UNTUK INDONESIA

Derita Industri UMKM di Bandung, Omzet Anjlok Akibat Pandemi

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut merasakan imbas pandemi Covid-19, omzet turun drasts hingga 50 persen.
Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut merasakan imbas pandemi Covid-19, omzet turun drasts hingga 50 persen. (Foto: Tagar|Grace Natalia Indah|Neti Wihartini).

Bandung - Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat. Hal itu turut dirasakan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Bandung, Jawa Barat.

Ateng Zaenali, pelaku UMKM produk olahan susu, Baranahan Barokah mengaku terkena pukulan pandemi. Pengusaha yang berlokasi di Jalan Narogtog, Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung ini mengalami penurunan pendapatan yang cukup drastis.

Menurutnya, omzet Baranah Barokah anjlok hingga 50 persen selama pandemi Covid-19. "Sebelum pandemi, omzet kami sekitar Rp 80 juta hingga Rp 90 juta per bulan, namun sekarang turun drastis," Atang saat dihubungi Tagar, Senin, 23 November 2020. Namun ia tak menjelaskan omzetnya sekarang.

Atang juga terpaksa mengurangi waktu produksi. “Dalam satu bulan pasti ada waktu sepuluh hari kita tidak produksi (libur), ini sudah berlangsung beberapa bulan belakangan ini,” tuturnya.

Atang ZaelaniAteng Zaenali, pelaku UMKM produk olahan susu, Baranahan Barokah.(Foto: Tagar|Grace Natalia Indah|Atang Zaelani).

Selama Maret hingga Mei 2020, ia mengaku sempat menutup total usaha produk olahan susu sehingga karyawan terpaksa diliburkan. Atang kembali membuka lagi usahanya beberapa hari sebelum Lebaran. Kini ia hanya memperkerjakan 18 karyawan lantaran sudah banyak yang diberhentikan dan keluar akibat hasil penjualan tidak mencukupi untuk biaya produksi sehingga perlu mengambil langkah efisiensi.

Untuk menyiasati penurunan penjualan, Atang terpaksa menaikkan harga jual sekitar satu persen lantaran biaya produksi juga naik. Namun, kenaikan itu hanya untuk beberapa item, seperti permen susu/ karamel, yogurt dan susu murni yang merupakan produk paling diminati pembeli.

Hal yang sama juga dialami Toto, pelaku UMKM pemilik toko oleh-oleh kas Pengalengan Lugina. Omzet usahanya juga turun 50 persen dibandingkan sebelum pandemi.

"Omzet kami turun karena wisatawan yang berkunjung ke Pangelengan turun drastis. Masyarakat tidak berani keluar takut tertular virus sehingga sepi pembeli," ucap Toto kepada Tagar.

Neti Wihartini yang juga membuka usaha oleh-oleh, Berkah juga mengatakan hal yang sama. Namun ia mengaku tak bisa berbuat-apa. Untuk menaikkan harga jual, Neti takut orang tidak mau membeli.

"Kalau harga dinaikkan, apalagi terlalu tinggi, semakin sepi pembeli," tutur Neti.

Meskipun ada program bantuan untuk UMKM yang terkena imbas pandemi, para pengusaha kecil tersebut mengaku tidak menerima bantuan. Ini lantaran jumlahnya yang dinilai sedikit dan persyaratan pengurusan perizinannya rumit.

"Saya tidak menerima bantuan (BLT) Rp 2,4 juta karena jumlahnya yang tidak sesuai dengan modal yang harus dikeluarkan. Bantuan itu hanya akan bertahan beberapa hari produksi saja," tutur Atang.

Menurutnya, bantuan pemerintah itu harus disesuaikan dengan kondisi perusahanan yang akan diberikan bantuan. "Kalau dikasih uang satu juta, bisa untuk memproduksi apa," katanya.

Ini membuat para pengusaha kecil di Bandung hanya mengandalkan modal untuk melanjutkan usahanya. []

(Grace Natalia Indah)

Berita terkait
Kuatkan Ekonomi, BI Sebut Digitalisasi Kunci Bangun UMKM
Bank Indonesia menilai digitalisasi menjadi kunci untuk mendorong UMKM lebih berkembang kedepannya.
Pradi Berpotensi Bawa UMKM Depok Lebih Maju dan Unggul
Pradi Supriatna sebagai Calon Wali Kota Depok berpotensi membawa pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Depok lebih maju dan unggul.
Google Berikan Bantuan Sebesar 155 Miliar ke UMKM Indonesia
Google mengumumkan komitmennya menginvestasikan US$ 11 juta (setara Rp 155 miliar) untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional Indonesia.
0
Derita Industri UMKM di Bandung, Omzet Anjlok Akibat Pandemi
Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut merasakan imbas pandemi Covid-19, omzet turun drasts hingga 50 persen.