UNTUK INDONESIA

Denny Siregar: Rizieq Shihab, Jokowi dan Arah Angin Pilpres 2024

Rizieq Shihab menjadi penentu kemenangan Anies Baswedan di Jakarta, akankah terulang dalam Pilpres 2024? Bagaimana faktor Jokowi? Denny Siregar.
Anies Baswedan dan Rizieq Shihab. (Foto: Tagar/Cokro TV)

Meski masih jauh, sekitar 4 tahun lagi, tapi Pilpres 2024 sudah menarik untuk kita bahas. Kenapa? Karena Pilpres 2024 sudah tidak ada lagi petahana, di sana ruang kosong tercipta, semua punya kesempatan yang sama besarnya dan sama kecilnya. Jokowi juga sudah selesai periodenya, dan penggantinya pun sudah mulai disiapkan. Gerakan-gerakan untuk mengarah ke sana sudah mulai terlihat, terutama dari pihak oposisi yang sudah dua periode kalah dari Jokowi.

Gerindra sudah pasti ingin memanfaatkan situasi ini, karena cita-cita mereka dalam dua periode untuk mengangkat Prabowo menjadi Presiden belum kesampaian. Meski akhirnya Jokowi memberi kesempatan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan, tapi bukan itu tujuan utama Gerindra. Maka Gerindra tetap main dua kaki. Satu sisi seperti membela Jokowi, dengan Prabowo sebagai pembelanya. Dan di sisi lain memainkan Fadli Zon untuk merangkul oposisi. Mungkin Gerindra beranggapan, dengan sikap begini ini mereka akan meraup pendukung yang lebih banyak lagi.

Tapi Gerindra lupa bahwa ada perhitungan tak terduga bahwa mereka bisa saja dianggap oportunis dan plin-plan. Dan itu terlihat dari ditinggalnya Gerindra oleh para kelompok agama garis keras yang kemudian mencacinya, sesudah dulu mengangkatnya sebagai pahlawan. Sikap Gerindra yang main dua kaki ini bisa malah membuat mereka tidak mendapat apa-apa, atau malah merosot seperti Demokrat sekarang. 

Demokrat seperti biasa, enggak punya pilihan lain selain terus-menerus mengangkat AHY ke permukaan, meski nama dia belum laku dijual. Ya bagaimana lagi. AHY hanya dikenal sebagai "anak bapak", pimpinan partai warisan tapi tidak ada prestasi di dalam pemerintahan. Akhirnya modal AHY cuma baliho-baliho besar, meski efeknya jelas enggak berimbang.

Kelompok oposisi juga sudah mulai melirik beberapa pemain non-partai seperti Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI. Gatot mencoba memoles dirinya sebagai calon yang bisa dilamar nanti, dengan membentuk Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia atau KAMI. Dengan KAMI, Gatot berharap ia punya kendaraan nanti di Pilpres 2024 karena namanya akan terus muncul dalam deklarasi-deklarasi. Tapi sayang disayang, dalam survei Indikator, nama Gatot jauh di bawah nama-nama lain yang lebih dikenal. Apalagi beberapa personel KAMI berurusan dengan aparat karena terlibat penyebaran hoaks waktu kerusuhan Omnibus Law.

 Jokowi sebagai presiden sekarang masih punya pengaruh besar di mata pendukungnya. Dia masih dianggap kompas, penentu arah, siapa calon yang didukungnya.

Nama lain yang menarik dari nonpartai adalah Anies Baswedan, Gubernur DKI. Anies seperti kita tahu, dia punya ambisi pribadi untuk menjadi presiden di Indonesia. Jejaknya terlihat waktu dia ikut konvensi calon presiden di Partai Demokrat pada 2013. Tapi dia gagal. Ya jelaslah gagal, karena Demokrat tidak punya calon lain selain dari keluarga mereka sendiri. Meski begitu, Anies punya potensi. Dia berhasil menjadi Gubernur DKI karena kedekatannya dengan beberapa ormas Islam di Jakarta. Dan situasi itu akan dia ulangi lagi, karena jelas menguntungkan buat dia secara pribadi.

Anies Baswedan mengincar Pilkada 2022 di Jakarta. Sebagai informasi, Pilkada 2022 menurut UU itu tidak ada. Semua akan digabungka pada 2024 atau pilkada serentak. Dan ini jelas tidak menguntungkan Anies. Kalau tahun 2022 masa jabatan dia sebagai gubernur habis, maka selama dua tahun dia akan jadi warga biasa, tidak punya panggung lagi. Nama Anies bisa menghilang dari percaturan nasional. Jangankan jadi calon presiden, mimpi jadi calon gubernur untuk kedua kali juga bisa hilang. Bisa jadi malah kursi gubernur nanti pada 2024 direbut Giring mantan penyanyi Nidji, Ketua Umum PSI yang sekarang memainkan musik dengan mencalonkan diri menjadi calon presiden.

Karena itu segala cara harus dilakukan tim Anies supaya Pilkada 2022 harus digelar. Karena kalau 2022 jadi pilkada, dan Anies menang jadi gubernur lagi, maka tiket menuju capres 2024 bisa ada di tangan. Partai-partai bisa melamar dia. Mirip seperti Jokowi. Karena itu Anies harus dipoles dengan baik. Langkah pertama, ajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terhadap UU Pilkada serentak. Kalau gugatan dimenangkan di MK, maka Pilkada 2022 akan kembali digelar dan potensi kemenangan Anies Baswedan akan semakin besar.

