UNTUK INDONESIA
Kata Jubir Gugus Tugas Sumut soal Corona dan TBC
Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Utara menyebut penularan corona nyaris sama dengan penularan TBC.
Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Sumatera Utara, Mayor Kes dr Whiko Irwan.(Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

Medan - Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Utara Mayor Kes dr Whiko Irwan, menyebut penularan corona atau Covid-19 paling sering terjadi melalui droplet atau air ludah pasien dalam pengawasan (PDP) yang dinyatakan positif.

Proses penularan virus corona ini nyaris sama dengan penyakit tuberkulosis atau TBC. Namun, air ludah pasien positif corona berbahaya jika menyentuh benda yang ada.

"Penularan virus corona ini berbeda dengan pasien TBC. Walaupun sama-sama melalui droplet, tapi ada yang berbeda. Kalau TBC disebabkan oleh sejenis kuman, kalau virus berbeda. Cara penularannya memang sama seperti droplet. Cuma kalau TBC droplet secara langsung tertular karena dia batuk dan mengenai orang lain, maka akan tertular. Tapi kalau corona itu, kita gak kenak langsung dari orangnya. Akan tetapi batuk pasien itu mengenai meja atau gagang pintu, lalu ada yang memegang benda itu kemudian tidak cuci tangan dan mengambil makanan lalu memakannya dengan tangan itu, maka masuklah virus itu ke tubuh," kata Whiko kepada Tagar pada Selasa, 31 Maret 2020.

Karena mata, telinga, hidung, dan mulut saling berhubungan. Jadi virus itu bisa masuk. Makanya rajin-rajinlah cuci tangan dengan bersih dan benar

Selain penularan virus ke dalam tubuh melalui makanan yang dimakan karena tidak cuci tangan, virus juga bisa masuk melalui mata, hidung, dan telinga.

"Jadi, jika seseorang memegang droplet positif corona, dia tidak cuci tangan, lalu mengucek mata, memegang hidung dan telinga, maka virus itu akan dengan cepat masuk dan membelah ke dalam tubuh. Karena mata, telinga, hidung, dan mulut saling berhubungan. Jadi virus itu bisa masuk. Makanya rajin-rajinlah cuci tangan dengan bersih dan benar," ungkap Whiko.

Pengobatan positif corona dengan pasien penderita TBC, menurut Whiko, teknis atau protokolnya berbeda. Dia menyebut, sejauh ini belum diperoleh antivirus Covid-19.

"Kita memiliki obat-obatan untuk virusnya, tapi sifatnya tidak mematikan virus. Kemudian ada obat menghambat pertumbuhan virus, sifat kita simtomatik. Kalau pasien sesak diberikan bantuan alat pernapasan, kemudian pasien corona dikasih obat untuk menstimulasi daya tahan tubuh dan menghindari infeksi sekunder. Sebab ini juga menjadi faktor memperberat kondisi pasien. TBC tidak seperti itu," ucapnya.

Meski belum adanya antivirus, namun menurut Whiko, tubuh melalui antibodi bisa merespons virus yang masuk ke dalam tubuh.

"Kalau untuk mengobati virus itu adalah tubuh kita sendiri. Kalau antivirus sifatnya hanya menahan dia tidak berkembang, membelah diri. Tapi kalau dari tubuh sendiri disebut antibodi. Jadi kalau virus itu masuk dalam tubuh, antibodi kita merespons. Antibodi itu memperbaiki diri dan akan menyembuhkan dari virus corona," katanya.

Sejauh ini di Sumatera Utara menurut Whiko, belum ada pasien positif corona yang berhasil sembuh. Sedangkan pasien dalam pengawasan yang dinyatakan negatif ada, karena memang mereka bukan menderita penyakit corona.

"Sampai hari ini belum ada pasien positif Covid-19 yang kita ketahui sembuh. Sedangkan PDP yang membaik itu banyak, makanya mereka boleh rawat jalan, kalau mereka dipastikan negatif, berarti mereka bukan corona. Kita berharap agar 18 orang pasien positif corona bisa sembuh. Seperti yang terjadi di Rumah Sakit Persahabatan di Kota Malang," ungkapnya.

Melihat grafik jumlah orang dalam pemantauan (ODP) corona semakin hari semakin meningkat di Sumatera Utara, menurut Whiko, itu disebabkan karena kurang kesadaran dari masyarakat.

"Kesadaran masyarakat untuk membersihkan diri, isolasikan diri, untuk memeriksakan diri dan tidak mengikuti imbauan pemerintah. Sebenarnya ODP itu tidak dirawat, jadi mereka bisa isolasi di rumah, rutin memeriksakan diri di fasilitas kesehatan terdekat. Jika masyarakat ikut imbauan pemerintah, ODP pasti bisa diminimalisir," ungkapnya.

Whiko mengingatkan bahwa para ODP corona bisa saja meningkat statusnya menjadi PDP, jika gejala yang ditimbulkannya semakin memburuk.

"Misalnya ada tetangga status ODP, atau ada masyarakat yang mengalami flu, mereka itu kita catat, identitas mereka sebagai data kita. Mereka diisolasi di rumah dan mandiri. Apabila mereka berstatus ODP, kita belum bisa memastikan positif corona, cuma semua yang kita golongkan ODP merupakan suspek corona. Kalau ODP itu pemeriksaannya dengan rapid test, sesuai dengan standar operasional pelayanan yang dibuat oleh rumah sakit, harus selalu dites. Akan tetapi, kalau gejala flu memberat, menjadi sesak napas, itu akan menjadi PDP. Apalagi, kalau penyakit sesak nafas tidak mungkin dirawat di rumah, kita kirim ke rumah sakit rujukan dan menjadi PDP," tandasnya. [] 

Berita terkait
Update Corona 1.528 Positif, 136 Meninggal, 81 Sembuh
Jumlah kasus positif Corona atau Covid-19 di Indonesia semakin bertambah hingga 31 Maret 2020 sebanyak 1.528 orang.
5 Tips Terhindar Berita Hoaks Soal Virus Corona
Mereka yang percaya berita bohong itu kadung menyebarnya ke grup-grup WhatsApp. Padahal, pidana penjara menanti bagi penyebar informasi hoaks.
Risiko Pasien TBC Terinfeksi Virus Corona
Virus Corona bisa menyerang pada siapa saja, terutama kepada seseorang yang memiliki masalah kesehatan, termasuk gangguan kronis paru seperti TBC.
0
Gigi Hadid Positif Hamil, Ibunda Buka Suara
Ibunda Gigi Hadid, Yolanda Hadid, membenarkan bahwa putrinya itu memang tengah hamil muda.