Indonesia
Eko Kuntadhi: Apakah Anies Baswedan Seorang Rasis?
Kemampuan Anies Baswedan yang menonjol adalah eksploitasinya pada isu-isu rasial untuk kepentingan politik. Tulisan opini Eko Kuntadhi.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berdiri di depan instalasi Bambu Getah Getih senilai Rp 550 juta. (Foto: Instagram/Anies Baswedam)

Oleh: Eko Kuntadhi*

Satu di antara kemampuan Anies Baswedan yang menonjol adalah eksploitasinya pada isu-isu rasial untuk kepentingan politik. Pidato pertamanya setelah dilantik menyebut kata pribumi. Secara keseluruhan pidato itu gak salah. Hanya saja orang tahu, sejarah naiknya Anies ke kursi Gubernur salah satunya dengan mempertentangkan makna kata pribumi dengan warga keturunan. Lawan Anies saat itu adalah Basuki Tjahaja Purnama, seorang politikus berdarah Tionghoa.

Maka orang menebak arah penggunaan kata pribumi dalam pidato Anies. Seperti mengingatkan orang pada istilah pribumi dan non-pribumi. Biasanya warga keturunan Tionghoalah yang dituding sebagai nonpribumi. Sedangkan Anies, lelaki berdarah Arab, tidak dikategorikan nonpribumi.

Kini, ia membawa lagi isu soal China. Awalnya adalah ejekan publik ketika Pemda DKI membongkar patung bambu seharga Rp 550 juta di Jalan Thamrin. Patung itu adalah inisiasi Anies Baswedan.

Sejak awal memang sudah menjadi tertawaan warga. Selain bentuknya mirip dua makhluk sedang berpelukan mesra (agak seronok), juga karena letaknya tepat di tengah kota yang agak aneh. Patung Bambu itu berdiri di antara gedung megah dan air mancur Hotel Indonesia.

Keberadaanya seperti 'anak pungut' di antara belantara beton. Dan kita tahu, yang namanya bambu dipajang di ruang terbuka, pasti cepat lapuk.

Belum setahun patung itu berdiri, kondisinya sudah gak enak dipandang mata. Maka Dinas Kehutanan Pemda DKI merubuhkannya. Patung seharga Rp 550 juta itu kini tinggal sampah bambu saja.

Warga tertawa. Warga meringis karena uang sebesar itu hanya untuk ornamen yang usianya gak lebih dari setahun. Wajar. Wong dibuat dari bambu.

Tapi bukan Anies kalau tidak bisa bergoyang lidah. Ia membela diri. Celakanya pembelaannya malah menarik-narik isu yang sama sekali gak relevan.

"Kalau saya memilih besi, maka itu impor dari Tiongkok mungkin besinya. Uangnya justru tidak ke rakyat kecil. Tapi kalau ini, justru Rp 550 juta itu diterima siapa? Petani bambu, perajin bambu," kata Anies.

Entahlah. Setiap tindakan Anies melulu nuansanya sangat politis. Mungkin dengan begitu ia ingin mengikat pendukungnya tetap dalam persepsi pertentangan pribumi dan nonpribumi. Bambu lokal versus besi China.

Seolah ia ingin mempertentangkan isu soal Tiongkok dalam perdebatan mubazirnya patung bambu. Padahal kalau bicara produksi besi, Indonesia juga punya Krakatau Steel. Gak mesti impor dari luar. Apalagi dia menyebut spesifik impor dari Tiongkok.

Dengan membawa isu impor dari Tiongkok, ia seperti masuk dalam kubangan lain. Anies hendak memgipas isu 'Indonesia dikuasai Tiongkok' dalam pembelaannya. Ia menggeser isu mubazirnya patung bambu, lalu membenturkan dengan isu baru yang sama sekali gak ada hubungannya. Buat apa ia membawa-bawa kalimat 'besi impor dari Tiongkok?'

Lalu membenturkannya dengan ekonomi rakyat? Bahwa bambu adalah hasil keringat rakyat. Makanya dia memilih. Ketimbang memilih besi yang impor dari Tiongkok.

Pembelaan Anies itu seperti menyiram bensin di atas hoax mengenai penguasaan ekonomi Indonesia oleh Tiongkok. Ia seperti berteriak meminta tolong pada publik pendukungnya yang sejak dulu kenyang dijejali kebencian rasial.

Sama seperti ketika dia menggunakan kata pribumi pada awal masa jabatannya.

Anies sedang melestarikan isu pribumi dan non-pribumi. Anies terus menajamkan salah sangka soal investasi China. Ia memang membela diri, bukan dengan membuat adem suasana. Justru dengan makin mengobarkan pertentangan.

Sebetulnya gampang saja. Ia bisa memasang instalasi seni di tengah kota. Untuk mempercantik kota. Tinggal pilih bahannya. Toh, dulu Soekarno membuat patung selamat datang. Sampai sekarang masih berdiri kokoh. Atau patung pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Bahannya batu. Usianya jauh lebih panjang.

Jika alasan soal resources lokal, toh Indonesia ini kaya dengan batu dan perunggu. Usianya juga lebih panjang. Justru dengan membuat instalasi dari bahan yang lebih tahan lama, Anies bisa meninggalkan legacy. Seperti patung-patung yang diinisiasi Soekarno. Sebab gak cepat dibongkar Dinas Kehutanan.

Tapi itulah Anies. Ia bermulut tajam. Bahkan untuk membela diri dari serangan publik yang menuding patung bambu Rp 550 juta itu mubazir, ia rela mengembuskan isu yang sama sekali gak ada hubungannya. Kebencian pada sesuatu yang berbau Tiongkok. Berbau China.

Entahlah. Setiap tindakan Anies melulu nuansanya sangat politis. Mungkin dengan begitu ia ingin mengikat pendukungnya tetap dalam persepsi pertentangan pribumi dan nonpribumi. Bambu lokal versus besi China.

Anies memang pandai membungkus kata. Tapi kita merasakan ada nuansa 'rasis' di sana.

Memuakkan memang.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Baca juga:

Berita terkait
0
Ustaz Abdul Somad Batal Isi Ceramah di Pematangsiantar
Ustad Abdul Somad batal mengisi tausiah di Kota Pematangsiantar. Rencananya, UAS akan hadir di Masjid Raya, Minggu 25 Agustus 2019.