UNTUK INDONESIA
Kejutan dan Sejarah di All England 2017
Berbagai kejutan dan sejarah baru tercetak seiring dengan penutupan gelaran turnamen All England 2017.
Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (Foto: badmintonindonesia)

Jakarta, (Tagar/13/3) - Berbagai kejutan dan sejarah baru tercetak seiring dengan penutupan gelaran turnamen All England 2017, yang sejak akhir 1990-an nama-nama dari lima negara (Indonesia, China, Malaysia, Denmark, dan Korea Selatan) selalu mendominasi.

Kejutan ertama, dalam gelaran enam hari (7-12 Maret 2017) di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, tersebut, tidak ada satupun juara bertahan yang menembus partai puncak bahkan beberapa nama harus tersungkur di putaran awal turnamen.

Pada putaran pertama, juara bertahan tunggal putri Nozomi Okuhara (Jepang), ganda putra Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia), dan ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia) harus angkat kaki lebih cepat.

Okuhara kalah dari unggulan kedelapan Saina Nehwal (India) dua game langsung 15-21 dan 14-21. Ivanov/Sozonov juga dijegal pada putaran pertama oleh unggulan kedelapan Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark) 11-21 dan 15-21.

Sementara itu, Praveen/Debby yang menyandang unggulan empat turnamen juga harus tersingkir dengan secara mengejutkan menyerah pada pasangan non-unggulan dari Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino 17-21, 21-19 dan 12-21.

Pada putaran kedua, Kamis (9/3), giliran juara bertahan ganda putri sekaligus peraih medali emas Olimpiade 2016 Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang) yang angkat koper. Unggulan teratas itu ditaklukkan sang kompatriot Yuki Fukushima/Sayaka Hirota 16-21, 21-19, 16-21.

Hanya pemain China Lin Dan, juara bertahan pada nomor tunggal putra yang mampu melaju jauh di turnamen tertua di dunia tersebut, hingga dia harus tursungkur di partai semifinal oleh kompatriotnya yang tidak diunggulkan dalam turnamen, Shi Yuqi dalam dua game selama 50 menit 24-22 dan 21-11.

Dengan bergugurannya juara bertahan di ajang All England, juara baru-pun muncul, China yang biasanya mendominasi gelar juara pada ajang superseries, hanya mendapatkan satu gelar di ajang All England 2017 yaitu di nomor ganda campuran melalui Lu Kai/Huang Yaqiong setelah menyudahi perlawanan pasangan Malaysia Peng Soon Chan/Liu Ying Goh.

Dalam partai final, pasangan China itu mampu merebut gelar perdananya dalam empat kali keikutsertaannya. Walau kalah di game pembuka 18-21, mereka melibas wakil Malaysia yang juga mengincar gelar perdana di dua game terakhir dengan skor 21-19, 21-16.

"Ini keempat kali kami ikut serta dan selalu mengincar juara, namun benar-benar memenangi turnamen ini adalah sesuatu yang luar biasa," ucap Huang seperti dikutip dari laman resmi All England..

Sejarah luar biasa datang dari nomor tunggal putri yang dimainkan sebagai partai terakhir, dengan mempertemukan Tai Tzu Ying (Taiwan) dan Ratchanok Intanon (Thailand) yang saling berebut kemenangan untuk mendapatkan gelar perdana-nya di All England.

Pada akhir laga berdurasi 51 menit tersebut, Tai keluar sebagai juara dengan menggulung Intanon dua game langsung 21-16 dan 22-20.

"Perasaan luar biasa di sini, saya sangat berterima kasih kepada para pendukung yang tetap berada di venue hingga larut untuk menyaksikan pertandingan saya. Menang dengan penonton sebanyak ini membuat saya sangat bahagia," ujar Tai yang sekaligus menancapkan tonggak sejarah gelar bagi Taiwan dalam ajang tersebut.

Sejarah juga tertoreh di ganda putri melalui pasangan Denmark Kamilla Rytter Juhl/Christinna Pedersen. Mereka merupakan perwakilan Eropa di nomor ganda putri pertama yang berhasil menembus partai final All England sejak 21 tahun terakhir.

Namun, pasangan Denmark tersebut harus mengaku kalah dari duet Korea Selatan Chang Ye Na/Lee So Hee dengan skor 18-21 dan 13-21. Kekalahan itu memperpanjang rekor buruk pasangan-pasangan Eropa yang tidak pernah juara All England sejak pasangan Inggris Nora Perry/Jane Webster melakukannya pada 1981.

Nomor tunggal putra juga tidak mau kalah memberikan kejutannya lewat pemain asal China Shi Yuqi yang tidak diunggulkan. Shi menjadi kejutan setelah pemain yang baru berusia 21 tahun tersebut mampu menumbangkan seniornya, sekaligus juara bertahan All England, Lin Dan, untuk menuju partai puncak.

Kendati secara luar biasa mampu menembus partai puncak, Shi harus mencoba lagi peruntungan tahun depan setelah Lee Chong Wei yang merupakan lawannya di final mampu mendapatkan gelar All England keempat-nya sekaligus yang pertama sejak 2014, dengan dua game 21-12 dan 21-10.

"Saya memenangi banyak gelar superseries, namun mendapatkan kembali All England merupakan perasaan yang berbeda karena ini adalah turnamen yang luar biasa," tutur Lee selepas pertandingan.

Pada nomor ganda putra, "Penyihir-penyihir Raket dari Indonesia", Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo juga tidak ketinggalan menorehkan catatan luar biasa tahun ini. Pasangan yang terbentuk pada 2015 ini mampu mendapatkan gelar perdana All England dengan melewati setiap partai yang dilakoni dalam durasi 35 menit atau di bawahnya, termasuk ketika partai final melawan Li Junhui/Liu Yuchen dengan skor 21-19, 21-14.

Hanya ketika lawan Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding, pasangan Indonesia menghabiskan waktu 1 jam 9 menit yang juga merupakan pertandingan terlama di turnamen.

"Mendapatkan All England menjadi perasaan yang luar biasa di mana semua pebulu tangkis ingin merasakannya, saya tidak menyangka ini terjadi begitu cepat," ujar Marcus Gideon.

Dengan melihat kejutan dan sejarah yang terukir sepanjang turnamen tertua di dunia tersebut, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susi Susanti melihat persaingan di dunia bulu tangkis lebih merata dan semua negara memiliki kans yang sama untuk menjadi juara di berbagai ajang.

"Persaingan bulu tangkis sekarang tidak didominasi oleh China, lihat saja di sektor putri terutama nomor tunggal saat ini nomor satunya pemain dari Thailand, lalu Spanyol tiba-tiba jadi papan atas, kemudian ada pemain-pemain Jerman dan Rusia di sektor putra, ini membuktikan persaingan bulu tangkis yang merata," ujar Susi kepada Antara.

"Kans Indonesia juga sebetulnya besar, terlebih saat ini pemain-pemain Indonesia juga mulai menunjukan kualitasnya, jika ke depan bisa mencapai tren positif, dalam dua sampai tiga tahun, Indonesia akan kembali jaya sebagai kekuatan utama bulu tangkis," kata peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona, Spanyol, tersebut. (fet/ant)

Berita terkait
0
Dugaan Covid-19 Senjata Bioterorisme, Pembuat Jadi Korban
Covid-19 yang kini menjadi pandemi di dunia, diduga aslinya adalah senjata bioterorisme. Sedangkan pembuatnya menjadi korban. Bagimana bisa?