Jakarta - Dukungan demi dukungan dikumpulkan oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk kembali mendapatkan kursi tertinggi partai berlambang pohon beringin itu. 

Begitu juga dengan Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang mendapat kepercayaan untuk bersaing dengan Airlangga setelah mendapat dukungan dari Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) dan sejumlah Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar. 

"Ya, makin memperkuat keyakinan saya. Kami tunggu nanti saatnya saya akan umumkan sendiri. Tapi tentu sebelumnya saya akan menghadap ketua umum untuk meminta izin maju sebagai caketum kalau nanti sudah berkeyakinan tetap," tutur Bamsoet di Gedung Parlemen, Rabu, 3 Juli 2019.

Bambang SoesatyoKetua DPR Bambang Soesatyo. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Namun, berselang satu pekan dukungan kader Partai Golkar terpaksa terhenti. Salah satunya dari Ketua DPD Partai Golkar Kota Cirebon Toto Sunanto. Dia mengaku dinonaktifkan dari jabatannya setelah mendukung Bamsoet untuk jadi ketua umum Partai Golkar. 

Tak lama kemudian, penonaktifan jabatan terjadi pada 10 Ketua DPD tingkat II Partai Golkar di Maluku secara tiba-tiba. Menurut Ketua Pemenangan Pemilu Partai Golkar Aziz Samual alasan penonaktifan di Maluku lagi-lagi karena dukungan yang diberikan terhadap Bamsoet. 

Kabar penonaktifan jabatan rupanya sampai ke telingan Bamsoet. "Saya sebetulnya tidak ingin pendukung-pendukung saya menjadi korban. Saya lebih memilih dia mencabut dukungan dari saya yang penting mereka selamat," ucap Bamsoet di Gedung Parlemen, Rabu, 10 Juli 2019.

Airlangga Hartanto Ketum Golkar (Custom)Ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartanto. (Foto: Istimewa)

Kubu Airlangga pun tidak tinggal diam mendengar cerita penonaktifan karena dukungan terhadap Bamsoet. Korbid Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung membantah jika pemberhentian karena dukungan yang tidak diberikan pada kubunya.

"Jangan dikapitalisasi menjadi masalah politik, apalagi ditarik-tarik dikaitkan dengan munas (Golkar)," kata dia.

Pertarungan Sengit 

Peneliti dari Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati mengungkapkan akan ada berbagai momen yang terjadi jelang pemilihan atau pergantian kepemimpinan dalam partai politik entah bersifat positif atau negatif. Misalnya, yang terjadi dalam Partai Golkar.

“Saya kira momen pemecatan itu bagian lumrah dari dinamika organisasi partai. Namun, yang perlu diingat adalah bilamana pemecatan itu dilandasi dasar sepihak, itu berpotensi eksodus kader ke partai lain,” tutur dia kepada Tagar, Kamis, 11 Juli 2019.

Apalagi, perebutan kursi ketua umum di tubuh Partai Golkar yang menurutnya sangat keras. Seusai lengsernya Presiden ke-2 Soeharto dari Partai Golkar.

“[Pertarungan] sangat keras, PG semenjak pasca orde baru ini. Seolah berupaya mencari nahkoda yang memiliki kemiripan mirip Soeharto: punya modal kuat dan jaminan selalu masuk ke pemerintahan,” ucapnya.

Baca juga: