UNTUK INDONESIA
Jeritan PKL Balai Jagong Kudus di Masa Libur Corona
Kebijakan meliburkan PKL di Balai Jagong Kudus karena corona dinilai tebang pilih. Kenapa?
Suasana Balai Jagong Kudus nampak sepi pengunjung pascapedagang kaki lima di tempat itu diliburkan gegara virus corona.Pedagang merasa kebijakan itu tak adil karena PKL serupa di tempat lain masih dibolehkan berjualan. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Kudus - Dua pekan libur corona, pedagang kaki lima (PKL) di Balai Jagong menjerit. Tidak hanya mati pendapatan, mereka juga meminta keadilan agar kebijakan meliburkan PKL di kawasan Sport Center bisa dilakukan secara menyeluruh, tidak tebang pilih.

Bambang Eko Yanto, 57 tahun, pedagang jagung bakar di Balai Jagong mengaku cukup kecewa atas kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Meliburkan PKL Balai Jagong, mulai 16- 30 Maret 2020, dilakukan tanpa adanya rapat terlebih dahulu dengan para pedagang

"Kaget, tiba-tiba disuruh libur dua minggu. Katanya untuk mencegah penyebaran corona. Kami masyarakat kecil hanya bisa mengikuti aturan yang ada," kata dia kepada Tagar, Rabu pagi, 18 Maret 2020. 

Meski jauh di lubuk hatinya merasa gundah dan gelisah lantaran pendapatan dari berjualan jagung bakarnya mandek hingga dua pekan ke depan namun, pria setengah abad itu mengaku pasrah dengan kebijakan yang ada.

"Nanti coba kerja serabutan buat menutup kebutuhan keluarga," ujar Bambang di rumahnya di RT 4 RW 3, Kelurahan Wergu Wetan.

Rasa kecewanya kian membuncah saat mengetahui PKL Taman Wergu Wetan dan Taman Krida yang terletak di bagian depan kompleks Sport Center masih dibebaskan berjualan. Kebijakan itu dirasa tak adil mengingat ia dan rekan-rekannya yang menempati kawasan belakang kompleks Sport Center dilarang berjualan.

Nanti coba kerja serabutan buat menutup kebutuhan keluarga.

Menurut Bambang kebijakan itu tebang pilih. Sebab Taman Krida dan Taman Wergu Wetan yang terletak di depan kawasan Sport Center juga kerap digunakan oleh masyarakat untuk berkumpul, meskipun jumlahnya tidak sebanyak di Balai Jagong. 

"Kalau Balai Jagong diliburkan. PKL di sana seharusnya diliburkan juga, biar sama. Tidak tebang pilih seperti ini," ujarnya. 

Bambang sempat mendengar tawaran dari Dinas Perdagangan yang meminta aktivitas PKL dipindah ke Gang 1, Gang 2 dan Gang 3 Kota, tapi ia menolaknya. Alasannya, takut tidak laku lantaran dagangannya tidak sama dengan dagangan para PKL di kawasan kuliner perkotaan. PKL di tempat tersebut menjual makanan berat seperti nasi tahu, gulai, sate kerbau dan sate kambing.

"Balum tau mau berjualan di mana dua minggu ini. Mungkin, nanti koordinasi dengan Pemerintah Kelurahan Wergu Wetan agar diizinkan berjualan di sekitar Tugu Wergu," tutur dia

Hal senada disampaikan oleh pedagang Balai Jagong lain, Nor Yusuf, 48 tahun. PKL mobil mainan ini turut mengeluhkan matinya penghasilan. Ia juga iri melihat PKL di Taman Wergu Wetan dan Taman Krida masih bebas berjualan.

"Kalau di sekitar Taman Wergu Wetan dan Taman Krida masih boleh digunakan jualan, mungkin PKL di Balai Jagong bisa ditawarkan pindah ke sana. Biar sama-sama jalan, tidak seperti ini," katanya.

Kepada Pemerintah Kabupaten Kudus, dirinya bersama rekan-rekannya sesama PKL mainan berharap diberikan izin menempati lahan untuk menggelar lapak di lapangan voli di belakang GOR Wergu Wetan. "Di Kudus yang ramai hanya di kawasan GOR Wergu Wetan itu saja. Kalau pindah di tempat lain sepi," katanya.

Pascakebijakan libur corona di Balai Jagong, wartawan Tagar mendatangi kawasan tersebut, Selasa sore, 17 Maret 2020. Masuk melalui jalan depan Taman Krida, suasana kontras begitu terasa antara kawasan depan Taman Wergu Wetan dan Balai Jagong.

Di Taman Wergu Wetan masih cukup ramai dengan puluhan PKL yang mangkal berikut belasan pengunjung yang tengah menikmati kuliner sambil bercengkrama di taman. Suasana sebaliknya terasa di Balai Jagong. Di tempat itu sangat sepi dari hiruk pikuk aktivitas pedagangan. Sejauh mata memandang hanya pengendara motor yang melintas dan segelintir orang yang mengobrol di Balai Jagong.

Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti mengatakan peliburan PKL di Balai Jagong ditujukan guna meminimalisir kegiatan pengumpulan massa di Kota Kretek. Sebagai bagian dari langkah antisipasi penyebaran virus corona di Kudus.

"Di Balai Jagong pengunjung yang datang tidak hanya berkuliner. Tetapi sambil berolahraga dan mengobrol hingga berjam-jam. Kondisi ini yang dinilai berisiko menjadi sarana penyebaran Covid-19. Untuk itu sementara kami liburkan dulu," jelas dia. 

Sebagai gantinya, dinas menawarkan pedagang berjualan di Gang 1, Gang 2, dan Gang 3 Kota. "Kalau di sana, pengunjung datang untuk kuliner saja. Tidak sampai ngobrol berjam-jam seperti di Balai Jagong. Sehingga potensi penyebaran corona di sana lebih rendah," tutur Sudiharti.

Terkait alasan tidak dilakukannya peliburan di kawasan depan Sport Center Kudus, Sudiharti menilai kerumunan massa di Taman Wergu Wetan dan Taman Krida tidak sebanyak di Balai Jagong. Sehingga keberadaan PKL di dua tempat itu dirasa masih aman. []

Baca juga: 

Berita terkait
Kegalauan Orang Tua di Kudus Sikapi Libur Corona
Kenapa orang tua di Kudus galau menyikapi kebijakan libur sekolah 14 hari karena virus corona?
Duduk Perkara Pasien Tolak Dibawa ke RS Corona Kudus
Dinas Kesehatan Kudus mengungkap kronologi pasien demak yang menolah dibawa ke RSUD rujukan virus corona di Kudus.
Cegah Corona Car Free Day di Kudus Ditiadakan
Mulai Minggu 15 Maret 2020 kegiatan Car Free Day di Kudus ditiadakan sampai batas waktu belum ditentukan. Ini upaya pencegahan virus Corona.
0
Es Pisang Ijo, Menu Buka Puasa Khas Makassar
Salahs atu takjil yang paling laris dan paling diburu warga Makassar saat berbuka puasa adalah es pisang ijo