Jakarta - Psikolog Keluarga dan Pernikahan dari Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, mengatakan tak ada manfaat dapat diambil oleh perempuan dalam kawin kontrak yang mengikat pasangan hanya beberapa tahun.

Nadya memberikan contoh kasus, bila kawin kontrak hanya berjangka waktu dua tahun lantas sang perempuan hamil, bagaimana masa depan ibu dan anak tanpa ayah nantinya?

"Kalau hanya dua tahun tiga tahun buat apa. Apa untungnya untuk seseorang, apalagi perempuan. Setelah dua tahun dia hamil, setelah itu gimana?" kata Nadya, dikutip Tagar dari Antara pada Minggu 16 Juni 2019.

Pada hakikatnya, lanjut Nadya, pernikahan memiliki tujuan membangun ikatan bahagia dalam bahtera rumah tangga. Terlebih ketika diberikan keturunan.

Dia menegaskan kawin kontrak bukan jalan keluar terjadinya tujuan tersebut seperti yang diatur UU perkawinan lantaran masa depan dari ikatan itu 'abu-abu'.

Karena, kembali pada namanya kawin kontrak itu, kawin dalam waktu tertentu, yang setelah periode tertentu itu selesai, begitu saja. 

Nadya mengungkapkan, alasan ekonomi menjadi pemicu orang-orang melakukan kawin kontrak. Dia belum pernah menemukan ada pelaku kawin kontrak yang mengungkapkan alasan lain, semisal ibadah.

Dia juga mengaitkan praktik ini dengan perdagangan orang dan prostitusi yang hulunya alasan ekonomi.

"Tetapi ada juga yang memilih berprofesi seperti itu (PSK) tetapi mengatakan mereka diperdagangkan. Ketika bilang diperdagangkan mereka menjadi korban. Ada juga banyak yang memang diperdagangkan," tutur Nadya.

Pratiknya, kawin kontrak di Indonesia banyak dilakukan pria pendatang dengan perempuan lokal.

Baca juga: Kawin Kontrak 90 Hari, Berbuah Minta Maaf, Ini Videonya