UNTUK INDONESIA
Gas Beracun Teror Warga Tapanuli Utara
Puluhan warga tani di Kabupaten Tapanuli Utara, resah dan khawatir akibat munculnya gas beracun di lahan pertanian mereka.
Lahan warga terkena semburan air mengandung gas beracun H2S diberi tanda garis polisi, Sabtu 22 Februari 2020. (Foto: Tagar/Jumpa P Manullang)

Taput - Sebanyak 70 kepala keluarga di Desa Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, hidup dalam keresahan. Desa yang mereka huni diduga terdampak gas beracun hidrogen sulfida (H2S) atau asam sulfida.

Sebagian besar lahan sawah dan kebun kemenyan milik warga di desa yang terletak persis di kaki gunung Dolok Martimbang itu tampak gersang. 

Menurut warga, semburan air dari perut bumi muncul dan bergerak berpindah-pindah di lahan pertanian yang tengah mereka garap. 

Tagar pun mencoba ke sana melihat langsung kondisi yang dialami warga. Untuk bisa ke lokasi persawahan milik warga, terlebih dulu harus menembus hutan kemenyan di Dusun Lumbantobing, Desa Banuaji IV.

Ke sana harus dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, di hutan kemenyan terlihat beberapa pondok kecil milik para pemilik kebun. 

Saat sore menjelang, angin sepoi-sepoi berembus di bawah rindangnya pohon kemenyan, terasa dingin di kulit dan menghilangkan rasa lelah setelah menapaki jalan terjal sepanjang dua kilometer.

Tepat pukul 17.00 WIB, berjarak 50 meter dari atas bukit yang ditumbuhi pohon kemenyan, terlihat hamparan sawah milik warga yang telah menguning dan kerontang. 

Secara jujur sangat prihatin melihat warga kita yang sampai saat ini sudah dua kali mengalami gagal panen

Terlihat juga pondok beratap seng keropos dikerumuni lalang menguning. Pondok tersebut menjadi saksi bisu telantarnya lahan penghasil buliran padi di desa itu dua tahun terakhir. 

Saat tiba di atas bukit, benar seperti disampaikan warga sebelumnya, akan tercium aroma bau menyengat mirip telur busuk. Aroma gas beracun yang menguar dari lahan sawah warga.

Kepala Desa Banuaji IV Adiankoting Hisar Sihite, yang menemani perjalanan Tagar, Sabtu 22 Februari 2020, mengutarakan sekilas kronologi semburan air yang diperkirakan mengandung asam sulfida.

"Saat menuai hasil panen, kebetulan secara tiba-tiba ada warga kita yang meninggal dunia di sana," kata Hisar, menunjuk areal persawahan sekitar 500 meter dari atas bukit.

Hisar SihiteHisar Sihite, Kepala Desa Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, di lokasi semburan air mengandung gas beracun hidrogen sulfida, Sabtu 22 Februari 2020. (Foto: Tagar/Jumpa P Manullang)

Sontak saja kabar itu dengan cepat sampai ke desa dan telinga warga. Seorang petani meninggal dengan cara yang tidak wajar. Warga pun beramai-ramai mendatangi lokasi dan membawa pulang jenazah, menggotongnya di atas tandu menembus jalan terjal.

"Sanak keluarga korban saat kejadian kita hubungi lewat telepon seluler. Dari rantau mereka meminta jenazah agar dimakamkan secara adat, tanpa ada kecurigaan apa penyebab kematian," katanya.

Hisar tentu tak mau begitu saja menerima kondisi itu, ada warga meninggal mendadak di kawasan persawahan. Lebih jauh, dalam dua tahun terakhir terjadi gagal panen di daerah mereka. Tentang penyebabnya, dia pun berharap menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Utara.

"Secara jujur sangat prihatin melihat warga kita yang sampai saat ini sudah dua kali mengalami gagal panen. Tinggal lagi pemerintah tidak berani membuat kepastian apakah daerah ini mengandung gas beracun. Kita tetap menunggu hasil penelitian untuk sementara, supaya warga tetap bersabar," katanya.

Disinggung bahwa kematian mendadak seorang petani dan gagal panen terkait aktivitas eksplorasi energi panas bumi, yang menyebabkan munculnya gas beracun di Desa Banuaji, Hisar mengaku masih menunggu kajian pemerintah.

"Pemerintah kabupaten sudah mempertanyakan. Dalam hal ini apakah ada keterkaitan PT SOL dengan dugaan gas beracun di Desa Banuaji IV. Tetapi untuk sementara Pemkab Taput masih menunggu hasil penelitian dan uji laboratorium," kata Hisar.

Untuk saat ini, kata Hisar, pihaknya masih terus melakukan pendataan terhadap para pemilik lahan yang diduga terdampak gas beracun sesuai arahan Pemkab Tapanuli Utara.

Korban 

Ditemui di kediamannya, Jontar Sinaga, 43 tahun, anak kandung petani yang meninggal secara mendadak di areal persawahan, meminta penyebab kematian orangtuanya diungkap secepatnya.

Jontar saat ditemui mengenakan setelan jas hitam, tengah duduk di atas tikar berlantai semen. Pria berkumis tebal tersebut mengatakan bahwa desakan itu murni demi masa depan puluhan petani di Desa Banuaji IV.

Aksi demonstrasi ke kantor bupati baru-baru ini, diakuinya juga demi mencari kepastian bagi warga yang diselimuti keresahan. Tentang kepastian munculnya gas beracun di desa mereka.

"Memang sejak meninggal ayah saya, kami belum mendengar masalah (H2S) ini. Tetapi setelah ayah meninggal, banyak masyarakat pingsan di persawahan. Jadi kami masyarakat bertanya-tanya ini masalah apa," tutur Jontar.

Jauh sebelumnya di desa mereka, berbagai kejadian aneh tidak pernah terjadi, kematian mendadak seperti yang dialami ayahnya dan juga gagal panen yang berkepanjangan.

"Sejak nenek moyang kami, belum pernah kejadian seperti ini. Untuk itu, kami atas nama masyarakat meminta pemerintah segera turunkan ahli di bidang ini. Supaya masyarakat tidak lagi bertanya-tanya dan tidak ragu lagi turun bertani ke ladang," katanya.

Rugi Jutaan

Jamaden Purba, 55 tahun, warga tani di lokasi persawahan Nagurguran, Desa Banuaji, Kecamatan Adiankoting, mengungkap penemuan bangkai binatang pasca munculnya semburan air diduga mengandung asam sulfida.

Lahan di TaputLahan sawah warga puluhan hektare yang gagal panen di Nagurguran, Desa Banuaji, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu 22 Februari 2020. (Foto: Tagar /Jumpa P Manullang)

"Seperti bangkai binatang belalang, kodok, dan tikus yang kerap sebagai penghuni sawah. Bahkan warga lain pun menemukan bangkai monyet dan trenggiling," kata Jamaden.

Pria asal Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, itu mengaku sudah merugi puluhan juta rupiah akibat dua kali gagal panen di lahan sawah yang dia olah.

Maka perlu penelitian yang objektif, pernah kejadian di Pahae Juli tahun lalu

"Sudah merugi puluhan juta. Tiap tahun memanen padi 180 kaleng (2.560 Kg). Padahal hanya sawah itu yang kami kelola untuk kebutuhan pangan keluarga," ungkapnya.

Didemo Emak-emak

Senin, 17 Februari 2020 lalu, ratusan warga dari Desa Banuaji I, II, dan IV, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, bergabung dengan lembaga swadaya masyarakat Pencegahan Korupsi Anggaran Pemerintah Republik Indonesia (LSM PKAP RI) mendatangi kantor Bupati Tapanuli Utara di Tarutung.

Mereka menuntut pengusutan tuntas dugaan asam sulfida yang menjadi penyebab korban jiwa dan merusak tanaman pertanian. 

Dalam aksi itu, para emak-emak berkerumun di halaman kantor bupati, memegang poster bertuliskan 'Tutup PT SOL, Kami Tidak Ingin Menjadi Korban' dengan gambar jenazah tergeletak di areal persawahan.

Koordinator aksi Donfri Sihombing dalam orasi, menuntut Pemkab Tapanuli Utara menindaklanjuti surat LSM PKAP RI yang sudah dilayangkan pada 9 Desember 2019 ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Utara.

Donfri mengatakan, telah menemukan penyebaran polusi asam sulfida di areal persawahan warga Desa Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting. Akibat semburan gas tersebut, diduga telah memakan korban jiwa.

