hediati Hariyadi menghadiri acara Syukuran dan Silaturahmi Nasional Partai Golkar di Jakarta (1/11/2015). ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Jakarta - Partai Golongan Karya (Golkar) yang merupakan salah satu partai politik peninggalan era Soeharto, perlahan tapi pasti ditinggalkan oleh satu persatu anggota keluarga besar Cendana. Padahal, dulunya Golkar merupakan anak emas di zaman Orde Baru.

Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik Dedi Kurnia Syah mengatakan, hengkangnya anggota keluarga Soeharto dari Golkar dan mendirikan berbagai partai politik baru menjadi penanda, bahwa trah Cendana telah terbiasa mandiri secara politik.

Baca juga: Kronologi Runtuhnya Rezim Orde Baru Soeharto

Di lain pihak, partai Beringin itu dianggap Dedi memiliki sifat yang terbuka, sehingga wajar jika tak dikaitkan lagi dengan penokohan sosok presiden kedua dan keluarganya itu.

"Jika kemudian masih ada ibu Titiek dalam pusara Golkar, rasanya ini orientasi personal sebagai kader, bukan sebagai upaya pelanggengan trah Soehartoisme," kata Dedi kepada Tagar, Selasa, 16 Juli 2019.

Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, menyingkir dari partai kuning tersebut di awal masa reformasi bergulir. 

Tutut pernah diajukan sebagai calon presiden (capres) oleh partai muda bernama Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Meski kemudian gagal dalam pencapresan, putri sulung Presiden Soeharto itu tidak pernah kembali lagi ke pelukan Partai Beringin.

Adik bungsu Tutut, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto juga hengkang dari Golkar selepas gagal terpilih, sewaktu mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Golkar melalui Munas partai tahun 2009. Bersama kader yang lain, yakni Priyo Budi Santoso, Tommy kemudian membangun sendiri partai baru sebagai kendaraan politiknya bernama Partai Berkarya.

Baca juga: Tujuh Tokoh Golkar yang Membentuk Partai Sendiri

Berdirinya Partai Berkarya pada tanggal 15 Juli 2016, membuat kakak Tommy, Siti Hediati Harijadi alias Titiek Soeharto mundur dari Partai Golongan Karya untuk bergabung dengan besutan adiknya.

Titiek mengumumkan kepindahannya dari Golkar dan bergabung dengan Berkarya pada Senin, 11 Juni 2018. Perasaan kecewa terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), menjadi alasan hengkangnya Titiek. 

Golkar yang merupakan partai pendukung Jokowi, membuat Titiek tak bisa leluasa untuk bersuara.

"Saya adalah anak biologis Presiden Soeharto! Saya tidak bisa berdiam diri untuk tidak menyuarakan jeritan rakyat," kata Titiek dalam pernyataannya waktu itu.

Kepergian Titiek sebagai trah terakhir Keluarga Cendana, mau tidak mau direlakan oleh Partai Golkar. Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily bahkan mengatakan bahwa hengkangnya Titiek harus disikapi serius demi menjaga soliditas.

"Kami tak perlu meratapi kepindahannya. Kami harus sikapi dengan terus konsisten dengan program konsolidasi partai dan menjaga soliditas. Dengan cara itu, kami akan menutupi kekurangan akibat peristiwa keluarnya Ibu Titiek dari Partai Golkar," kata Ace, Selasa 12 Juni 2018 lalu.

Baca juga: Airlangga Hartarto Atau Bamsoet Pimpin Golkar?

Partai Berkarya kemudian berhasil maju sebagai partai peserta Pemilu 2019 dengan nomor urut 7. Saat itu, seluruh anggota Keluarga Cendana yang bersatu dalam satu wadah baru Partai Berkarya, mendukung mantan suami Titiek, Prabowo Subianto yang maju sebagai calon presiden.

Baik Partai Berkarya Maupun Prabowo Subianto, menelan kekalahan pada Pemilu 2019. Perolehan suara Berkarya bahkan tak sanggup melampaui empat persen ambang batas parliementary threshold yang disyaratkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sedangkan Prabowo Subianto, kalah untuk kedua kalinya melawan Jokowi.

Berbanding terbalik. Meski mengalami penurunan, Golkar tetap melaju pesat dalam Pemilu 2019, dengan perolehan suara terbanyak ke-3, yakni mencapai 17.229.789 atau 12,31 persen total suara.

Dukungan terhadap pencapresan Jokowi juga membuahkan hasil. Sejumlah kader Golkar disebut-sebut masuk radar untuk mengisi berbagai posisi strategis di pemerintahan, termasuk menjabat sebagai menteri di kabinet kedua Jokowi.

Berpindahnya Titiek Soeharto ke partai lain menjelang berlangsungnya kontestasi pemilihan umum memang memberi dampak bagi perolehan suara Partai Golkar.

Namun hal itu bukan merupakan penyebab utama menurunnya raihan suara Golkar di Pemilu 2019, melainkan juga imbas dari banyaknya kader yang terjerat kasus korupsi, juga adanya pembangkangan di antara kader dalam keputusan arah dukungan kepada salah satu calon presiden.

"Kalau kita mencerna angka, memang ada korelasi itu (perpindahan Titiek), mengingat perolehan Partai Berkarya cukup signifikan untuk kategori pendatang baru," kata Dedi.

Golkar dalam kondisi sulit saat menghadapi Pemilu, salah satunya dengan maraknya kader terjerat korupsi, ini juga potensi penurunan kepercayaan publik. 

"Lalu adanya dukungan kader yang tidak solid, selain ibu Titiek ada juga tokoh lain, seperti Fadel Muhammad yang turut serta mendukung Prabowo di Pemilu," ujar dia. []

Berita terkait
0
Daftar 100 Universitas Terbaik Indonesia 2019
Kemenristekdikti telah mengumumkan klasterisasi perguruan tinggi Indonesia tahun 2019. Lihat 100 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia