UNTUK INDONESIA
Industri Tembakau Sukses, Petani Jateng Gigit Jari
Kesejahteraan petani tembakau di Jateng berbanding terbalik yang didapat industri. Mereka akhirnya banyak beralih ke petani multikultur.
Para peneliti MTCC Unimma saat menggelar konferensi pers terkait hasil penelitian petani tembakau Jawa Tengah (Jateng), Sabtu, 25 Juli 2020. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

Magelang - Di tengah capaian industri tembakau Indonesia yang terbilang sukses, para petani tembakau, khususnya di Jawa Tengah (Jateng) ternyata hanya bisa gigit jari. Kesejahteraan mereka berbanding terbalik dengan apa yang didapat pelaku industri. 

Hal itu diketahui setelah Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) melakukan riset tahun 2019 lalu. Lewat salah satu penelitinya, Heni Setyowati, kondisi ironis tersebut merupakan fakta dan membutuhkan perhatian semua pihak.

Di tengah kondisi yang kurang menguntungkan ini, ternyata mulai ada perubahan pergeseran alih tanam maupun diversifikasi.

Sesuai data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2019, Indonesia merupakan negara produsen tembakau nomor enam di dunia setelah China, Brasil, India, Amerika Serikat, dan Malawi. Total produksi tembakau mencapai 136 ribu ton atau sekitar 1,9 persen dari total produksi tembakau dunia.

Sedangkan provinsi penghasil tembakau di Indonesia adalah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah.

"Secara umum, melihat produksi tembakau Indonesia, tentunya harus seimbang dengan kesejahteraan petani tembakau yang ada. Namun, fakta menunjukkan hal yang berbanding terbalik," kata Heni, dalam paparan hasil penelitian petani tembakau Jawa Tengah, di kampus Unimma, Sabtu, 25 Juli 2020.

Heni menambahkan, masa pandemi juga menuntut langkah ketahanan pangan, sehingga terjadi penurunan area lahan dan produktivitas tembakau.

"Di tengah kondisi yang kurang menguntungkan ini, ternyata mulai ada perubahan pergeseran alih tanam maupun diversifikasi. Dimana petani tembakau mulai mencari alternatif tanaman lain selain tembakau," ujarnya.

Menurutnya, petani ini yang kemudian dikenal sebagai petani multikultur. Lahirnya petani multikultur ini memunculkan banyak tantangan dari teknologi budi daya, kelembagaan petani, keberpihakan kebijakan pemerintah, dan lainnya.

"Atas dasar kondisi tersebut, MTCC Unimma telah melakukan upaya pemberdayaan, pendampingan, dan riset terkait petani multikultur," tutur Heni.

Baca juga: 

Peneliti lainnya, Retno Rusdjijati menambahkan, riset yang dilakukan oleh MTCC menghasilkan sejumlah kesimpulan. Di antaranya, ketidakberdayaan petani tembakau dialami karena faktor internal maupun faktor struktur sosial.

"Perlu upaya strategis dan mekanisme untuk menguatkan kapasitas petani multikultur," katanya.

Kemudian, skema kebijakan terkait infrastruktur ekonomi pedesaan harus menjadi prioritas pemulihan ekonomi. Dan penguatan modal, kelembagaan, jejaring antarpetani harus menjadi perhatian utama pemerintah.

"Masalah-masalah terkait petani tersebut menjadi prioritas program MTCC Unimma. Salah satunya dengan riset-riset terkait yang dilakukan secara periodik," ucapnya. []

Berita terkait
Cukai Naik 16 Persen, Tembakau Jadi Penopang
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan penerimaan negara dari bea dan cukai naik 16,17 persen atau 24,65 persen dari target APBN.
Cukai Rokok Naik, PKB: Pikirkan Nasib Petani Tembakau
PKB setuju kenaikan cukai rokok, tapi pemerintah harus pikirkan dulu nasib petani tembakau sebelum memutuskan kebijakan.
Imbas Kenaikan Cukai Rokok Ancam Petani Tembakau
Rencana menaikkan cukai rokok sebesar 23% akan berdampak pada petani tembakau di daerah.
0
Gus Menteri Ajak Santri Perkokoh Tradisi Pesantren
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar meminta seluruh santri memegang kokoh tradisi pesantren. Sebab, ini adalah budaya yang hanya ada di Indonesia.