UNTUK INDONESIA
Derita Istri di Bantaeng Kehilangan Cinta Suami
Seorang ibu rumah tangga di Bantaeng, Sulawesi Selatan, digugat cerai karena sang suami memilih janda yang dikenalnya lewat aplikasi medsos.
Ilustrasi cerai. (Foto: Pixabay)

Bantaeng - Habis manis sepah dibuang. Ungkapan itu selaras dengan penderitaan yang kini ditanggung Maemunah, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel). Biduk rumah tangganya hancur setelah sang suami berselingkuh dengan seorang janda.

Lima tahun pacaran sama Aan, dulu motorku yang dipakai Aan kalau mau bekerja.

Padahal, Mae dan suaminya Aan telah dikaruniai tiga orang anak. Masih lugu dan kecil-kecil sekali. Putri pertama mereka masih berusia lima tahun, putri keduanya tiga tahun dan anak lelakinya baru satu tahun.

Perempuan 30 tahun ini mengaku lima tahun lamanya berpacaran dengan Aan sebelum keduanya mantap melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. "Lima tahun pacaran sama Aan, dulu motorku yang dipakai Aan kalau mau bekerja," katanya dengan mata sembab kepada Tagar, Minggu 1 Maret 2020.

Berurai air mata, Mae mengenang masa manis cinta yang pernah dijalaninya bersama sang suami Aan. Keduanya bahkan memulai biduk rumah tangga dari titik nol. Sampai akhirnya Aan menggapai puncak karir.

Saat ini, suaminya bekerja di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang di Makassar. Jabatan terakhirnya koordinator bidang pengiriman barang-barang berat. Berkat keringatnya, Aan berhasil membeli mobil untuk membahagiakan Mae dan anak-anak. Mereka pun menetap dan membeli rumah di Kabupaten Gowa.

Lebih dari tujuh tahun Mae dan Aan membangun bahtera rumah tangga. Pil pahit harus ditelannya karena perangai Aan. Mae berpikir, mungkinkah faktor usia yang membuat suaminya berpindah ke lain hati? Atau mungkin cinta tak lagi tumbuh di perasaan Aan sampai tega meninggalkan Mae dan tiga anaknya begitu saja demi seorang janda.

Hari ini, musnah sudah semua mimpi-mimpi yang pernah dibangun Mae menua bersama Aan. Dia harus sendirian berjuang menghidupi ketiga anaknya setelah ditinggalkan suami tercinta. Mae sendiri mengaku malu untuk kembali pulang membebani ibu dan saudara.

Petaka Gadget

Kehancuran rumah tangga Mae dan Aan bersumber dari gadget. Kala itu, cicilan kredit telepon pintar milik Aan baru saja lunas. Dia mulai "nakal" dengan memasang aplikasi chating dan dan cari jodoh di gawainya.

Saya tunggu dia datang minta maaf, bukan soal uang penjualan mobil yang ia bawa lari. Uang bisa dicari lagi, tapi ini soal perselingkuhan.

Semula, Mae mengira hal itu biasa-biasa saja. Dia tidak merasa curiga karena beranggapan itu hanya dunia maya. Dia pun tidak pernah menegur suami bahkan menyentuh gadget milik Aan karena alasan suaminya, gadget itu khusus untuk pekerjaan.

Lama-kelamaan, Aan mulai berubah. Sikapnya pun tidak lagi seromantis dulu. Namun Mae masih berprasangka baik, kalau-kalau suaminya memang sedang banyak fikiran dan lelah bekerja.

Desember 2019, Maemunah harus berangkat ke Bantaeng untuk menemani ayahnya yang sedang sakit. Kala itu, dia dan suaminya masih baik-baik saja. Dua pekan setelah itu, ayah Mae meninggal dunia.

Dalam situasi berkabung usai ditinggal mati oleh sang ayah, Mae harus menerima kenyataan pahit yang tidak pernah dibayangkan selama ini. Kabar mengejutkan itu datang dari Aan yang tiba-tiba melayangkan surat cerai kepada Mae.

Aan bersikukuh ingin cerai dan memilih seorang janda asal Lampung yang dikenalnya lewat aplikasi media sosial (medsos). Undangan mediasi dari Pengadilan Agama Bantaeng itu, juga diterima Mae di bulan Desember 2019 atau tak lama setelah ayahnya wafat.

"Saya tunggu dia datang minta maaf, bukan soal uang penjualan mobil yang ia bawa lari. Uang bisa dicari lagi, tapi ini soal perselingkuhan," kata Mae.

Ya, sebelumnya Mae mengaku terpaksa menjual mobil untuk merintis usaha. Malangnya, uang hasil penjualan satu unit mobil itu, sebagian raib dibawa Aan. Rumah tangga mereka pun kian goyah ulah pertikaian itu.

"Saya ke rumahnya Aan, di sana ada bapak mertua. Saya diterima baik-baik dan saya jelaskan kenapa hilang uang itu. Bapak mertua menanyakan kepada Aan kemana uang itu. Aan jawab sudah dipakainya," tuturnya.

Namun, saat dia berbincang dengan bapak mertua, tiba-tiba datang Ibunda Aan. Bukannya menengahi permasalahan, Mae justru diusir oleh ibu mertuanya sendiri.

