UNTUK INDONESIA
Hery Nabit Soroti Penanganan Sampah di Ruteng NTT
Calon Bupati Manggarai Herybertus Nabit soroti persoalan sampah di Ruteng, Ibukota kabupaten Manggarai NTT.
TPA Ncolang, Kelurahan Karot, kecamatan Langke Rembong, Minggu 18 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Pepi Kurniawan)

Ruteng - Calon Bupati Manggarai Herybertus Nabit soroti persoalan sampah di Ruteng, Ibukota kabupaten Manggarai NTT. Hal itu disampaikan saat melakukan kunjungan ke Tempat Pengolaan Akhir (TPA) Ncolang, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Minggu 18 Oktober 2020.

Di lokasi TPA ia mengaku melihat banyak sampah yang bertumpukan, baik sampah plastik, sampah organik, botol dan sampah kaleng. Terlihat beberapa mesin pencacah sampah yang sudah tidak digunakan lagi sesuai dengan fungsinya.

Tampak beberapa genangan air yang berwarna hitam pekat dan aroma yang cukup menyengat. Tak sedikit pula lalat yang berterbangan di sekitar itu. Tumpukan sampah yang tak teratur juga menjadi pemandangan di tempat itu.

Menurut saya ini bukan berdasarkan manajemen yang baik tapi kerja asal jadi, yang penting sampah menghilang dari kota Ruteng.

"Ini risiko dari tidak memanfaatkan barang itu pasti rusak, ini tadi yang saya maksud penanganan dari hulu ke hilir," katanya.

Menurut Hery sapaan akrab Herybertus Nabit, pengelolaan sampah di kota Ruteng harus dimulai dari hulu sampai hilir, hulunya sampah rumah tangga di Ruteng sementara hilirnya di lokasi TPA.

Baca juga:

Sebab menurut dia, untuk mengatasi persoalan sampah tidak hanya berpikir pada pemindahan sampah dari sampah rumah tangga ke TPA, tetapi harus berpikir juga tentang pengelolaan sampah di lokasi TPA agar tidak berdampak pada masyarakat sekitar. Apalagi lokasi TPA cukup dekat dengan pemukiman warga.

Manajemen pengeloaan yang baik di hulu kata dia berdampak pada pengurangan jumlah sampah yang akan dipindahkan ke TPA dengan cara pemilahan sampah. Harus disiapkan tempat sampah khusus untuk sampah yang bisa didaur ulang dan tidak. Sehingga tidak semua sampah dipindahkan ke TPA.

Apalagi berdasarkan Surat Keputusan Standar Nasional Indonesia (SK-SNI), jumlah produksi sampah di kota Ruteng sebagai kota kecil sebanyak 2,5 liter per orang per hari. Sementara jumlah penduduk kota Ruteng berkisar 80an Ribu, sehingga produksi sampah capai 200 meter kubik per hari. Sedangkan luas TPA hanya 1,3 Hektare.

"Ini yang kita lihat di hilirnya, jadi kemudian kalau ada lalat, polusi udara dan masyarakat sekitar mengeluhkannya, yah itu karena kita punya manajemen seadanya. Bahkan menurut saya ini bukan berdasarkan manajemen yang baik tapi kerja asal jadi, yang penting sampah menghilang dari kota Ruteng, soal di TPA tidak dilakukan penanganan yang baik," katanya.

Pengelolaan sampah di TPA juga kata Politisi PDIP itu harus dilakukan dengan baik, seperti penggunaan mesih pencacah maupun manajemen yang jelas dan teratur. Sementara sampah yang tidak bisa digunakan akan dilakukan dengan cara sanitary landfill untuk meminimalisir pencemaran lingkungan.

Sanitary landfill jelas dia merupakan metode pemusnahan sampah dengan cara menimbun tanah dan memadatkan sampah ke dalam lubang yang sudah digali. Tapi yang ditimbun juga hanya sampah organik atau sampah yang bisa diuraikan oleh bakteri pengurai.

Hery menambahkan, lokasi TPA harus diperluaskan lagi agar sampah tidak bertumpukan pada satu titik saja, selain itu juga kalau memungkinkan bisa dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, namun kembali ia tekankan soal manejemen penanganan sampah.

