Jakarta - Nama Fauka Noor Farid menjadi perbincangan setelah disebut-sebut sebagai sutradara demonstrasi yang berakhir rusuh pada 22 Mei 2019. Ternyata itu bukan nama baru di belakang Prabowo. 

Dua puluh tahun yang lalu atau tepatnya tahun 1998, nama Fauka Noor Farid juga sempat diperbincangan atas keterlibatannya sebagai anggota Tim Mawar saat demo menuntut reformasi yang disertai penjarahan oleh massa. 

Generasi saat ini tentu belum paham tentang Tim Mawar, sebuah nama yang menjadi momok menakutkan di akhir Pemerintahan Presiden Suharto. 

Apa itu Tim Mawar?

Tim Mawar adalah sebuah tim kecil dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup IV, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Tim ini dibentuk oleh Mayor Bambang Kristiono pada Juli 1997. Sebagai pemimpin Tim Mawar dipilih Komandan Jenderal Kopassus sekaligus (saat itu) menantu Presiden Suharto, Mayor Jenderal Prabowo Subianto.

Targetnya adalah memburu dan menangkap para aktivis yang dianggap radikal. Target itu menjadi bumerang bagi Tim Mawar karena dianggap menjadi dalang dalam operasi penculikan para aktivis politik pro-demokrasi pada 1998.

Setelah operasi penculikan aktivis terbongkar, para personel Tim Mawar diseret ke pengadilan. Saat itu terdapat 11 anggota Tim Mawar yang diajukan ke Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) II pada bulan April 1999.

Lalu bagaimana nasib Fauka Noor Farid di Tim Mawar itu?

Saat di tim itu dibentuk, dia berpangkat sebagai Kapten (Inf). Menurut Lembaga Bantuan Hukum dan HAM KontraS, Fauka dianggap sebagai eksekutor lapangan. Dia dan timnya dituding bertanggungjawab atas hilangnya 23 aktivis pro demokrasi dan masyarakat yang dianggap akan bergerak melakukan penurunan mantan Presiden Soeharto.

Kejadian tersebut menyeret Tim Mawar pada hukuman penjara oleh Pengadilan Mahkamah Militer II Jakarta pada tahun 1999. Fauka Noor Farid mendapatkan vonis 1 tahun 4 bulan. 

Dari 23 aktivis itu, berdasarkan Laporan Hasil Penyelidikan Tim Ad Hoc Penyelidikan Peristiwa Penghilangan Paksa tahun 2006, Tim Mawar telah mengembalikan 9 orang aktivis. Sedangkan 13 orang dinyatakan hilang dan 1 orang meninggal dunia.

Namun tidak seperti anggota lainnya yang dihukum dan dipecat sebagai anggota TNI, Fauka tidak dipecat dari TNI.

Setelah dari TNI Gabung dengan Prabowo

Tampaknya Fauka Noor Farid adalah tipe orang yang setia pada atasannya. Buktinya, setelah pensiun dini dari TNI dengan pangkat Letnan Kolonel, dia langsung gabung ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Di Partai itu, Prabowo menjabat sebagai ketua umum.

Fauka pun selalu mendapat posisi penting di Gerindra. Awalnya, dia didapuk sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan. Lalu menjabat sebagai Ketua Bidang Pendayagunaan Aparatur Partai. Dan saat ini, Fauka menduduki posisi sebagai Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra di tahun 2019.

Dugaan Keterlibatan dengan Rusuh 22 Mei

Saat ini pihak kepolisian sedang melakukan pendalaman terhadap dugaan keterlibatan Fauka Noor Farid dengan aksi massa yang berakhir rusuh pada 22 Mei 2019. Polisi menyatakan telah memiliki bukti-bukti kuat yang mengarah kesana, salah satunya adalah keterangan Abdul Gani.

Abdul Gani yang mengaku sebagai Panglima Garda Prabowo telah ditahan di Polda Metro Jaya. Dia diduga terlibat kerusuhan di sekitar Bawaslu RI.

Bukti yang lain adalah adanya dugaan bahwa Fauka berada di sekitar lokasi kerusuhan.

Fauka Membantah

Di sisi lain, Pria yang pernyataannya selalu kritis terhadap KPU itu membantah bukti-bukti tersebut. Fauka menganggap polisi bertindak tergesa-gesa dengan menangkapnya, dan baru dicari pasal atau kesalahannya nanti. Masa lalunya sebagai anggota Tim Mawar membuat posisinya rentan dipermasalahkan.

Fauka Noor Farid menyebut baru kenal Abdul Gani satu bulan, saat mengajukan diri bergabung di Garda Prabowo. Namun permintaannya belum disetujui, karena menjadi anggota Garda tidak bisa sembarangan.

Mengenai dugaan kalau Fauka juga berada di sekitar lokasi kerusuhan, dia menjawab kalau sedang ada janji bertemu dengan temannya yang menjadi anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Saat dikonfirmasi, Komandan Paspampres yang juga satu angkatan dengan Fauka, Mayor Jenderal Maruli Simanjuntak, mengatakan pada hari itu dia tidak bertemu dengan anggota Tim Sukses Prabowo tahun 2014 dan 2019 itu. Maruli menyatakan, sejak siang dia mendampingi Presiden. []

Baca juga: