Jusuf Kalla Sebut Buzzer Sumber Kekacauan Indonesia

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyoroti fenomena buzzer yang menurutnya sengaja hadir dan menadapat ruang dalam kampanye pemilu.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). (Foto: Tagar/Antara Foto)

Jakarta – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyoroti fenomena buzzer yang menurutnya sengaja hadir dan menadapat ruang dalam kampanye pemilu untuk menyampaikan segala hal positif kandidat yang didukungnya.

“Jadi tolonglah siapa itu yang bisa memperbaiki. Sebab sumber segala kekacauan adalah buzzer-buzzer itu. Seharusnya sudah lah, tidak perlu lagi ada pencitraan yang macam-macam. Tidak perlu lagi merusak nama orang, biar demokrasi berjalan dengan baik," kata JK Selasa, 23 Februari 2021. 

Pegiat Media Sosial Eko Kuntadhi mengatakan bahwa Buzzer sendiri memiliki arti sebagai pendengung pesan.


Menurut saya Pak JK menyebut buzzer itu kepada orang-orang yang tidak setuju dengan pendapatnya di stampel buzzer.


Eko KuntadhiEko Kuntadhi saat diwawancarai Cory Olivia di kanal YouTube Tagar TV. (Foto: Tagar/Selfiana)

“Lucu aja ini kan soal definisi, saya ga ngerti apa yang ada di kepala pak JK soal definisi buzzer. Jadi menurut saya pernyataan pak JK itu berangkat dari orang-orang lama yang gagap menanggapi medsos sehingga ia beranggapan wah ini bahaya sekali, menurut saya ini berlebihan,” ujar Eko Kuntadhi saat diwawancarai Tagar TV, Kamis, 29 Juli 2021.

Menurut Eko hal yang bisa disebut sebagai sumber kekacauan di Indonesia adalah seperti para koruptor bukan hanya buzzer semata. 

“Menurut saya Pak JK menyebut buzzer itu kepada orang-orang yang tidak setuju dengan pendapatnya di stampel buzzer,” ujarnya. Eko juga mengatakan bahwa JK hanya kaget menghadapi perkembangan media sosial saat ini.

“Karena dia kaget maka langsung saja mencap segala sesuatunya menjadi buruk, padahal ngga seburuk yang dipikirkan,” ujarnya. Eko juga mengakui bahwa dirinya sendiri sering disebut buzzer ketika ia hanya berbeda pendapat.

Menurut Eko semuanya berhak menyuarakan pendapatnya dan tidak mesti semuanya harus memiliki pendapat yang sama. Karena negara ini negara demokrasi.

“Mungkin mereka yang biasa dipuja puji kaget ketika dikritik oleh rakyat biasa dengan gaya bahasa rakyat, sehingga mereka beranggapan wah ini ulah buzzer. Anggap saja kondisi media sosial saat ini sebagai rakyat yang sedang berebut menyampaikan pendapat, ini kan ruang demokrasi yang besar,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa hal itu wajar-wajar saja asalakan bukan menebar fitnah, hoaks, dan pencemaran nama baik. Sebelumnya Eko sering disebut sebagai buzzer pemerintah karena dinilai sering mendukung Pemerintah. 

Namun, dirinya menegaskan bahwa apa yang ia lakukan karena ia mendukung kebijakan pemerintah yang menurutnya itu sudah cukup baik.

“Saya mendukung pemerintah tapi saya juga mengkritisi, saya sering mengkritisi efektivitas komunikasi pemerintah nah itu saya sudah sering banget bilang komunikasi pemerintah itu buruk. Beberapa kelakuan pejabat yang aneh juga sering saya kritisi kok,” ujarnya.

(Selfiana)

Berita terkait
Sadikin Aksa, Keponakan Jusuf Kalla Jadi Tersangka Kasus Keuangan
Bareskrim Polri menetapkan Sadikin Aksa, yang tak lain adalah keponakan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Jujur Justru Saya Takut Dilaporkan ke Polisi oleh Jusuf Kalla
Saat Jusuf Kalla jadi wakil presiden zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono banyak hal ingin saya kritik tapi saya takut dilaporkan ke polisi.
Mahfud MD Jawab Jusuf Kalla Soal Kritik Jokowi
Mahfud Md juga menyinggung laporan keluarga Jusuf Kalla atas dugaan pencemaran nama baik oleh Ferdinand Hutahaean, Rusli S Kamri dan R. Pomanto
0
Jusuf Kalla Sebut Buzzer Sumber Kekacauan Indonesia
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyoroti fenomena buzzer yang menurutnya sengaja hadir dan menadapat ruang dalam kampanye pemilu.