"Saya kira tiidak ada pilihan lain soal perluasan lahan dulu, kalau memungkinkan. Tapi yang paling penting adalah manajemennya sendiri. Karena biar lahannya luas dan kita pindahkan lokasi tapi kalau manajemennya tidak diperbaiki maka hasilnya tetap seperti sekarang ini. Kuncinya manajemen yang baik," ujar dia.

Ia juga mengungkapkan, untuk menyelesaikan persoalan sampah harus melibatkan semua pihak, pemerintah harus bangun komunikasi dan membuka diri bagi pihak lain yang paham mengurus sampah.

Hery juga mengaku sudah beberapa lembaga, baik LSM, Universitas maupun beberapa lebaga lainnya yang sudah bangun komunikasi dengannya untuk menyelesaikan persoalan sampah di Ruteng.

Dan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menurut Hery, pemerintah bukan hanya sekedar imbauan, tapi harus buat aturan yang jelas bahkan harus diatur dalam Peraturan Daera (Perda). Setelah itu pemerintah tegakkan, bukan hanya sebagai simbol.

"Kolaboratif sebenarnya ini, menurut saya kalau kita bicara tentang sampah ini kita bicara kesadaran masyarakat, tapi caranya harus baik supaya bisa diterima, karena pemerintah juga tidak bisa lakukan sendiri tapi ajak semua pihak, baik gereja, anak muda, LSM, organisasi wanita, organisasi pemuda dan sebagainya," katanya.

Bentuk Bank Sampah

Hery Nabit mengaku sudah bangun kerjasama dengan salah satu kelompok anak muda di Ruteng yang tergabung dalam Front Perempuan Bangkit (FPB) untuk bersama-sama mengatasi persoalan sampah.

Menurut dia, kelompok pemuda itu bukan hanya untuk membantu menangkan kontestasi Pilkada tetapi juga harus tetap bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Manggarai salah satunya masalah sampah.

Bank sampah ini juga sebagai solusi untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan nyaman bagi warga.

Salah satu anggota FPB, Ketrin Jerubu mengaku berencana untuk bentuk bank sampah di kota Ruteng guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Bank sampah kata dia merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen seperti perbankan namun yang ditabung bukan uang melainkan sampah.

Sampah yang ditabung akan ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang yang nantinya akan dijual ke tempat yang bisa daur ulang sampah.

Bank sampah jelas dia sebagai salah satu strategi untuk membangun kepedulian masyarakat tentang kebersihan lingkungan, juga untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Salah satunya kemasan plastik yang akan dijual untuk dijadikan barang-barang kerajinan.

Menurut dia, sasaran utamanya tetap kebersihan lingkungan dan ketersediaan lapangan pekerjaan untuk anak muda, karena bukan tidak mungkin kalau manajemennya berjalan maka akan banyak melibatkan anak muda di dalamnya. Anak muda akan mengorganisir sampah dari TPS.

"Bank sampah ini juga sebagai solusi untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan nyaman bagi warga, dengan cara ini selain untuk kedisiplinan masyarakat juga untuk menambah penghasilan dari sampah yang dikumpulkan. Manajemennya kami sudah siapkan," katanya kepada Tagar. []

Berita terkait
PMKRI Ruteng Minta Penyelenggara Pilkada Manggarai Netral
PMKRI cabeng Ruteng NTT meminta penyelenggara KPUD maupun Bawaslu untuk netral pada Pilkada Desember 2020 mendatang.
Tanggapan Fraksi Golkar Manggarai Terkait Pinjam Uang Miliaran
Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Manggarai mendukung Pemda terkait peminjaman uang untuk bangun infrastruktur.
Final, Ini Jumlah DPT Pilkada Manggarai 2020
KPU Manggarai NTT tetapkan DPT untuk Pilkada Desember 2020 mendatang. Berikut rincian DPT tiap kecamatan di Kabupaten Manggarai
0
Ini 11 Korban Meninggal Akibat Tanah Longsor di Sumsel
Tanah longsor di Desa Tanjung Lalang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, mengakibatkan 11 orang meninggal dunia.