UNTUK INDONESIA
HUT ke-75 RI, Budiman: Saatnya Buat Masyarakat Cerdas
Budiman Sudjatmiko mengatakan Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia menuntut masyarakat semakin cerdas.
Budiman Sudjatmiko. (Foto: Tagar/Moh Ainul Yaqin)

Jakarta - Polisi PDI Perjuangan (PDIP), Budiman Sudjatmiko mengatakan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2020, dalam situasi pandemi Covid-19 ini menuntut masyarakat semakin cerdas.

Budiman mengaku peperangan yang terjadi saat ini berbeda dengan sebelumnya, dimana saat ini Indonesia sedang berperang melawan virus corona atau Covid-19. Maka, dia berharap masyarakat dapat merubah pola pikir agar dapat menang melawan virus tersebut.

Kita pernah melawan musuh yang kelihatan, Jepang dan Belanda yang mau menjajah kita. Sekarang perjuangan kita lebih berat

"Pandemi ini saatnya membuat masyarakat cerdas. Cerdas secara pengetahuan, sosial, spiritual, dan cerdas secara mental. Karena pandemi dan new normal ini menuntut kecerdasan yang baru, cara baru melihat kehidupan, cara baru melihat masyarakat berbangsa dan cara baru melihat teknologi," katanya dihubungi Tagar, Senin, 17 Agustus 2020.

Menurutnya, saat ini Indonesia sedang bergantung pada kemampuan teknologi, serta penemuan-penemuan sains untuk mendapatkan vaksin corona.

"Kita pernah melawan musuh yang kelihatan, Jepang dan Belanda yang mau menjajah kita. Sekarang perjuangan kita lebih berat, karena yang kita lawan adalah musuh yang tak kelihatan. Dan mungkin kita akan menemukan penemuan yang canggih yaitu robot yang cerdas dan terus belajar. Dan kita akan menghadapi itu," ujarnya.

Dia menjelaskan, sembari menanti adanya vaksin corona, jalan satu-satunya memerangi virus ini dengan menjalankan protokol kesehatan yang selalu disuarakan oleh pemerintah.

"New normal adalah perjuangan kita untuk menghadapi musuh yang tak kelihatan. Dan musuh itu jahat meskipun tak berniat jahat. Musuh virus itu tidak punya ideologi tapi dia adalah konsekuensi dari cara hidup kita yang merusak lingkungan. Virus itu mematikan banyak orang adalah buah dari kesalahan kita sendiri. Bukan cuma di Indonesia tetapi diseluruh dunia," ucap dia.

Namun, dia menyayangkan ketika sistem sosial, ekonomi, serta politik tidak mampu menyelesaikan persoalan pandemi ini.

"Ternyata tidak sanggup, tidak mampu melawan ketika kita diserang secara serentak, secara masif oleh musuh yang tak terlihat. 75 tahun kita merdeka, kita harus mengevaluasi ekonomi kita, politik, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan kita," katanya.

Tak hanya itu, Budiman juga menanggapi soal pidato Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat pidato kenegaraan di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2020.

Dia menegaskan, permintaan Jokowi yang menyebut agar masyarakat saling menghargai hak orang lain dalam berdemokrasi, serta meminta jangan ada yang merasa paling agamis dan pancasilais sendiri adalah sebuah peringatan.

"Bagi saya, pernyataan Pak Jokowi adalah sebuah warning. Indonesia ini terlalu besar kalau sekadar mau menang sendiri. Orang yang tidak bisa menerima keragaman adalah orang yang tidak sanggup bersaing," katanya.

"Kan enggak bisa begitu. Itu bukan suatu kemenangan yang elegan atau keren. Kalau kita hanya ingin diri kita sendiri, berkuasa sendiri, sementara kelompok lain enggak ada, agama lain enggak ada, suku lain enggak ada, itu namanya menang-menang sendirian. Kita menghargai kemenangan, keunggulan karena kita menerima perbedaan," ucap Budiman menambahkan.[]

Berita terkait
Jokowi Perkuat Infrastruktur Digital dari RAPBN 2021
Jokowi menilai situasi pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa ketersediaan dan berfungsinya infrastruktur digital menjadi sangat penting dan strategis.
Kebijakan Fiskal 2021 Langkah Jokowi Pulihkan Ekonomi
Jokowi mengatakan, Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang menjadi bencana kesehatan dan kemanusiaan pada abad ini.
Disinggung Jokowi, Menperin Pacu Industri Obat Mandiri
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong industri obat dan alat kesehatan menjadi sektor yang mandiri seperti keinginan Presiden Jokowi.
0
Rokok Sebabkan Kebakaran Kejagung Gulirkan Spekulasi Panas
Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung RI karena puntung rokok disebut-sebut cuatkan spekulasi. Maka itu Polri ditantang hadirkan ahli.