Langkah kedua, nah ini, datanglah Rizieq Shihab dari Saudi. Rizieq suka atau tidak, adalah faktor penentu kemenangan Anies Baswedan di Jakarta. Dan kartu Rizieq harus kembali dimainkan supaya bisa meraup banyak suara. Itulah kenapa, saat Rizieq pulang, Anies pun sowan ke rumahnya. Meski sebenarnya lucu, kok bisa ya kepala daerah sowan ke pimpinan ormas. Wibawanya jadi hilang, karena berasa Jakarta jadi tunduk pada ormas agama. Apakah Pilkada 2022 jadi digelar dan Anies bisa melenggang sebagai petahan dengan Rizieq sebgai peraup suara? Kita lihat nant apa yang terjadi.

Sementara itu PDIP juga sudah siap kalau akhirnya Pilkada 2022 jadi digelar. Risma bisa didatangkan untuk jadi lawan tangguh menjegal langkah Anies di Jakarta. Pertarungan akan sengit dan isu agama sudah pasti dimainkan. "Jangan pilih pemimpin wanita!" adalah jargon yang sudah disiapkan, lengkap dengan ayat dan hadisnya. Kalau pola begituan sudah pasti PKS lah jagonya.

PDIP sendiri untuk Pilpres 2024 masih gamang. Nama Ganjar Pranowo terus menjulang, ada di bawah nama Prabowo dan terus naik ke atas. Ini bisa berarti berkah buat PDIP atau malah cilaka. Ya, Ganjar memang kader PDIP tapi PDIP ingin mencalonkan Puan Maharani sebagai trah Soekano. 

Meski sampai sekarang nama Puan masih belum bisa dijual. Cuma, kalau misalnya nama Ganjar ada di posisi teratas dan dia dibuang oleh PDIP karena lebih ingin mencalonkan Puan, ini juga bisa jadi blunder besar. Ganjar bisa diambil partai lain yang mengincar kemenangan besar dan capek hanya menjadi pengusung melulu dan ingin menjadi pemain penentu kemenangan, seperti Partai NasDem.

Rizieq suka atau tidak, adalah faktor penentu kemenangan Anies Baswedan di Jakarta. Dan kartu Rizieq harus kembali dimainkan supaya bisa meraup banyak suara.

Partai NasDem dengan komandan berciri khas berewok seperti Surya Paloh, pasti mengincar kemenangan. Surya Paloh adalah pemain lama di dunia politik dan ambisinya ingin membuat NasDem besar, sebesar PDIP sekarang. Karena itu ia sedang mengutak-atik siapa yang bisa dia calonkan nanti dan ingin NasDem menjaid penentu, bukan lagi partai pengusung seperti yang sekarang-sekarang.

Dari analisa di atas, saya bisa berikan beberapa poin sebagai bahan analisa. Yang pertama, Jokowi sebagai presiden sekarang masih punya pengaruh besar di mata pendukungnya. Dia masih dianggap kompas, penentu arah, siapa calon yang didukungnya. Itu juga dengan catatan bagaimana kiprah Jokowi pada masa sisa kepemimpinannya sekarang ini. 

Kelemahan Jokowi adalah terhadap pemberantasan radikalisme dan intoleransi. Di sisi ini Jokowi terlihat gamang dan ingin merangkul semua pihak. Ini jelas berbahaya karena banyak pendukung Jokowi dari pihak minoritas. Mereka bisa saja meninggalkan Jokowi karena dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah besar di Indonesia. Meski prestasinya dalam pembangunan dan ekonomi berkibar, tapi kaena masalah radikalisme ini, Jokowi bisa jadi tidak dianggap sebagai penentu lagi. 

Poin kedua, Pilpres 2024 punya potensi menjadi pilpres paling brutal. Isu agama akan kembali dimainkan dan mungkin skalanya akan tinggi. HTI sebagai organisasi yang sudah dibubarkan pada masa Jokowi, akan menggerakkan pendukungnya secara masif supaya mereka bisa eksis lagi. Selain itu, isu "China" akan kembali mendominasi, akibat dari situasi geopolitik pertarungan Amerika dan China berebut pengaruh sebagai negara superpower. Isu China dan komunis bahkan sudah dikeluarkan Menteri Luar Negeri Amerika pada masa Trump, Mike Pompeo, waktu berkunjung ke Indonesia.

Amerika juga punya keinginan kuat untuk membangun pangkalan militer di sini, karena ingin menancapkan pengaruh besarnya. Apa yang terjadi sekarang adalah jejak kita ke depan. Siap-siap saja. Semakin ekonomi Indonesia berkibar, anginnya juga akan semakin kencang. Semoga akar-akar kita akan tetap bertumpu kuat, supaya negeri ini tidak jatuh dalam kerusuhan antar-saudara sebangsa.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Berita terkait
Ade Armando Analisis Skandal Rizieq Shihab dan Firza Husein
Opini Dosen Universitas Indonesia Ade Armando terkait dugaan skandal yang melibatkan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab dengan Firza Husein.
Anggap Rizieq Shihab Tukang Obat, Nikita Mirzani Bakal Dikasuskan
Habib Alwi menyarankan, apabila tidak ingin dilaporkan ke polisi, sebaiknya artis Nikita Mirzani meminta maaf ke Habib Rizieq Shihab.
Rizieq Teriak Revolusi Berdarah, FH: Merasa Benar Sendiri
Ferdinand Hutahaean menanggapi teriakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) soal revolusi berdarah dan bom waktu.
0
Denny Siregar: Rizieq Shihab, Jokowi dan Arah Angin Pilpres 2024
Rizieq Shihab menjadi penentu kemenangan Anies Baswedan di Jakarta, akankah terulang dalam Pilpres 2024? Bagaimana faktor Jokowi? Denny Siregar.