Oleh: Denny Siregar*

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, meski sama-sama mengusung khilafah, sebenarnya konsep perjuangan antara Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin sangat berbeda.

Kalau Ikhwanul Muslimin menempuh perjalanannya melalui jalur politik resmi, seperti melalui PKS. Sedangkan Hizbut Tahrir mengharamkan proses demokrasi, termasuk pemilu.

Dalam sejarahnya, anggota Hizbut Tahrir selalu golput, apa pun alasannya. Mereka bergerak dengan cara berbeda, melalui infiltrasi atau penyusupan ke badan-badan strategis seperti dunia pendidikan dan aparat militer.

Tetapi Pilpres 2019 sangat berbeda bagi Hizbut Tahrir Indonesia. Mereka merasa terancam oleh keberadaan Jokowi sesudah ia membubarkan organisasi berbahaya itu pada tahun 2017.

Oleh karena itu mereka menerapkan strategi siasat politik, atau mengikuti pola demokrasi untuk mencapai tujuan. Salah satu jalannya supaya tetap survive adalah dengan mengikuti pencoblosan.

Pertanyaannya, ke mana suara anggota HTI yang diperkirakan berjumlah 2 sampai 3 juta orang itu disalurkan?

Itulah kenapa suara PKS berdasarkan quick count naik menjadi 8 persen. Padahal sebelumnya banyak yang memperkirakan PKS tidak akan bisa lolos ke Senayan dalam Pemilu kali ini. Bagi PKS, 3 juta suara anggota HTI sangat signifikan untuk menaikkan suara mereka.

Dalam sejarahnya, sebelum ada Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin berdiri terlebih dulu. Nah, di dalam IM ini ada organisasi rahasia yang disebut Tandhimul Jihad. Di Tandhimul Jihad ada seorang yang bernama Taqiudin Alnabani. Dialah pendiri Hizbut Tahrir. Jadi bisa dibilang, Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin itu berasal dari rahim satu ibu.

Ada kemungkinan, sebagai bagian dari siasat, Hizbut Tahrir melakukan bargaining dengan PKS, sebagai salah satu sayap Ikhwanul Muslimin, untuk bergerak bersama mencapai satu tujuan.

PKS jelas setuju, karena mereka butuh suara besar supaya lolos Parliamentary Threshold yang menetapkan syarat minimal 4 persen suara. PKS sendiri sebelumnya terancama tidak lolos berdasarkan hasil-hasil survei karena mereka digerogoti dari dalam oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta yang membentuk organisasi bernama Garbi.

Maka jadilah "tumbu ketemu tutup" antara HTI dan PKS. Simbiosis mutualisma. Perbedaan pandangan di antara mereka disingkirkan dulu, demi mencapai tujuan bersama.

Itulah kenapa suara PKS berdasarkan quick count naik menjadi 8 persen. Padahal sebelumnya banyak yang memperkirakan PKS tidak akan bisa lolos ke Senayan dalam Pemilu kali ini. Bagi PKS, 3 juta suara anggota HTI sangat signifikan untuk menaikkan suara mereka.

Sebelumnya HTI sendiri mengumumkan suara mereka akan disalurkan ke PBB, partainya Yusril Ihza Mahendra. Tapi karena sang pengacara mendukung Jokowi, maka membelotlah mereka mencari inang lain untuk pertumbuhan organisasi.

Hizbut Tahrir Indonesia boleh saja dibubarkan, tetapi ideologi mereka tidak mati. Sel-sel mereka terus bergerak, beradaptasi dengan keadaan, sambil menunggu waktunya untuk memakan.

Itulah kenapa di beberapa negara seperti di Mesir, pentolan Hizbut Tahrir ditangkapi bahkan dihukum mati karena ideologi yang mereka bawa mengancam keutuhan negara.

Peperangan kita menjaga negeri masih panjang, meski Jokowi sudah menang. Secangkir kopi tidak akan cukup diseruput, karena jaringan Hizbut Tahrir di negeri ini sudah berakar sangat dalam.

Seruput....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: