UNTUK INDONESIA
Kekeringan, Warga Gunungkidul Beli Air dari Wonogiri
Warga Gunungkidul, Yogyakarta terpaksa membeli air dari Wonogiri, Jawa Tengah, akibat kekeringan. Harganya Rp 150-190 ribu per 5.000 liter.
Ilsutrasi kekeringan, dengan membawa ember, ibu-ibu mengantri pemberian gratis air bersih atas bantuan ACT DIY di Desa Girisekar, Gunungkidul. (Foto: Dok. ACT DIY)

Gunungkidul - Warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta terdampak kekeringan. Sejumlah kapanewon di Bumi Handayani kesulitan air. Mereka terpaksa harus membeli air dengan impor atau mendatangkan air dari kabupaten sebelah, Wonogiri, Jawa Tengah.

Mendatang air dari luar daerah ini dialami warga di Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo. Warga tidak bisa hanya mengandalkan bantuan air bersih pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka harus membeli air yang diambil dari sumber di wilayah Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.

Lurah Kalurahan Songbanyu Giyarno mengatakan, warga membeli dengan harga Rp 190 ribu untuk satu truk tangki dengan kapasitas 5 ribu liter. Air ini harus dihemat sehingga bisa mengurangi pengeluaran warga. "Kami beli dari tangki di Pracimantoro Wonogiri, kalau dari dekat Pantai Sadeng ada juga, namun warga memilih dari Pracimantoro," katanya, saat dihubungi wartawan pada Minggu, 13 September 2020.

Hal yang sama juga terjadi di Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari. Untuk harga satu tangki air dengan kapasitas yang sama, harganya relatif lebih murah. Warga membeli dengan harga Rp 150 ribu.

Kami beli dari tangki di Pracimantoro Wonogiri.

Menurut penuturan Kasidi warga Padukuhan Jambu Kalurahan Banjarejo, warga hingga kini belum mendapatkan bantuan air bersih. Dirinya saja sudah dua kali membeli air bersih untuk kebutuhan keluarganya. "Air PDAM belum lancar. Padahal ada sumber besar untuk PDAM di dekat Pantai Baron. Harapan kami memang masalah air bisa teratasi," tuturnya.

Giyarno dan Kasidi, juga warga lain yang terdampak kekeringan berharap persoalan air bersih bisa segera diatasi. Selama ini warga mengandalkan suplai air PDAM. Namun, karena kekeringan maka debit untuk memasok air ke rumah-rumah warga menjadi tersendak. "Semoga pasokan air PDAM lancar untuk warga masyarakat," ungkap Kasidi.

Tokoh masyarakat setempat, Sunaryanto mengungkapkan, untuk mengatasi persoalan  air di wilayah selatan Gunungkidul diperlukan terobosan baru. Di antaranya adalah pembangunan embung raksasa di atas bukit. "Jadi fungsinya adalah sebagai reservoir. Kemudian air akan dilanjutkan ke sambungan rumah di masyarakat," ulasnya.

Baca Juga:

Calon Bupati untuk Pilkada Gunungkidul ini mengungkapkan, dengan konsep tersebut, maka suplai air akan mencukupi. Selain itu juga lebih hemat karena kekuatan mesin untuk mengambil air dari sumber di Baron dan diangkat ke embung raksasa.

Dia optimistis persoalan kekeringan yang rutin melanda Gunungkidul bisa dipecahkan. "Mosok tiap tahun mengandalkan droping terus. Itu belum solusi, perlu ada embung besar. Kami sudah melihat potensi, untuk Sub sistem Baron haru ada dua embjng besar di timur Baron dan di bagian barat," ujarnya.[]

Berita terkait
Krisis Air Bersih Parah di Gunungkidul
Krisis air bersih melanda Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Jumlah warga yang terdampak tercatat 109. 648 jiwa yang tersebar di 10 kecamatan
Kulon Progo Siaga Darurat Kekeringan Hingga November
Pemkab Kulon Progo menetapkan status siaga darurat kekeringan di daerah itu, berlaku mulai 1 Agustus sampai 30 November 2020.
Yogyakarta Butuh 300 Sumur Bor Atasi Kekeringan
Tahun ini sejumlah daerah di Provinsi DIY mengalami kekeringan parah. Untuk itu perlu adanya pembuatan sumur bor baru sebanyak 300 buah.
0
Cuti Bersama, Protokol Kesehatan di Bukittinggi Makin Ketat
Kota Bukittinggi sebagai daerah tujuan wisata utama di Sumatera Barat akan berlakukan protokol kesehatan ketat di objek wisata.