Ditjenbun Targetkan Desa Organik Bersertifikat Tahun 2021

Tahun ini desa organik yang sudah dibentuk Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) diarahkan untuk memperoleh sertifikat organik yang diakui.
Direktur Ditjenbun Ardi Praptono. (Foto: Tagar/Dok Ditjenbun)

Jakarta - Tahun ini desa organik yang sudah dibentuk Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) diarahkan untuk memperoleh sertifikat organik, dengan sertifikasi organik maka produk-produk desa organik diakui oleh masyarakat internasional dan memudahkan ekspor. 

“Tahun ini kita fokus pada kelompok tani yang sudah kita bina, tidak lagi menambah kelompok tani baru. Sertifikasi organik akan meningkatkan kelas kelompok tani ini dan menunjukkan bahwa pertanian organik sudah dilaksanakan. Pasar produk organik setiap tahun semakin bertambah dan keuntungannya harga premium,” kata Direktur Ditjenbun Ardi Praptono, Jumat, 11 Juni 2021. 

Sertifikasi organik dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi organik yang sudah terakreditasi. Bantuan Ditjenbun adalah pembiayaan proses sertifikasinya. 


Tahun ini kita fokus pada kelompok tani yang sudah kita bina, tidak lagi menambah kelompok tani baru sertifikasi organik akan meningkatkan kelas kelompok tani.


Ia yakin kelompok tani yang dibantu ini lolos sertifikasi organik karena dengan bimbingan Ditjenbun dan dinas perkebunan setempat mereka sudah menerapkan pertanian organik dengan benar.

Visi perkebunan adalah perkebunan yang berkelanjutan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan memelihara lingkungan termasuk memberikan input yang tidak merusak lingkungan. Produk perkebunan yang dikonsumsi dalam bentuk segar seperti kopi, teh, pala, lada, mete, permintaan organik cukup tinggi.

Kebijakan pengendalian ramah lingkungan adalah dengan menggunakan agen pengendali hayati, sekarang sedang bukan hanya diperkebunan tetapi pertanian secara umum adalah produk yang relatif tidak tercemar bahan kimia. 

Pada perkebunan ini dilakukan dengan menggalakkan produk-produk organik yang di bangun 150 desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan. 

Hal ini merupakan upaya membangun perkebunan berwawasan lingkungan termasuk memenuhi permintaan pasar terhadap produk perkebunan yang berkualitas, sehat untuk dikonsumsi. 

Setiap desa pertanian organik diberi input beru peternak, rumah kompos, alat pencacah dan pembuat kompos. Tujuanya agar input perkebunan terutama pupuk bersifat ramah lingkungan.

Hewan ternak ini kotorannya digunakan untuk pupuk sedang urine bisa jadi pestisida alami. Untuk mengendalikan penyakit maka petani diajari membuat pestisida nabati dari daun-daun tanaman disekitarnya juga agen pengendali hayati.

Secara terpisah, Prof Agus Wahyudi dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Balitbangtan), mengatakan berkebun organik biayanya lebih tinggi dari konvensional tetapi manfaatnya juga lebih banyak. 

Oleh sebab itu, dalam penjualannya lebih baik bermerek bukan curah, dengan kemasan sehingga ada jaminan, nilai tambah dan tanggung jawab produsen di kemasan itu. Harga bisa ditentukan oleh produsen.

Menjual dalam bentuk komoditas sangat mudah, panen kemudian keringkan, setelah memenuhi syarat lempar ke pasar dalam bentuk curah sebagai produk organik tanpa identitas. Harga ditentukan oleh pembeli dan produsen tidak berbuat apa-apa,

“Saya masih melihat  produk bersertifikat organik diekspor dalam bentuk curah. Di negara tujuan ekspor baru dikemas, diberi identitas sehingga nilai tambah ada pada pembeli,” katanya.

Pada konsumen rumah tangga, pasar produk organik adalah niche market yang bersedia membayar nilai tambah berupa produk yang sehat dan ramah lingkungan. 

Tidak setiap orang mampu menghargai ini dan bersedia membayar. Karena itu pasarnya adalah ibu-ibu berpendidikan tinggi dan keluarga mapan karena harganya 50-200 % lebih tinggi.

Pasar harus diperhatikan supaya produk organik di Indonesia semakin berkembang. Negara-negara yang produk organiknya berkembang dengan pesat adalah India, Meksiko, Etiopiadan dan Pilipina. 

Mereka mengincar pasar yang tumbuh 15 % tahun, Indonesia juga harus ikut lewat gerakan pertanian organik. []

Berita terkait
Promosi Pangan Lokal, Kementan Gelar MoU Petani dengan Perhotelan
Kementan menggelar MoU antara petani dengan perhotelan sebagai upaya promosi dan pemanfaatan pangan lokal dari komoditas petani Indonesia.
Karang Taruna Cibinong Berdayakan Masyarakat Petani
Dian Asmara, koordinator posko Karang Taruna Kecamatan Cibinong, Bogor, Jawa Barat, menceritakan bagaimana mereka memberdayakan masyarakat petani.
Menko PMK: Ekspor Produk Pertanian Angkat Martabat Petani
Menko PMK Muhadjir Effendy saat melepas ekspor pertanian menegaskan, semakin meningkatnya ekspor maka kesejahteraan petani semakin meningkat pula.
0
Sidang PBB Akan Pilih 5 Negara Anggota Dewan Keamanan
Negara-negara Albania, Brasil, Gabon, Ghana, dan Uni Emirat Arab mencalonkan diri tanpa hambatan untuk masa keanggotaan dua tahun