Indonesia
Kaki Lima UKI, Tongkrongan Cari Jodoh Terbesar di Jakarta
Dari banyak tempat nongkrong anak muda yang ada di Jakarta, Kaki Lima UKI ini menjadi tempat yang paling ramai dan terbesar.
Kaki Lima UKI di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur (Foto: Tagar/Fernando Pasaribu)

Jakarta - Malam itu, Sabtu, 20 Juli 2019, deretan warung pinggir jalan itu penuh sesak dengan pengunjung. Tak hanya di dalam, bahkan meja dan kursi yang memenuhi sebagian badan jalan di depan warung-warung itu juga penuh sesak dengan pengunjung, sebagian besar anak muda.

Dari banyak tempat nongkrong anak muda yang ada di Jakarta, Kaki Lima UKI ini menjadi tempat yang paling ramai dan terbesar.

Mereka bercengkerama, bersenda-gurau, dan ada yang hanya diam, sibuk memperhatikan handphone masing-masing. Di meja lain, sekelompok anak muda asyik bernyanyi diiringi petikan gitar. Nyanyian mereka terdengar jelas dan tampaknya pengunjung lain sama sekali tidak terganggu. 

Semakin malam, tempat tersebut semakin ramai. Cuaca panas Jakarta tak menyurutkan langkah ribuan anak muda mendatangi puluhan warung tenda yang berjajar di sepanjang Jl. Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur, atau yang dikenal sebagai Kaki Lima UKI (Universitas Kristen Indonesia).

UKIKaki Lima UKI di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur. (Foto: Tagar/Fernando Pasaribu)

Menurut Nainggolan, seorang pemilik warung tenda di situ mengatakan fenomena Kaki Lima UKI diserbu ribuan anak muda baru terjadi dalam dua tahun terakhir ini. "Saya sudah jualan di sini sejak 1996 dan tempat ini baru ramai dalam dua tahun terakhir," katanya. 

Baca juga: Bolu Meranti Medan Tak Kantongi Label Halal MUI

Dia menjelaskan Kaki Lima UKI ini telah menjadi ajang pertemuan anak muda terutama para perantau dari suku Batak. "Hampir semua yang datang orang Batak. Rata-rata sudah bekerja di Jakarta ini," katanya kepada Tagar.

Dia tak menampik tempat tersebut menjadi semacam tongkrongan untuk mencari jodoh karena ribuan orang datang, berkenalan, dan kemudian menjalin persahabatan dari tempat tersebut. "Saya sendiri yakin banyak yang dapat jodoh atau pasangan dari berkenalan di tempat ini," kata pria yang mengaku berasal dari Padang Sidimpuan, Sumatera Utara ini.

Seringkali mereka harus antri hanya untuk mendapatkan tempat duduk. Bahkan banyak yang kecewa karena setelah lebih satu jam tetap saja mereka tak dapat tempat duduk.

Rohani Pakpahan, 26 tahun, kepada Tagar menyebut beberapa kali datang ke tempat ini hanya sekadar nongkrong bersama teman-temannya dari satu kampung di Pematangsiantar. "Kami biasanya janjian ketemu di sini hanya nongkrong, minum bandrek atau makan mie gomak," katanya menyebut nama minuman dan makanan khas Batak.

Dia mengatakan mendapat beberapa teman baru di tempat tersebut. Namun saat ditanya apakah dapat pacar di tempat ini, Rohani mengaku belum punya pacar. Ia mengatakan tujuannya bukan khusus cari jodoh datang ke tempat ini, namun hanya sekadar nongkrong bersama teman-temannya. "Tapi kalau dapat jodoh di sini, kenapa nggak?" katanya malu-malu.

Hal yang sama disampaikan Petrus Pardede, seorang perantau dari Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Dia mengaku kerap nongkrong di tempat ini bersama teman-temannya yang berasal dari Balige. 

Petrus mengatakan selain nongkrong, dia berharap juga bisa berkenalan dengan gadis Batak di tempat itu. "Ya, memang tujuannya lihat-lihat cewek Batak, bang, siapa tahu ada yang cocok, bisa kenalan," kata Petrus yang bekerja di daerah Jakarta Selatan.

Sejauh ini, Petrus mengaku sudah banyak berkenalan dengan gadis Batak di tempat itu namun belum ada yang benar-benar menarik hatinya untuk hubungan lebih lanjut. "Pernah saya tertarik sama boru Saragih, tapi ternyata udah punya pacar dia," katanya tertawa.

Baca juga: Nadya Hutagalung dan Tiga Tokoh Diaspora Berdarah Batak

Pantauan Tagar, dari banyak tempat nongkrong anak muda yang ada di Jakarta, Kaki Lima UKI ini menjadi tempat yang paling ramai dan terbesar. Setiap hari, terutama malam Minggu, ribuan anak muda nongkrong di tempat ini. Ratusan motor ditambah mobil pun parkir memenuhi ruas jalan sepanjang satu kilometer mulai dari Gedung Kantor Badan Kepegawaian Negara sampai jembatan penyeberangan orang (JPO) depan UKI. Alhasil, mulai sore sampai malam, jalur Cawang ini selalu macet.

Puluhan warung tenda berderet di pinggir jalan. Tak hanya di dalam warung, meja dan kursi pun disediakan di badan jalan. Jalan Mayjen Sutoyo pun hanya setengahnya yang bisa dilalui kendaraan karena setengah lagi dipergunakan untuk meja, kursi, dan parkir kendaraan. Meski demikian, tetap saja tempat tersebut tak mampu menampung animo anak muda Batak yang datang. Seringkali mereka harus antri hanya untuk mendapatkan tempat duduk. Bahkan banyak yang kecewa karena setelah lebih satu jam tetap saja mereka tak dapat tempat duduk.

BandrekMinuman bandrek dengan latar Nainggolan dan istrinya sedang menyiapkan bandrek untuk para pengunjung di warungnya di Kaki Lima UKI, Cawang, Jakarta Timur. (Foto: Tagar/Fetra Tumanggor)

Warung tenda di situ didominasi jualan khas Batak seperti saksang, panggang B1 dan B2, arsik, mi gomak, dengan minuman paling laris adalah bandrek. Larisnya bandrek ini sebenarnya cukup aneh mengingat minuman ini tak cocok untuk udara Jakarta yang panas. Bandrek dibuat dari campuran jahe, gula merah, dan ditambahkan beberapa rempah dan biasanya dihidangkan pada cuaca dingin untuk memberi kehangatan. []    

 

   

Berita terkait
0
Ustaz Abdul Somad Batal Isi Ceramah di Pematangsiantar
Ustad Abdul Somad batal mengisi tausiah di Kota Pematangsiantar. Rencananya, UAS akan hadir di Masjid Raya, Minggu 25 Agustus 2019.