Makassar - Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 Wita. Rumah Nasrul (34) yang sedang melangsungkan hajatan pernikahan sangat ramai, tamu datang silih berganti. Di tengah kebahagiaan, Nasrul merasa cemas karena sejak pagi tidak melihat saudara prianya yang sejak lama menderita penyakit aneh, saudara bernama Beda usia 45 tahun.

Rumah Nasrul dan Beda berjarak 300 meter. Harusnya Beda ada di rumahnya, menyantap aneka makanan lezat yang dihidangkan.

Nasrul semakin lama berpikir semakin cemas. Dengan perasaan tidak tenang ia menanyakan keberadaan Beda pada anggota keluarga yang lain.

Ia dan beberapa keluarga lain yang cemas akhirnya sepakat pergi ke rumah Beda, dengan maksud mengajaknya makan bersama.

Sampai rumah Beda yang dibangun semi permanen, Nasrul mengetuk pintu, sekali dua kali tiga kali tak ada jawaban. 

"Beda, Beda, Beda... Adajako di dalam kah?" teriak Nasrul. Tetap tak ada jawaban. Nasrul gelisah.

Didorong rasa penasaran, Nasrul mengitari rumah, berjalan ke arah jendela di bagian samping belakang. Jendela kecil terbuka tepat posisi dapur, tidak terlalu tinggi. Nasrul mengintip ke dalam

Seketika Nasrul berteriak histeris menyebut nama Beda. Di bagian dalam rumah terlihat Beda dalam keadaan gantung diri, bunuh diri menggunakan tali jemuran. Beda bertelanjang dada, hanya berlilitkan sarung.

"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, meninggalki Beda gantung diriki," teriak Nasrul.

Keadaan menjadi menegangkan. Anggota keluarga lain di antaranya histeris menangis.

Nasrul dan beberapa yang lain mendobrak pintu rumah Beda. Sekonyong-konyong bau tak tak sedap menguar ke udara.

Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, meninggalki Beda gantung diriki.

Penyakit Aneh

Beda semasa hidup dikenal sebagai pria baik, ramah pada keluarga serta tetangga di lingkungan Awang-awang, Kelurahan Sipatokkong, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. 

Hingga suatu ketika Beda yang awalnya bekerja sebagai petani ini tiba-tiba sedikit berubah, membatasi diri, menarik diri dari pergaulan, tak lagi berkomunikasi dengan rekan-rekannya.

Belakangan diketahui, perubahan Beda ini karena mengidap penyakit yang diduga gondok dan sekujur tubuhnya mengalami bengkak. Awal mula menderita penyakit aneh itu, ia tidak tinggal diam. Meski seorang diri, Beda kerap berkunjung ke rumah sakit bahkan ke pengobatan alternatif, orang pintar untuk konsultasi penyakitnya itu.

Pihak rumah sakit dan juga orang pintar telah memberikan sejumlah resep obat. Setiap hari secara rutin Beda mengonsumsi obat karena ingin sembuh agar bisa kembali bekerja dengan baik.

Beberapa tahun berobat, penyakit Beda tak kunjung sembuh, malah tambah membengkak. Hal itu membuatnya stres, mengurung diri dalam rumah.

Beberapa keluarga dan tetangga kerap mengunjungi Beda dengan maksud memberikan semangat untuk tetap optimis dalam menghadapi penyakit.

"Banyak biasa tetangga datang untuk melihat keadaan Beda. Meraka biasa memberikan support dan pesan kepada Beda agar tetap tabah dan banyak berdoa akan kesembuhannya," ujar Jufri (45) yang juga merupakan keluarga Beda.

Namun tampaknya motivasi dari para sanak keluarga dan tetangga tak cukup bagi Beda untuk tetap tegar. Bahkan beberapa waktu belakangan, Beda kerap mengeluhkan penyakitnya. Keluhannya itu kerap disampaikan kepada sanak keluarganya yang berkunjung.

Diduga karena tak kuat menahan sakit yang dideritanya dan juga penyakitnya tak kunjung sembuh, Beda memilih mengakhiri hidupnya. 

Beda sendirian dalam rumah. Tak ada yang tahu ketika ia mengambil tali jemuran, mengaitkannya ke balok penyangga atap seng pada bagian dapur untuk gantung diri.

"Korban sudah lama berobat namun penyakitnya tersebut tidak kunjung sembuh. Kemungkinan korban sudah merasa putus asa dengan penyakit yang dideritanya," kata Jufri.

Murni Bunuh Diri

Petugas Polsek Watang Sawitto mendatangi lokasi kejadian di mana Beda gantung diri. Polisi mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi atau "police line" sembari menunggu Tim Inafis dari Polres Pinrang dan juga petugas medis dari Awang-awang.

Tak lama kemudian petugas medis hadir, langsung memeriksa sekujur tubuh korban. Sementara tim Inafis Polres Pinrang juga langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sembari berkoordinasi dengan pihak keluarga korban.

"Menurut keterangan dari pihak medis bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan di sekujur tubuhnya. Dan korban atau mayat tersebut sudah dalam keadaan membengkak dan berbau busuk," ucap Kapolres Pinrang, AKBP Bambang Suharyono.

Ia menerangkan, dari hasil olah TKP tidak ditemukan adanya benda-benda yang mencurigakan sehingga korban diduga murni meninggal dunia karena bunuh diri.

Pihak keluarga mengaku menerima kejadian tersebut dengan lapang dada serta menganggap kejadian tersebut adalah musibah. Sehingga, pihak keluarga korban menolak untuk dilakukan autopsi.

"Diperkirakan korban gantung diri sudah lebih dari 12 jam karena mayat sudah bau busuk. Dan juga pihak keluarga tidak keberatan dan ikhlas dengan kepergian korban," ujar Bambang.

Pihak keluarga menandatangani surat pernyataan tidak keberatan dengan kematian korban, selanjutnya jenazah korban disemayamkan di rumah duka untuk kemudian dikebumikan pada Sabtu 22 Juni 2019.

Warga Lingkungan Awang-awang menjadi heboh. Mereka berbondong-bondong ke lokasi, melihat keadaan Beda yang memilih kematian dengan cara tragis. []

Baca kisah lain: