UNTUK INDONESIA
Dokter Tirta, Pejuang Corona Bergaya Funky Curi Perhatian
Dokter Tirta satu di antara relawan Covid-19. Dia sempat tumbang karena ikut membantu menangani pasien coronavirus, tapi sekarang sudah sehat.
Dokter Tirta. (Foto: Instagram/dr.tirta)

Jakarta - Salah satu yang mencuri perhatian publik Indonesia di media sosial belakangan ini adalah dr Tirta. Dia dengan lantang menyuarakan aksi-aksi kemanusiaan di tengah riuhnya pembicaraan tentang coronavirus Covid-19.

Tentu saja pandemik virus corona Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, terus menimbulkan jumlah korban yang semakin hari terus mengalami peningkatan. Hal tersebut mengetuk sebagian orang turun aktif dalam menanggulangi pandemi ini.

Pernah Sakit TBC

Dilansir dari akun Twitter pribadinya, @tirta_hudhi, Minggu, 29 Maret 2020, pria bernama lengkap Tirta Mandira Hudhi merupakan seorang dokter yang saat ini berada di lini terdepan dalam memerangi kasus Covid-19 di Tanah Air.

Sosok yang terkesan urakan dengan tampilan seperti anak punk ini memutuskan untuk membantu penanganan Covid-19 di Indonesia karena didasari pada latar belakang kehidupannya, di mana sejak berusia 8 tahun, dr Tirta sudah didiagnosis mengidap penyakit Tuberkulosis atau TBC.

"Penyebaran airbone disease. Gue, 8 tahun tertular TBC dari teman yang batuk di depan gue. Gue harus ikut program penyembuhan selama 6 bulan, dan ternyata gagal. Akhirnya ditambah masa penyembuhan 4 bulan lagi, dan akhirnya sembuh. Total 10 bulan penyembuhan," ujar dokter bergaya funky ini.

Dokter Tirtadr Tirta. (Foto: Instagram @dr.tirta)

Tirta juga menuturkan bahwa setelah dia dinyatakan sembuh dari TBC, dia harus menjalani sejumlah program medis karena paru-paru dalam tubuhnya digambarkan selalu terdapat 'flek'.

"Setelah penyembuhan, gue kena berbagai macam penyakit pernafasan, faringitis, laringitis, tonsilitis, bronkitis, dan sinusitis, dan ini terjadi sampai SMA (Sekolah Menengah Akhir)," ucapnya.

Menyandang gelar dokter, Tirta memiliki jenjang pendidikan yang terbilang gemilang. Pada saat mengenyam bangku pendidikan sekolah menengah, Tirta menjadi salah satu perwakilan kota Solo dalam ajang olimpiade matematika.

Prestasi Cumlaude

Setelah lulus dari SMA, Tirta melanjutkan pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di daerah Yogyakarta. Dia berhasil mengambil pendidikan Strata-1 (S1) di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Tirta menyebut keberhasilan masuk ke universitas tersebut merupakan bentuk pembuktian diri, bahwasannya siswa yang merupakan lulusan sekolah swasta mampu masuk ke perguruan tinggi negeri

Tidak hanya UGM, Tirta juga mengaku sempat diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang melalui jalur prestasi. Namun dia lebih menjatuhkan pilihan pada UGM, lantaran dia penasaran dengan Kota Yogyakarta. 

Selama menjalani pendidikan di Kota Pelajar tersebut, Tirta mengaku bahwa dia mengalami perkembangan pesat. Dia berhasil lulus dengan predikat "Cumlaude", dan atas pretasinya tersebut, Tirta mendapatkan tawaran beasiswa dari Prof Iwan Dwiprahasto, yang menjadi panutannya saat menimba ilmu kedokteran di UGM. 

Dokter Tirtadr Tirta. (Foto: Instagram @dr.tirta)

Beasiswa tersebut diberikan untuk Tirta dapat melakukan sebuah penelitian di Belanda. Namun dia justru menolak tawaran tersebut, pasalnya, sejak lulus kuliah dia mulai meramba dunia usaha dengan membuka jasa perawatan sepatu yang bernama @shoesandcare. Tidak hanya  itu, dia juga memutuskan untuk menyambi bekerja di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS UGM sebagai dokter IGD dan juga menjadi dokter jaga di Puskesmas Turi.

Namun tampaknya dalam menjalani pekerjaannya, kondisi tubuh Tirta terus mengalami penurunan. Dia mengaku mengalami satu sakit dalam sebulan. Dia pernah terbaring di rumah sakit karena sakit demam berdarah, tipus satu kali, hingga pada 2018, dia didiagnosis mengidap bronkitis kronis.

Karena kondisinya yang tidak memungkinkan, Tirta memilih untuk rehat menjadi dokter IGD demi menekuni usahanya di @shoesandcare. Hal itu dia lakukan lantaran sebagian besar anak buahnya merupakan anak jalanan. Sehingga, Tirta pun menyambi sebagai dokter edukasi yang berkedok pengusaha.

