Harap Ada Musyawarah, Norman: Keraton Surakarta Panutan Kami

Pemerhati Kearifan Budaya Adiluhung, KP Norman Hadinegoro meminta perhatian dari negara untuk melindungi cagar budaya Keraton Surakarta.
Ketua Umum Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa), KP Norman Hadinegoro. (Foto: Dokumen Norman)

Jakarta - Pemerhati Kearifan Budaya Adiluhung, KP Norman Hadinegoro meminta perhatian dari negara untuk melindungi cagar budaya Keraton Surakarta.

Norman mengatakan, pihaknya selalu mendoakan Pakoe Boewono XIII agar tetap rukun. Maka dari itu, melalui catatan yang disampaikannya, dia berharap konflik di kalangan keluarga keraton bisa dihentikan.

Kami mendoakan siang dan malam agar Keraton Surakarta bercahaya menyinari Nusantara kebanggaan Tanah Jawa, kebanggaan Kota Solo

Norman bilang, Keraton Surakarta adalah panutan bagi mereka. Sebab, kata dia, keraton banyak mengajarkan tentang suatu hal yang baik.

"Keraton mengajarkan keluhuran budi pekerti, kami belajar sejarah leluhur Tanah Jawa. Begitu juga dengan kearifan budaya Adiluhung, mulai dari batik, gending, busana, wayang, tari dan filosofi kehidupan sebagai bekal anak cucu kami," kata Norman kepada Tagar, Kamis, 25 Februari 2021.

"Kami mendoakan siang dan malam agar Keraton Surakarta bercahaya menyinari Nusantara kebanggaan Tanah Jawa, kebanggaan Kota Solo," ujarnya menambahkan.

Dia menjelaskan, Keraton Surakarta sebagai cagar budaya memiliki sejarah panjang sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri.

"Sejarah perjuangan Nusantara sebagai kerajaan besar Keraton Surakarta dengan tulus menyatakan bergabung dalam NKRI dengan mengorbankan kekuasaan wilayah Kesunanan yang ikut aktif sampai mengantarkan Kemerdekaan RI menjadi Negara NKRI," tuturnya.

Lebih lanjut, Norman menambahkan, dalam sejarah kemerdekaan NKRI, Keraton Surakarta terukir dalam Undang-Undang Dasar 1945.

"Kemudian diberikan DIS (Daerah Istimewa Surakarta) dan Daerah Istimewa Kesultanan Yogyakarta," kata dia.

Dalam hal ini, dia menegaskan, negara memiliki kewajiban untuk menjaga dan membiayai aktivitas kearifan budaya leluhur.

"Negara berkewajiban melindungi, mengayomi, membiayai aktivitas kearifan budaya leluhur, Budaya Adiluhung. Karena Keraton Surakarta tidak akan mampu membiayai sendiri," terangnya.

Selain itu, dia juga mengharapkan adanya musyawarah dari keluarga Pakoe Boewono menyoal pada perseteruan Keraton Surakarta.

"Kali ini diharapkan semua Putra-Putri Pakoe Boewono membuka diri dengan setulus-tulusnya, bermusyawarah dengan semangat kekeluargaan yang di fasilitasi oleh Negara Republik Indonesia. Semoga Keraton Surakarta bersinar lagi sebagai kebanggaan Nasional," ucap Norman.[]

Berita terkait
PTUN Putuskan Gugatan ke BPN dan Keraton Yogya Tak Diterima
PTUN Yogyakrta memutuskan gugatan seorang warga terhadap BPN dan Panitikismo Keraton Yogyakarta perihal pertanahan tidak dapat diterima.
Menjadi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta Bekerja Tanpa Imbalan
KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta menegaskan penerimaan abdi dalem bukan lowongan pekerjaan dengan imbalan, tapi komitmen pengabdian.
Abdi Dalem Keraton Yogyakarta Pelestari Seni dan Budaya
Seorang abdi dalem Keratoon Yogyakarta, KRT Purwodiningrat mengalihaksarakan naskah kuno keraton agar bisa dipelajari khalayak umum.
0
Pengamat: Laksamana Yudo Margono Layak jadi Panglima TNI
Pengamat Intelejen Pertahanan dan Keamanan Ngasiman Djoyonegoro mengatakan Yudo Margono layak menjadi Panglima TNI gantikan Hadi Tjahjanto.