"Kami menduga penyebab kematian seorang petani Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting bernama Sabungan Sinaga, usia 67 tahun, pada 16 Mei 2019 adalah akibat polusi gas asam sulfida," kata Dolfri.

Donfri mengatakan, sesuai hasil investigasi pihaknya menemukan kerusakan lahan seluas 130 hektare. Bahkan sudah melebar ke tiga desa, yakni Desa Banuaji I, II dan IV.

"Yang kita takutkan ini adalah dampak kegiatan di PT SOL. Maka ini kita suarakan kepada bupati agar menghadirkan ahli dalam bidang ini," kata Donfri.

Menjawab tuntutan aksi warganya, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan dalam kawalan aparat kepolisian, membenarkan temuan gas beracun di lokasi areal pertanian warga Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting.

Tapanuli UtaraEmak-emak warga Desa Banuaji I, II, dan IV Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara yang bergabung dengan LSM PKAP RI dengan poster tutup PT SOL, Senin, 17 Februari 2020. (Foto: Tagar/Jumpa P Manullang).

"Kejadian ini tahun 2019, kami sudah surati Balai Teknis Kesehatan Lingkungan. Dan ditemukan di situ H2S yang melewati ambang batas," kata Nikson.

Dan untuk menuntaskan tuntutan masyarakat pendemo, Nikson berharap kerja sama dari semua pihak yang peduli untuk ambil andil mendorong Wahana Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM melakukan penelitian objektif.

"Kalau ada dugaan PT SOL, kami sudah minta lembaga independen agar melakukan penelitian secara objektif. Dan tanah warga yang gagal panen akan kita bantu dari dinas sosial. Nanti ada kajian, dan sesuai keterangan kepala desa bahwa timbulnya H2S baru tahun ini," kata Nikson.

Nikson menambahkan, peristiwa serupa pernah terjadi di areal PT SOL, tepatnya di Pahae Julu. "Maka perlu penelitian yang objektif, pernah kejadian di Pahae Juli tahun lalu. Gas H2S membuat lahan mereka kering. Jadi kita tunggu pendapat Walhi dan Kementerian ESDM," terangnya.

Bantahan SOL

Manajemen Sarulla Operation Limited (SOL) membantah tudingan melalui siaran pers pada Senin, 17 Februari 2020.

Disebutkan terkait unjuk rasa masyarakat Desa Banuaji, soal gelembung cairan panas atau fumarol di Desa Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting, manajemen SOL sudah melakukan koordinasi dengan Pemkab Tapanuli Utara dan Polres Tapanuli Utara.

Kepala Teknik Panas Bumi SOL Donny Tambunan, mengatakan fenomena keluarnya uap air dan gas seperti karbon dioksida, belerang dioksida, asam klorida, dan hidrogen sulfida ke permukaan, merupakan salah satu bentuk jenis-jenis manifestasi alam di dalam sesar besar Sumatera yang memiliki tektonik aktif.

Menurut Donny, Desa Banuaji berlokasi sekitar 10 kilometer ke arah Barat laut di atas hulu dari lokasi produksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla.

"Lokasinya cukup jauh dari wilayah operasional PLTP Sarulla dan Desa Banuaji juga tidak terkategori sebagai desa terdampak dalam analisis mengenai dampak lingkungan milik SOL. Sehingga dapat disimpulkan, apa yang terjadi di Desa Banuaji tidak terkait dengan kegiatan operasional SOL," kata Donny. []


Berita terkait
PT SOL Klarifikasi Semburan Gas Beracun di Taput
Sarulla Operation Limited (SOL) membantah menjadi penyebab semburan gas beracun di Desa Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara.
Warga Pahae Taput Demo Proyek BUMN Hutama Karya
Ratusan warga Tapanuli Utara unjuk rasa menuntut kerja sama kepada Hutama Karya, selaku penyedia jasa pembangunan bendung di daerah mereka.
Emak-emak di Tarutung Demo Kematian Akibat Gas H2S
Para emak-emak menduduki halaman kantor Bupati Tapanuli Utara, membawa poster bergambar jenazah yang diduga meninggal akibat gas H2S asam sulfit.
0
BPBD Magelang Teliti Penyebab Banjir Bandang
Pembersihan lumpur di lokasi banjir bandang di Magelang selesai. Berikutnyya meneliti penyebab munculnya banjir.