Dicakar Mertua

Belum habis air mata meratapi pengkhiatan cinta sang suami, Mae juga mendapat perlakuan kasar dari orang yang semula dikenalnya baik selama ini. Peristiwa itu terjadi Senin, 10 Februari 2020.

Tiba-tiba diserang dari belakang oleh kedua mertua dan beberapa orang keluarga suami saya.

Kala itu, Mae menghadiri undangan mediasi untuk kedua kalinya dari Pengadilan Agama Bantaeng. Ibu tiga anak itu datang dengan harapan Aan dapat mengurungkan niat bercerai dan meninggalkan perempuan perusak cinta mereka.

Namun harapannya gagal. Mediasi kedua itu justru menuai petaka. Mae mendapat serangan brutal dari keluarga Aan. Dia dicakar ibu mertua yang sampai meninggalkan bekas luka dan berdarah di bagian pipi.

"Selepas mediasi saya keluar ruangan, tiba-tiba diserang dari belakang oleh kedua mertua dan beberapa orang keluarga suami saya," tuturnya.

Mae mengaku tidak tahu kenapa dirinya harus menerima kekerasan itu dari nenek dari anak-anaknya sendiri. Banyak pertanyaan menjalar di otak Mae. Bukankah benar suaminya yang berselingkuh? Bukankah suaminya yang menggugat cerai? Bukankah ia hanya berusaha bertahan untuk menyelamatkan rumah tangganya? Sayangnya, tanya itu sebatas ada di kepala Mae.

Selang beberapa jam usai aksi pengeroyokan itu dialaminya, Mae pun melapor ke pihak kepolisian di Mapolres Bantaeng. Namun laporan itu hingga kini, Senin, 2 Maret 2020 belum mendapati titik terang.

"Alasannya, polisi juga menerima laporan balik dari mertuaku," katanya.

Dalam pelaporan balik itu, Mae dituduh melakukan perlawanan kepada ibu mertuanya. Namun Mae membantah melakukan tudingan itu. Dia tidak pernah melakukan perlawanan lantaran tangannya dipegang erat keluarga Aan.

Untuk membuktikan itu, polisi mencoba mendatangi kantor Pengadilan Agama Bantaeng untuk melihat rekaman kamera pengintai. Namun hal itu tidak ditemukan dengan alasan CCTV-nya disiarkan langsung.

"Katanya kamera CCTV live, jadi tidak menyimpan rekaman," tuturnya.

Kini, perempuan kelahiran 1990 itu mengaku pasrah dengan semua keputusan tindak lanjut proses mediasi di pengadilan maupun pelaporan dugaan penganiayaan di polisi. Tujuannya hanya satu, berjuang membesar tiga anaknya yang masih sangat kecil.

Terpisah, Paur Humas Polres Bantaeng Aipda Sandri Ershi mengatakan laporan dugaan penganiayaan Maemunah masih dalam tahap 1 atau penyidikan. Dalam waktu dekat, polisi akan segera menetapkan status tersangka.

"Secepatnya akan ada putusan siapa yang menjadi tersangka," katanya.

Proses penyidikan cukup memakan waktu sekira lebih dari dua minggu. Usai kejadian ribut di depan kantor pengadilan, Senin 10 Februari 2020 lalu, Maemunah juga dilaporkan balik oleh pihak lawan.

"Berdasarkan laporan yang diterima pada Senin malam, pelapor dapat tindak kekerasan dari Maemunah yang mengakibatkan dia luka-luka," kata Sandri.

Mengetahui hal tersebut, Mae hanya bisa menelan liur mengubur rasa pedih di hatinya. Ia memicingkan sudut-sudut matanya dan berbicara lirih perihal kepasrahan.

"Bagaimana mungkin saya melukai, sementara waktu itu saya hanya seorang diri, dijambak, dicakar, tangan kaki entah dipegang siapa, saya hanya meronta berusaha sedikit melawan karena rasanya benar-benar perih," katanya.

Ia kini benar-benar berharap bisa berlindung pada payung hukum. Setidaknya ia bisa memiliki sebuah jaminan rasa aman di manapun berada. Serangan mendadak yang ia terima teramat membuatnya trauma. []

Berita terkait
Kota Gaib dan Sosok Penyebab Kecelakaan di Bantaeng
Sosok gaib berbahaya di daerah rawan kecelakaan di Bantaeng itu berwujud seekor kerbau besar, sering menampakkan diri berbaring di tengah jalan
Pengakuan Istri Santang, Preman Sadis Yogyakarta
Inilah pengakuan istri Santang, preman Yogyakarta yang dikenal sadis. Mengaku selama dua bulan diteror musuh suaminya dengan bom molotov.
Sisi Gelap Pemangsa Anak Tiri di Dairi
Pria disabilitas di Dairi, melihat putri tirinya sebagai objek seksualitas. Dilakukan setahun sejak menikahi ibu si gadis.
0
Rapid Test, Ibu Hamil di Abdya Positif Corona
Seorang ibu hamil di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh berinisial RM diduga positif corona atau Covid-19 berdasarkan hasil rapid test.