UNTUK INDONESIA
Gus Sholah, Pembaru Pesantren Tebuireng
KH. Salahuddin Wahid merupakan cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari. Selain agamawan, ia juga seorang aktivis serta politikus.
Kyai besar Nahdlatul Ulama (NU) Salahuddin Wahid (Gus Solah). (Foto: nu.or.id)

Jakarta - Dr. (H.C.) Ir. KH. Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Sholah. Gus, panggilan untuk anak kiai yang berarti mas, kakak, atau abang. Gus Sholah lahir di Jombang, 11 September 1942 dari pasangan KH. Wahid Hasyim dengan Ny. Sholehah. Gus Sholah merupakan adik kandung Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ayahnya adalah putra dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy'ari.

Kendati dilahirkan dari lingkungan pesantren, Gus Sholah adalah seorang ulama, yang juga politikus, serta aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Dia juga pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi 1998.

Karier politiknya berada di puncak ketika mencalonkan diri sebagai wakil presiden bersama calon presiden Wiranto pada pemilu presiden 2004. Namun, dia harus puas pada putaran pertama karena perolehan suara yang ada di urutan ketiga.

Pada tahun 1947 Gus Solah pindah ke Tebuireng, menyusul wafatnya Hadratus Syekh Kiai Hasyim Asy’ari yang kemudian pengasuh pesantren digantikan oleh ayahnya, KH. Wahid Hasyim. Namun pada awal tahun 1950, dia pindah ke Jakarta ikut ayahnya yang diangkat menjadi Menteri Agama.

Rekam Jejak Pendidikan

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) di mana para gurunya banyak yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Lingkungan inilah yang menjadikannya pribadi yang toleran terhadap perbedaan. Namun saat kelas 4, dia pindah sekolah ke SD Perwari depan kampus Universitas Indonesia Salemba. 

Gus Sholah kemudian melanjutkan studinya di SMP Negeri I Cikini antara tahun 1955-1958. Seusai tamat, dia masuk di SMA Negeri I Jakarta dan sempat menjadi Ketua OSIS serta aktif di Kepanduan Ansor NU.

Pada 1962, Salahuddin mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur. Saat di bangku kuliah ini, dia aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan di Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Sementara untuk organisasi ekstra kampus, dia bergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Salahuddin menimba ilmu agama langsung di bawah asuhan sang ayah KH. Wahid Hasyim. Namun ketika sang ayah wafat akibat kecelakaan pada 19 April 1953 di Cimahi, kegiatan belajar ngajinya diampu sang ibu Ny. Sholehah. Meski begitu, sang kakek KH. Bisri Syansuri juga sering ke Jakarta untuk mendidiknya.

Tidak hanya belajar Alquran, Salahuddin juga belajar fikih, nahwu, sorof, dan tarikh. Gurunya antara lain Ustaz Muhammad Fauzi dan Ustaz Abdul Ghoffar, keduanya merupakan alumni Pesantren Tebuireng yang tinggal di Jakarta.

Selama remaja, Salahuddin tidak pernah bermukim di pesantren untuk waktu yang lama, namun setiap liburan Ramadan dia selalu mengikuti pesantren Ramadan di Pesantren Denanyar Jombang bersama adiknya, Umar Wahid. Menginjak usia dewasa, cara yang ditempuhnya untuk belajar adalah dengan membaca sendiri buku-buku keagamaan.

KH Salahuddin Wahid atau Gus SolahKH Salahuddin Wahid atau Gus Solah bersama istri Ny. Farida. (Foto: Instagram/@tebuireng.online)

Pada 1968, pemuda Salahuddin menikah dengan Farida, putri mantan Menteri Agama, KH. Syaifudin Zuhri. Pernikahannya ini tidak ada unsur kesengajaan, yang mana Salahuddin mengenal calon istrinya sebelum mengenal calon mertuanya.

Salahuddin menikah saat masih menempuh studi di ITB. Hal tersebut menjadikannya berhenti agak lama dan kemudian aktif kembali pada 1977 dan baru selesai pada 1979. Dari pernikahan ini, Salahuddin dan Farida dikaruniai tiga orang anak, yaitu Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid), Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Perjalanan Karier

Gus Sholah merintis karier sejak masih kuliah, pada 1970 dia mendirikan perusahaan kontraktor bersama dua orang kawan dan kakak iparnya, Hamid Baidawi. Namun sayang, perusahaan ini hanya bertahan hingga 1977. 

Salahuddin juga bergabung Biro Konsultan PT MIRAZH, menjadi Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997), Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996), dan masih banyak yang lain. 

Artinya, pada kurun waktu 1970 hingga 1997, sebagian besar aktivitasnya ada di bidang arsitektur dan konstruksi. Pada 1998, Gus Sholah meninggalkan kegiatannya di bidang ini. Ia mulai memanfaatkan waktunya untuk membaca buku sekaligus mulai menulis. Sejak 1993, ia menjadi pemimpin redaksi majalah Konsultan. Setalah itu aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya, dan lain sebagainya.

Tulisan Gus Sholah menyoroti isu umat dan bangsa, bahkan pemikirannya kerap berseberangan dengan sang kakak, Gus Dur. Di antaranya tentang hubungan agama dan negara yang dimuat di harian Media Indonesia.

Terjun ke Politik

Berseberangan pemikiran dengan Gus Dur terus berlanjut hingga ia bergabung ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang sering dikritik Gus Dur. Bahkan dia terpilih menjadi Anggota Dewan Penasihat ICMI 1995 hingga 2005. Kemudian pada 2000, terpilih menjadi Ketua MPP ICMI periode 2000-2005. Keanggotaannya di ICMI membuat Gus Solah semakin dekat dengan dunia politik.

Pada 1998 Gus Sholah ditawari menjadi Sekjen PPP dengan calon Ketua Umum, Amien Rais. Akan tetapi rencana itu gagal karena Amien Rais menolak dan memilih mendirikan partai sendiri, Partai Amanat Nasional (PAN). Setelah itu Gus Sholah bergabung dengan Partai Kebangkitan Umat (PKU) yang didirikan oleh KH Yusuf Hasyim, dan menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat serta Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU.

Pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Sholah maju sebagai kandidat Ketua Umum PBNU namun kalah dengan KH Hasyim Muzadi

Gus SolahSalahuddin Wahid atau Gus Solah (kanan) ketika di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur pada 29 Desember 2018. (Foto: dok Tagar)

Gus Sholah menjadi anggota Komnas HAM pada 2001 ketika didaftarkan oleh adik iparnya, Lukman Hakim Syaifudin. Gus Solah tidak mempunyai kesiapan dan matang namun dia lolos dalam uji kelayakan (fit and proper test), sehingga terpilih sebagai salah satu dari 23 anggota Komnas HAM periode 2002-2007. Pada saat yang sama, Gus Sholah terpilih sebagai Wakil Ketua II Komnas HAM.

Kiprahnya di Komnas HAM adalah ketika dia memimpin TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) untuk menyelidiki kasus Kerusuhan Mei 1998 (Januari-September 2003), kemudian Ketua Tim Penyelidik Ad hoc Pelanggaran HAM Berat kasus Mei 1998, Ketua Tim Penyelidikan Kasus Pulau Buru, dan lain sebagainya. 

Pada 2004, dia dipilih sebagai pendamping Wiranto untuk mengikuti pilpres dari Partai Golkar. Tepat pada 11 Mei 2004 mereka mendeklarasikan diri di Gedung Bidakara, Jakarta. 

Mengasuh Tebuireng

Pada Februari 2006, Yusuf Hasyim atau biasa dipanggil Pak Ud menelepon Gus Sholah dan menyampaikan niatnya untuk mundur dari posisi sebagai pengasuh Tebuireng. Pak Ud meminta Gus Solah menggantikannya. 

KH. Salahuddin WahidKH. Salahuddin Wahid saat menyalami santri putra. (Foto: Instagram/@tebuireng.online)

12 April 2006, Gus Sholah bertemu Pak Ud dan keluarga besar Tebuireng serta para alumni senior, untuk mematangkan rencana pengunduran diri Pak Ud dan naiknya Gus Sholah sebagai pengasuh Tebuireng. Keesokan harinya, pergantian pengasuh diresmikan bersamaan acara Tahlil Akbar Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan Temu Alumni Nasional Pondok Pesantren Tebuireng yang dilangsungkan di halaman pondok.

Saat menjadi pengasuh, Gus Sholah melakukan ”diagnosa” atau mendeteksi ”penyakit” yang sedang menimpa Tebuireng. Hingga akhir 2007 Gus Solah mengadakan rapat dengan unit-unit yang ada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Dia meminta laporan tentang kendala yang dihadapi, di samping meminta masukan dan kritik dari mereka. 