"Sedih memang. Tapi kalo gue memaksa praktik dan pengusaha, gue akan mati muda. Di sinilah ketika gue ngajar di FK UGM jadi dosen tamu, gue bertemu lagi dengan Prof Iwan. Dia bilang 'jadi dokter ga selalu berjuang di belakang jas praktek, bisa di kursi lain, di situ ide kamu akan berguna, tidak hanya buat pasien, tapi buat temenmu, tenaga medis, Tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri," kata dia.

Prof Iwan juga menasihati Tirta untuk menyisihkan hasil usahanya untuk menaikkan derajat tenaga medis, mengamankan pasien, dan membuat RS Tirta pun menyanggupi nasihat Prof Iwan. "Dan gue janji ketika RS gue jadi, gue mau pamer ke beliau," tuturnya.

Singkat cerita, Tirta mendengar kabar Prof Iwan terinfeksi virus corona. Dari situ dia mulai bergerak, tak ingin kerabatnya dan tenaga medis berguguran lantaran menangani Covid-19. Tirta pun membeli masker dan Alat Pelindung Diri (APD) secara pribadi untuk disumbangkan kepada tenaga medis di Indonesia yang menangani kasus Covid-19 ini.

Dokter Tirta
Dokter Tirta. (Foto: Instagram/dr.tirta)

"Gue akhirnya mengkoordinasi semua sumbangan influencer, membuat program untuk membantu mengurangi rate infeksi Covid-19 di Jakarta dan Indonesia. Gue ga dikasi biaya, gue pake duit gue sendiri, dan tiba-tiba kitabisa.com akhirnya memutuskan bantu gue," ucapnya.

Relawan Covid-19

Selain itu, Tirta mengungkap dia dan relawan turut diperbantukan Muhammad Atiatul Muqtadir atau biasa dipanggil dengan nama Fathur. Nama tersebut kerap muncul kala gelombang aksi demonstrasi mahasiswa terjadi dan memuncak pada September 2019. Fathur merupakan eks Presiden Mahasiswa UGM yang mengkritisi berbagai rancangan perundang-undangan yang dirumuskan DPR kala itu.

"Program gue dan relawan dibantu Fathur eks Presma UGM ada memasang 1000 disinfection chamber di Jakarta, memberikan APD bagi temen-temen medis, memberikan nutrisi bagi tenaga medis, mengedukasi PHBS (hidup bersih sehat) ke rakyat, dan memastikan amannya Social Distancing," kata Tirta.

Lalu tiba-tiba, dia mendengar kabar meninggalnya Prof Iwan. Saat itu, Tirta tengah diwawancarai salah satu stasiun radio. "Gue nangis ketika wawancara. Gue down. Mood gue berantakan saat itu. Karena beliaulah, yang membuat gue seperti ini," ujarnya.

Selanjutnya, Tirta pun memutuskan meneruskan perjuangan mendiang Prof Iwan. Tak kenal lelah, bahkan sampai sakit sekalipun, tekadnya telah bulat. "Negara ini butuh bantuan. Jika angka infeksi ga bisa ditekan, Indonesia bisa krisis corona sampai Juni. Ini bahaya. Satu-satunya cara adalah menekan angka infeksi. Di sinilah peran relawan," ucap Tirta.

Menurutnya, Covid-19 adalah penyakit yang 80 persen ringan dan 20 persen fatal. Namun, penyebarannya sangat mudah. Saking mudahnya penyebaran tersebut, jumlah pasien dengan rumah sakit pun menjadi tidak seimbang. 

"Gue akan lawan ini virus. Ini sumpah dokter. Pekara uang gue dah settle. Toko gue sudah puluhan. Bisnis gue banyak. Jika gue kenapa-kenapa, tugas gue di dunia pun udah selesai sejatinya," kata dr Tirta.

Dia melanjutkan, akan mewakafkan dirinya dalam menjaga mereka yang berada di garda depan IGD. Menurut dokter Tirta, pengikut di media sosial, harta, dan popularitas hanya sementara. []

Berita terkait
5.816 Orang Mendaftarkan Diri Jadi Relawan Covid-19
Sebanyak 5.816 orang mendaftarkan diri menjadi relawan Covid-19. Mereka terdiri dari berbagai kalangan dan latar belakang profesi, dan usia.
Kemungkinan Jabodetabek akan Lockdown
Pemerintah membuka kemungkinan diberlakukannya lockdown atau karantina total di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).
Fakta atau Hoaks Kunyah Daun Sirih Cegah Covid-19
Benarkah daun sirih dapat menangkal coronavirus (Covid-19) dengan cara dikunyah?
0
Bubarkan Salat Berjemaah di Parepare Berujung Polisi
Seorang camat di Kota Parepare Sulsel dilaporkan ke polisi karena berusaha membubarkan jemaah yang hendak salat Jumat berjemaah.