Gus Sholah menerapkan kebijakan untuk menggugah kesadaran para guru, Pembina santri, dan karyawan Tebuireng, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kinerja berdasar keikhlasan dan kerja sama. Tidak tanggung-tanggung, ia mengadakan pelatihan kepada para guru dengan mendatangkan langsung Konsorsium Pendidikan Islam (KPI), yang juga membantu para kepala sekolah untuk menyusun SOP, Standard Operating Procedure bagi kegiatan belajar mengajar (KBM).

Puncaknya pada awal 2007, Tebuireng menerapkan sistem full day school untuk semua unit pendidikan. Para pembina dibekali latihan khusus, baik latihan kedisiplinan dan psikologi, sehingga dapat menjalankan tugas dengan baik.

Tidak hanya itu, seorang pustakawan didatangkan untuk mengelola perpustakaan secara sistematis dan terarah. Pada saat yang sama, Madrasah Mu’allimin dan Ma’had Aly didirikan, serta kegiatan pengajian dilakukan secara klasikal melalui Madrasah Diniyah dan kelas Takhassus.

Ia juga masih berkegiatan di luar dengan menjadi anggota Forum Pemantauan Pemberantasan Korupsi (2004), Barisan Rakyat Sejahtera (Barasetra), Forum Indonesia Satu (FIS), Kajian Masalah Kepahlawanan yang dibentuk oleh IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia).

Salahuddin meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, pada Minggu, 2 Februari 2020, pukul 20:55 WIB, setelah sebelumnya mengalami masa kritis usai menjalani bedah jantung.

Karya yang Telah Dibukukan

  • Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001)
  • Mendengar Suara Rakyat (September 2001)
  • Menggagas Peran Politik NU (2002) 
  • Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003)
  • Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004)

Karier

  • 1957-1961 Kepanduan Ansor
  • 1961-1962 Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Jakarta
  • 1963-1964 Anggota pengurus Senat Mahasiswa Arsitektur ITB
  • 1967 Bendahara Dewan Mahasiswa ITB
  • 1964-1966 Komisariat PMII ITB
  • 1964-1966 Wakil Ketua PMII Cabang Bandung
  • 1966-1967 Dewan Pengurus Pendaki Gunung Wanadri
  • Direktur Utama Perusahaan Kontraktor (1969-1977)
  • 1973 Anggota Ikatan Arsitek Indonesia
  • Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997)
  • Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996)
  • 1988-2020 Anggota Persatuan Insinyur Indonesia.
  • 1982-1994 Pendiri, Ketua, Anggota Badan Pengurus Yayasan Baitussalam
  • 1985, 1999 Pendiri, Sekretaris Yayasan Wahid Hasyim
  • 1989-1990 Ketua DPD DKI Indkindo (Ikatan Konsultan Indonesia)
  • 1991-1994 Sekretaris Jenderal DPP Inkindo
  • 1993-1994 Pemimpin Redaksi Majalah Konsultan
  • 1993 Anggota Pengurus IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia)
  • 1994-1998 Ketua Departemen Konsultan Manajemen Kadin
  • 1995 Mendirikan Ikatan Konsultan Manajemen Indonesia
  • Anggota MPR (1998-1999)
  • 2000- Ketua Badan Pendiri Yayasan Forum Indonesia Satu.
  • Wakil Ketua Komnas HAM (2002-2007)
  • 2002-2005 Anggota Dewan Pembina YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia
  • 1999-2004 Ketua PBNU
  • 2000-2005 Ketua MPP ICMI
  • 1995-2005 Anggota Dewan Penasihat ICMI
  • 1998-1999 Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat
  • 1998-1999 Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU
  • 2002-2005 Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
  • Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, 2006-2020. []

Baca juga

Berita terkait
Gus Sholah Wafat, DMI: Kita Kehilangan Ulama Besar
Waketum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Syafruddin turut berbela sungkawa atas meninggalnya KH. Salahuddin Wahid. atau akrab dipanggil Gus Sholah.
Hasto Sampaikan Pesan Megawati Soal Gus Sholah
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyampaikan pesan belasungkawa dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri atas meninggalnya adik Gus Dur, Gus Sholah.
Wasiat Gus Sholah, Dimakamkan di Samping Saudaranya
Berdasarkan permintaan dari keluarga, Gus Sholah dimakamkan disamping saudaranya atau sebelah utara makam ayahandanya, KH Wahid Hasyim.
0
Wanita asal Simalungun Tewas di Sungai Asahan
Seorang wanita asal Kabupaten Simalungun, ditemukan tak bernyawa di aliran Sungai Silau, Kabupaten Asahan.